Rencana itu disusun selama tiga malam di meja Bu Sri, dan setiap orang punya bagian, karena Tari sudah belajar bahwa apa pun yang dipikul sendirian akan dimakan.
Yusuf mengurus jalur resmi. Ia tak bisa membawa pasukan polisi atas dasar "ada hantu di ponsel"; tak ada atasan yang akan menandatangani itu. Tapi ia bisa membawa sesuatu yang lebih membumi. Selama berminggu-minggu ia diam-diam mengumpulkan bukti bahwa gudang itu menampung barang elektronik tanpa surat, ponsel-ponsel curian, dan stok yang melanggar aturan barang bekas impor. Itu cukup untuk pemeriksaan administratif. Itu cukup untuk membuat pintu gudang terbuka secara sah, walau alasan resmi di kertas tak ada hubungannya dengan alasan sebenarnya mereka datang.
Dimas mengurus benda. Ia membuat daftar ciri fisik yang harus mereka cari: layar retak dari pojok kanan atas dengan pola sarang laba-laba, bekas aus setengah lingkaran di lubang charger. Ia menyiapkan kotak-kotak berisi kantong aluminium, kantong yang biasa dipakai untuk melindungi alat elektronik dari sinyal, karena teorinya, kalau benda itu menyala lewat sinyal dari tempat tak bersinyal, mungkin membungkusnya bisa membuatnya tuli sementara. Ia tidak yakin itu berhasil. Tapi mencoba lebih baik daripada tidak.
Sekar mengurus daftar. Ia, yang dulu nyaris jadi korban, kini menjadi yang paling teliti mencatat. Ia membuat daftar nama tiap orang yang akan masuk gudang, dan aturannya sederhana dan keras: setiap dua orang harus saling melihat sepanjang waktu, dan setiap lima menit, lewat radio, mereka harus menyebut nama satu sama lain dengan suara keras. Tidak ada yang boleh masuk ruangan sendirian. Tidak ada yang boleh diam lebih dari lima menit. Aturan rumah terang, dipindahkan ke medan musuh.
Bu Sri mengurus yang tak terlihat. "Kalian akan masuk ke tempat paling gelap dan paling sepi yang pernah kalian datangi," katanya pada malam terakhir, sambil menuang teh untuk semua. "Bukan gelap karena nggak ada lampu. Gelap karena di sanalah dia paling kenyang selama ini. Bertahun-tahun dia minum dari tempat itu. Jadi dengarkan Ibu. Apa pun yang kalian dengar di dalam, apa pun yang dia bisikkan, langsung katakan ke yang di sebelah kalian. Jangan ditelan. Jangan dipikir sendiri. Bisikan yang dibagi kehilangan racunnya." Ia menatap Tari lama. "Dan Nduk, kamu yang paling dia incar. Kamu jangan sekali pun lepas dari pandangan Dimas atau Yusuf. Sekali pun."
Tari mengangguk. Ia memikirkan malam di etalase, betapa dekat ia tergelincir, dan ia tidak ingin merasakan tarikan itu lagi.
Mereka berangkat saat fajar belum naik, sebelum pasar bangun, agar pekerja gudang belum datang. Tiga mobil. Yusuf di depan dengan dua rekan polisinya yang ia percaya, membawa surat pemeriksaan. Dimas dan Tari di mobil kedua dengan kotak-kotak kantong aluminium. Sekar dan dua relawan grup di mobil ketiga dengan radio dan lampu senter besar, banyak sekali lampu, karena mereka belajar dari pengalaman bahwa cahaya adalah senjata.
Gudang itu sebuah bangunan rendah dari seng dan beton di belakang pasar, terhimpit di antara tempat parkir truk dan saluran air yang menghitam. Pintu besinya berkarat, digembok rantai. Yusuf mengetuk, menyebut keperluan resmi, dan ketika tak ada jawaban setelah waktu yang wajar, ia memerintahkan gembok dipotong. Rantai jatuh berdentang ke beton, suara yang terlalu keras di subuh yang sunyi. Pintu terbuka dengan jeritan engsel.
Bau yang keluar dari dalam membuat Tari mundur selangkah. Bukan bau busuk. Bau besi tua, plastik, dan sesuatu yang dingin dan kering, bau gudang yang tak pernah dimasuki cahaya matahari. Di balik pintu, dalam gelap yang pekat, samar-samar terlihat rak demi rak logam, dan di rak-rak itu, tumpukan ponsel. Ratusan. Ribuan. Mati semua, dingin semua, dan menunggu.
Tari menyalakan senternya. Berkas cahaya menyapu rak terdekat, dan di sana, di antara tumpukan ponsel mati, ia melihatnya. Sebuah meja kerja tua dengan colokan ganda yang gosong di tepinya, kabel-kabel charger menggantung seperti akar, dan satu stop kontak di dinding yang dindingnya menghitam di sekelilingnya, seperti bekas terbakar yang tak pernah benar-benar terbakar.
"Itu dia," bisik Dimas di sampingnya, suaranya tercekat. "Colokannya. Lehernya."
Saat itulah, di seluruh gudang sekaligus, dengan suara halus seperti embusan napas, ribuan layar mulai menyala.