Cahaya hijau pucat membanjir dari rak-rak gudang seperti air bah, dan sebelum siapa pun sempat bicara, listrik gudang itu mati.
Bukan listrik dari luar. Senter Tari masih menyala, lampu-lampu yang dibawa Sekar masih menyala. Tapi entah dari mana, sebuah sakelar diputuskan di dalam, dan satu-satunya lampu gudang yang Yusuf sempat nyalakan di dekat pintu, padam. Pintu besi di belakang mereka, yang tadi mereka biarkan terbuka, mengayun dengan jeritan engsel dan menutup, dan dalam sekejap satu-satunya cahaya di tempat itu adalah berkas-berkas senter mereka dan lautan hijau pucat dari ribuan layar yang kini menyala penuh, semuanya menampilkan satu kontak, satu nama.
"Tetap di pasangan!" teriak Yusuf, suaranya menggelegar. "Sebut nama! Sekarang!"
"Dimas!" Tari berteriak, mencengkeram lengan Dimas.
"Tari!" balas Dimas, mencengkeram balik.
"Sekar! Aku sama Rizal!"
"Rizal! Aku sama Sekar!"
Nama demi nama saling dilempar dalam gelap, jangkar-jangkar suara yang menahan mereka tetap berlabuh. Tapi entitas itu, yang bertahun-tahun makan dari tempat ini, tahu cara memutus tali. Dari ribuan layar, suaranya datang, tapi kali ini tidak menyebut nama Tari. Kali ini ia berbisik berbeda pada tiap orang, suara yang hanya bisa didengar oleh yang dituju, racun yang dijahit khusus untuk tiap luka.
Tari mendengarnya. Suaranya sendiri, lembut, di telinga kirinya: Dimas tidak benar-benar percaya padamu, Tari. Dia tetap di sini karena penasaran sama mesin, bukan karena peduli sama kamu. Lihat caranya menatapmu, seperti melihat soal yang belum terpecahkan. Kalau kamu mati di sini, dia akan menjadikanmu data.
Tari membeku selama satu detik. Lalu ia ingat aturan Bu Sri, dan ia membuka mulut, dan ia berkata keras-keras, suaranya bergema di gudang, "Dia bilang ke aku kamu nggak peduli! Dia bilang kamu cuma penasaran sama mesin!"
Dimas, di sebelahnya, tertawa pendek, tawa yang gemetar tapi nyata. "Dia bilang ke aku kamu nganggap aku beban, Tari! Katanya kamu cuma butuh tukang servis, bukan teman!" Ia mengencangkan cengkeramannya. "Bohong. Dua-duanya bohong. Dia ngomong yang sama ke semua orang."
Dan di seluruh gudang, dalam gelap, mereka mulai melakukannya. Tiap bisikan rahasia yang dijahit untuk memecah mereka, mereka teriakkan keras-keras pada pasangannya. Dia bilang Yusuf akan melaporkan kita semua biar dia naik pangkat. Dia bilang Sekar masih ngutang nyawa dan kita semua tahu itu dan diam-diam nyalahin dia. Dia bilang Rizal cuma relawan karena kesepian dan nggak ada yang bakal nyari kalau dia hilang. Tiap rahasia, begitu diucapkan keras, kehilangan giginya, berubah dari pisau jadi kertas. Entitas itu telah mempertajam tiap bilah untuk satu telinga, tapi ketika bilah itu diteriakkan ke seluruh ruangan, ia jadi tumpul, jelas sebagai kebohongan, sama bagi semua.
Suara hijau pucat itu, yang begitu yakin, mulai berubah. Mengeras. Marah. Kalian merusak perjamuanku, kata seribu suara serempak, dan untuk pertama kali ada sesuatu seperti kepanikan dalam nada itu. Tempat ini milikku. Aku sudah makan di sini sebelum kalian lahir.
"Dimas, ke meja colokan," kata Tari, suaranya mantap kini. "Yusuf, jaga pintu, buka lagi! Sekar, lampu! Semua lampu ke rak tengah!"
Mereka bergerak sebagai satu tubuh dalam gelap, terikat oleh nama yang terus mereka serukan. Sekar dan Rizal mengangkat lampu-lampu besar dan menyalakannya satu per satu, dan tiap kali sebuah lampu menyala, sebagian rak terendam cahaya putih yang jujur, dan di bawah cahaya putih itu, layar-layar hijau pucat memudar, kehilangan kuasanya, menjadi sekadar ponsel rusak murahan di rak gudang. Yusuf menghantam pintu besi sampai engselnya menyerah dan fajar abu-abu yang baru lahir menyusup masuk, dan dengan tiap meter cahaya yang merangkak ke dalam, gudang itu menyusut dari sarang menjadi sekadar gudang.
Tari dan Dimas mencapai meja colokan. Dimas mencabut colokan ganda dari stop kontak yang gosong, memutus aliran, dan untuk sesaat seluruh gudang seakan menahan napas. Lalu, satu per satu, mulai dari rak terjauh, layar-layar itu padam.