Mereka tidak menang dengan kekerasan. Mereka menang dengan tidak pernah membiarkan satu pun dari mereka menjadi sendirian, bahkan untuk satu tarikan napas.
Setelah colokan dicabut dan pintu dibuka lebar, fajar mengalir penuh ke dalam gudang, dan tempat itu kehilangan keangkerannya seperti mimpi buruk yang luntur saat bangun. Yang tersisa hanyalah ruang pengap berbau besi, rak-rak logam berkarat, dan tumpukan demi tumpukan ponsel mati. Banyak sekali. Lebih banyak dari yang bisa Tari bayangkan. Dan di antara ribuan ponsel biasa itu, mereka harus menemukan yang terkutuk, yang berlayar retak pojok kanan atas, yang berbekas aus setengah lingkaran.
Mereka bekerja berpasangan, persis aturan Sekar. Satu memeriksa, satu mengawasi dan mencatat. Setiap lima menit, radio Yusuf berkrosak dan suara-suara menyebut nama, daftar absen kecil yang berulang, memastikan tak ada satu jiwa pun yang tertelan kesunyian di antara rak-rak. Tari berpasangan dengan Dimas. Mereka menyusuri rak demi rak dengan senter dan sarung tangan, dan tiap kali Dimas menemukan unit dengan ciri yang cocok, ia mengangkatnya, menunjukkannya pada Tari, menyebut nomor seri keras-keras agar Sekar mencatat, lalu memasukkannya ke kantong aluminium dan menyegelnya.
"Satu lagi," kata Dimas, mengangkat ponsel keempat puluh sekian. Tangannya sudah hitam oleh debu. "Tari, lihat. Retak pojok kanan atas. Aus setengah lingkaran." Ia membaliknya. "Dia masih hangat. Padahal nggak dicolok."
Tari menyentuhnya dengan ujung jari. Dingin di permukaan, tapi ada kehangatan samar di dalam, seperti binatang kecil yang tidur dengan jantung yang masih berdetak. Ia menariknya kembali. "Bungkus," katanya. "Jangan tatap layarnya."
Mereka bekerja berjam-jam. Matahari naik di luar dan pasar mulai bangun, dan pekerja gudang yang akhirnya datang ditahan oleh rekan Yusuf di pintu, bingung dan marah, sambil dimintai keterangan administratif yang menjadi alasan resmi semua ini. Tari hampir merasa kasihan pada mereka. Sebagian besar mungkin tak tahu apa-apa, sama seperti Heru, sama seperti pamannya, tangan-tangan polos dalam rantai yang lebih panjang dari mereka.
Beberapa kali, di sela-sela kerja, entitas mencoba kembali. Sebuah ponsel di kantong yang sudah disegel berdengung pelan. Sebuah bisikan, lebih lemah sekarang dalam cahaya pagi, mencoba menyusup. Tiap kali, siapa pun yang mendengarnya langsung berseru pada yang lain, dan bisikan itu padam sebelum sempat berakar. Mereka telah menjadi satu organisme yang saling menyalakan, dan organisme itu tak punya bagian yang gelap untuk dihinggapi.
Pernah, di antara rak paling jauh, salah satu relawan, Rizal, diam terlalu lama. Sekar yang menyadarinya lebih dulu. "Rizal," panggilnya, dan tak ada jawaban, dan ia memanggil lagi, lebih keras, "Rizal!" Tari dan Dimas berhenti, dan untuk sesaat seluruh gudang membeku dalam ketegangan yang dingin. Lalu suara Rizal datang dari balik rak, parau, "Aku di sini. Maaf. Dia ngajak ngomong soal adikku. Dia tahu adikku." Mereka mendekatinya bersama, mengelilinginya, dan menyuruhnya menceritakan apa yang dibisikkan, dan begitu ia mengucapkannya keras-keras, kalimat soal adiknya yang seharusnya menusuk itu, melemah jadi sekadar kebohongan yang dingin. Tari menepuk bahu pemuda itu. "Jangan pisah dari pandangan. Walau cuma ngambil ponsel di rak belakang. Kita bukan lagi orang-orang yang sendirian." Rizal mengangguk, malu, lalu kembali bekerja, kini selalu dalam jangkauan tangan yang lain. Mereka telah belajar bahwa celah sekecil apa pun, satu menit hening saja, cukup untuk membuka pintu.
Menjelang siang, mereka selesai. Seratus tujuh puluh tiga unit. Itu jumlah yang Sekar catat, dengan tangan yang gemetar di akhir. Seratus tujuh puluh tiga ponsel layar retak, terkumpul dalam puluhan kantong aluminium tersegel, ditumpuk dalam kardus-kardus yang dimuat ke mobil polisi untuk dibawa ke pos sebagai barang bukti pemeriksaan barang ilegal.
Tari berdiri di pintu gudang yang kini terang benderang, memandang ke dalam ruang yang sudah kosong dari taringnya. Ia merasa lelah sampai ke tulang, tapi ada sesuatu yang lain juga, sesuatu yang nyaris ia lupa rasanya. Bukan kemenangan, ia sudah belajar untuk tak mempercayai kata itu. Tapi sebuah pijakan. Untuk pertama kali, mereka tidak menyelamatkan satu orang. Mereka memotong sepotong rel.
Dimas berdiri di sampingnya, menyeka keringat dengan punggung tangan yang kotor. "Kamu sadar nggak," katanya pelan, "ini belum selesai, kan? Tujuh belas ribu ponsel bekas dijual di kota ini tiap bulan. Kita ambil seratus tujuh puluh tiga."
"Aku tahu," kata Tari. Ia memandang kardus-kardus tersegel itu dimuat satu per satu. "Tapi dulu kita cuma bisa ngomong ke satu orang biar dia nggak loncat. Sekarang kita bisa mindahin ratusan sekaligus." Ia menarik napas. "Kita belajar. Pelan, tapi belajar."