Seratus tujuh puluh tiga ponsel teronggok dalam satu ruang penyimpanan barang bukti di pos polisi, dan Tari berdiri menatapnya dengan perasaan yang tak punya nama.
Yusuf telah menatanya di rak-rak besi di ruang belakang pos, masih dalam kantong aluminium, masih tersegel, semua mati, semua dingin. Cahaya neon putih di langit-langit menyala dua puluh empat jam, dan pos itu tak pernah benar-benar sepi; selalu ada petugas jaga, selalu ada suara radio, selalu ada orang lewat. Tempat yang terang dan ramai. Tempat yang, secara teori, paling buruk untuk lapar yang hidup dari gelap dan sunyi. Yusuf telah memilihnya dengan sengaja, dan Tari menghargai itu.
Tapi menatap tumpukan itu, Tari tidak merasa aman. Ia merasakan sesuatu yang lebih tua dan lebih jujur: kesia-siaan yang akrab.
"Kita nggak bisa lebur semuanya, kan," kata Sekar, berdiri di sampingnya. Suaranya pelan. Ia telah banyak berubah sejak malam di tepi lantai tiga itu; ada ketenangan baru di wajahnya, ketenangan orang yang sudah melihat tepian dan memilih mundur. "Kayak yang Mbak ceritain. Yang dulu Mbak lebur cuma satu, terus dia balik di yang lain."
Tari mengangguk lambat. "Melebur benda nggak pernah cukup. Aku udah belajar itu di kamar kos yang pertama." Ia menyentuh salah satu kantong, merasakan bentuk keras ponsel di dalamnya melalui aluminium. "Dia nggak ada di benda ini. Dia cuma numpang. Kita lebur seratus tujuh puluh tiga ini, dia pindah ke layar berikutnya yang ada di luar sana. Di kios mana pun, di gudang mana pun, di lapak online mana pun. Bendanya cuma baju."
Dimas, yang sedang memeriksa satu unit di bawah lampu meja, menengadah. "Tapi melebur tetap perlu," katanya. "Bukan buat bunuh dia. Buat motong jumlah baju yang dia punya. Tiap unit yang kita lebur, satu tangan kesepian yang nggak akan pernah beli yang ini. Kita nggak bisa bikin dia kelaparan dengan ngilangin bendanya. Tapi kita bisa bikin dia lebih lapar dengan ngurangin meja makannya." Ia kembali menatap ponsel di tangannya. "Aku cuma mau ngerti dulu satu hal sebelum kita lebur semua. Aku mau tahu apa bedanya yang terkutuk sama yang enggak. Kenapa cuma sebagian."
Mereka melebur sebagian, hari itu, di bengkel las yang sama tempat dulu Tari melebur ponsel pertamanya, disaksikan Bu Sri yang kini lebih tua dan lebih lelah tapi masih hadir, masih menjadi jangkar. Satu per satu kantong dibuka di bawah lampu terang, ponsel dikeluarkan dengan penjepit, tidak ada yang menatap layarnya, dan dimasukkan ke tungku. Kaca dan logam dan baterai meleleh menjadi gumpalan yang tak berbentuk lagi. Asap pahit naik ke cerobong. Tari memperhatikan, dan untuk tiap ponsel yang meleleh, ia membayangkan satu tangan kesepian di suatu tempat yang tidak akan pernah membelinya, satu Rani yang tidak akan pernah dimulai.
Tapi mereka menyisakan sepuluh unit. Dimas memintanya, untuk dipelajari, untuk dimengerti, di bawah aturan ketat: disimpan dalam kantong tersegel, hanya dibuka di pos yang terang dan ramai, tak pernah ditatap sendirian. Yusuf setuju dengan berat hati. Tari setuju karena ia tahu, untuk mengalahkan sesuatu, kau harus lebih dulu memahaminya, dan mereka masih terlalu sedikit mengerti.
Malam itu, di pos yang terang, di bawah neon yang tak pernah padam, salah satu dari sepuluh ponsel yang disisihkan itu menyala dalam kantong tersegelnya. Petugas jaga melihatnya, memanggil, dan Yusuf menelepon Tari. Mereka membukanya bersama, di tengah pos yang penuh orang, dan di layar retak itu ada satu pesan, bukan untuk Tari, melainkan untuk mereka semua.
Kalian pikir mengumpulkan baju-bajuku membuatku lapar. Tapi aku tidak butuh baju yang ini. Aku hanya butuh gelap, dan sepi, dan satu orang yang berpikir tak ada yang mendengarnya. Itu ada di mana-mana, di kota ini. Kalian baru saja menumpuk sebagian kecil dari pakaianku di satu ruangan terang. Terima kasih sudah merapikannya. Aku pakai yang lain.
Tari membaca pesan itu keras-keras, seperti selalu, dan suara hidup di pos menelannya. Tapi malam itu, untuk pertama kali sejak gudang, ia tak bisa tidur, karena ia tahu pesan itu benar.