Telepon dari Sekar datang pukul dua dini hari, dan begitu Tari mendengar suara di seberang, ia tahu musuhnya baru saja membuktikan ucapan terakhirnya.
"Mbak," kata Sekar, dan suaranya bukan panik, justru itu yang membuat Tari terjaga penuh. Suaranya datar, jauh, suara orang yang mendengarkan sesuatu sambil bicara. "Ponselku ngomong lagi."
Tari sudah berdiri sebelum sadar ia bangun. "Ponsel yang mana, Sekar. Yang lama udah kita lebur."
"Ini ponselku yang baru. Yang Mbak Tari sendiri yang beliin buat aku. Layarnya nggak retak. Baru. Beli di toko resmi." Hening sebentar di seberang, hening yang berisi sesuatu yang mendengarkan. "Tapi dia ada di sini, Mbak. Sama persis. Kontak namanya aku. Suaranya sama."
Tari merasa lantai seperti ditarik dari bawah kakinya, sensasi yang sama persis seperti pagi Pak Hardi mati, sensasi yang ia kira sudah ia tinggalkan bertahun lalu. Ponsel baru. Layar utuh. Toko resmi. Tak ada layar retak, tak ada bekas aus, tak ada gudang, tak ada Heru, tak ada rantai pasar bekas. Semua teori yang mereka susun di meja Bu Sri, semua peta titik merah Dimas, semua kerja keras menyita seratus tujuh puluh tiga unit, semuanya dibangun di atas anggapan bahwa benda itu butuh baju khusus. Layar retak. Pasar bekas. Lima puluh ribu.
Anggapan itu baru saja patah di telinga Sekar.
"Sekar, dengar aku," kata Tari, sudah mengenakan jaket, sudah menelepon Yusuf di saluran lain, sudah membangunkan seluruh grup dengan ibu jari yang lain. "Jangan tutup teleponku. Jangan dengarkan dia. Cerita ke aku terus, apa pun. Aku ke kosmu sekarang, sama Dimas, sama Yusuf. Kamu nggak sendirian. Ngomong terus, Sekar."
Ia berlari ke jalan, dan di sepanjang perjalanan ia memikirkan apa artinya ini, dan tiap pikiran lebih buruk dari yang sebelumnya. Selama ini ia membayangkan musuhnya sebagai sebuah rantai pasokan: gudang, colokan, kios, ponsel murah berlayar retak. Ia membayangkan kalau ia memotong cukup banyak rel, kereta itu akan berhenti. Tapi kalau benda itu bisa menyala di ponsel baru, di layar utuh, di benda yang dibeli di toko resmi tanpa pernah lewat gudang mana pun, maka tak ada rel untuk dipotong. Tak ada leher botol untuk dicekik. Tak ada gudang yang bisa disita untuk membuatnya kelaparan.
Yang ia butuhkan bukan layar retak. Layar retak hanya undangan termurah, pintu termudah, baju paling lapuk. Yang ia butuhkan sebenarnya cuma dua hal, dan dua hal itu tak bisa disita ke pos polisi atau dilebur di bengkel las.
Gelap. Dan sepi.
Tari tiba di kos Sekar dengan napas tersengal, Dimas dan Yusuf datang hampir bersamaan dari arah lain. Mereka menemukan Sekar duduk di lantai kamarnya, lampu padam, hanya wajahnya yang disinari cahaya pucat ponsel baru di tangannya, ponsel yang seharusnya bersih, ponsel yang Tari sendiri pilih di toko terang sebagai hadiah yang aman. Sekar menatap mereka, dan ada air mata di pipinya, tapi ia tersenyum kecil, senyum lega.
"Aku nggak dengerin dia," katanya. "Aku ngomong terus sama Mbak di telepon, kayak yang Mbak ajarin. Dia berhenti. Lihat." Ia membalik ponsel. Ruang percakapan dengan kontak bernama dirinya itu ada di sana, nyata, mengerikan, tapi diam. Bisikannya terputus oleh suara hidup di saluran telepon.
Tari menyalakan lampu kamar. Cahaya kuning yang biasa membanjiri ruangan, dan dalam cahaya itu, kontak terkutuk di layar Sekar terlihat seperti apa adanya: bukan kutukan dari benda murah, melainkan sesuatu yang lebih luas dan lebih sabar, yang tak peduli pada merek atau harga atau retakan, yang hanya menunggu satu malam kau lupa menyalakan lampu, satu malam kau pikir tak ada yang mendengar.
Ia duduk di lantai di samping Sekar, dan Dimas dan Yusuf duduk pula, dan untuk sesaat mereka berempat hanya diam bersama di kamar yang kini terang. Lalu Tari berkata, pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada yang lain, "Musuh kita lebih besar dari rantai pasar. Kita nggak bisa motong rel yang nggak ada relnya. Kita harus mikir ulang dari awal." Ia menatap layar diam di tangan Sekar. "Bukan bendanya. Nggak pernah bendanya. Selalu sepinya."