Ratusan ponsel mati di pos polisi itu mengajari Tari satu hal yang tidak ingin ia pelajari: ia kalah dalam perlombaan yang salah.
Ia berdiri di depan rak besi tempat unit-unit sitaan ditumpuk dalam kantong plastik bernomor, semuanya dingin, semuanya gelap, semuanya menunggu. Yusuf di sampingnya membolak-balik daftar dengan ujung pena, mencocokkan nomor seri yang sebagian besar sudah terhapus. Bau ruangan itu campuran debu arsip dan kopi basi. Dari luar terdengar deru kendaraan Surabaya yang tak pernah benar-benar tidur, dan untuk pertama kali Tari merasa suara kota itu seperti ejekan.
"Kita sudah kumpulkan hampir semua yang ada di buku kulakan," kata Yusuf. "Dimas bilang pola pengisian dayanya cocok. Harusnya ini melumpuhkan rantainya."
"Harusnya," ulang Tari pelan.
Tapi malam sebelumnya, Sekar menerima bisikan dari ponsel biasa. Bukan layar retak. Bukan unit dari pasar. Sebuah ponsel yang Dimas sendiri bongkar dan nyatakan bersih, normal, tak ada apa pun di dalamnya selain mesin yang sehat. Dan benda itu tetap bicara. Tetap menyebut nama Sekar di tengah malam, tetap meramalkan hal kecil yang esoknya terbukti benar. Tari sudah membaca pesannya keras-keras di grup, dan untuk semalam bisikan itu mundur. Tapi mundurnya bukan kemenangan. Mundurnya adalah pengakuan bahwa ia salah memahami musuhnya selama ini.
Ia kira ia memburu sebuah benda. Sebuah rantai ponsel bekas yang bisa diputus dengan menyita stoknya. Ternyata benda hanyalah pintu. Yang ia buru ada di sisi lain pintu mana pun yang dibuka oleh orang yang cukup sepi untuk menatap layar terlalu lama dalam gelap.
Tari pulang larut, dan di kamar kontrakannya yang sekarang—jauh dari Gang Mawar, di lantai dasar, sengaja dekat jalan ramai—ia membuka buku catatan yang ia bawa ke mana-mana. Halaman demi halaman penuh nama korban, peta titik berburu, jadwal lapar entitas. Semua itu disusun dengan asumsi yang keliru. Ia mencoret garis-garis yang menghubungkan korban ke ponsel tertentu, dan untuk waktu yang lama menatap halaman yang kini hampir kosong.
Lalu ia menulis satu kalimat di tengahnya, perlahan, seperti mengakui sesuatu yang menakutkan.
Bukan bendanya. Tapi sepinya.
Ia tak bisa memburu setiap layar di Surabaya. Ada jutaan layar di kota ini, di tangan jutaan orang, dan tiap satu darinya bisa jadi pintu kalau pemiliknya cukup sendirian. Memburu benda berarti berlari mengejar sesuatu yang berlipat lebih cepat dari kakinya. Ia akan mati tua di rak-rak pos polisi sambil menumpuk ponsel mati yang tak ada habisnya, sementara entitas menyala di layar berikutnya yang luput dari daftar.
Tapi kondisinya. Syarat hidupnya. Itu satu hal, bukan jutaan hal.
Tari membuka kembali catatan lama Rani yang ia salin dari buku harian di gudang Wonokromo. Ruang di mana semua layar bertemu. Dulu ia mengira itu tempat. Sekarang ia tahu itu keadaan: seseorang sendirian total, dalam gelap, menatap cahaya kecil yang berbicara hanya padanya. Di situlah, dan hanya di situlah, entitas itu bertangan—lewat tangan korbannya sendiri.
Maka targetnya berubah. Bukan lagi ponsel. Bukan lagi konter, gudang, atau colokan ganda di belakang pasar. Targetnya adalah keadaan itu sendiri. Kesunyian yang menyalakan benda. Kalau ia bisa membuat keadaan itu mustahil ada—kalau di seluruh kota tak ada lagi orang yang menatap layar sendirian dalam gelap tanpa satu pun suara manusia di dekatnya—maka entitas akan kelaparan bukan di satu titik, melainkan di mana saja sekaligus.
Ia menulis di halaman baru, dan tangannya tidak gemetar.
Kita tidak buru bendanya. Kita keringkan sepinya.
Di luar jendela, lampu jalan menyala terus sepanjang malam, dan untuk pertama kali sejak ia tahu seberapa luas musuhnya, Tari merasa pemahaman itu bukan kekalahan. Ia hanya selama ini menembak bayangan, padahal yang harus ia padamkan adalah lampu yang membuat bayangan itu. Atau, lebih tepat, ia harus menyalakan lampu di tempat-tempat yang selama ini entitas pakai untuk bersembunyi.
Ia mengetik pesan ke grup, ke Sekar, ke Dimas, ke Yusuf, ke Bu Sri yang masih membalas pelan dari kejauhannya. Satu kalimat saja. Besok kita ubah cara berburu. Lalu ia membiarkan layarnya menyala terang di atas meja, di kamar yang tak pernah ia gelapkan, dan ia tidur tanpa menahan napas untuk pertama kali dalam berminggu-minggu.