Tari tahu ia tak punya kuasa, tak punya pangkat, tak punya uang. Yang ia punya hanya satu hal yang dulu menyelamatkannya: orang-orang yang mau bercerita.
Maka ia ubah grupnya menjadi sesuatu yang lebih besar dari grup. Mereka memberinya nama yang sederhana, hampir konyol, supaya tak ada yang merasa sedang masuk perkumpulan takhayul. Penjaga Lampu. Aturannya tidak rumit. Setiap anggota menemani satu orang yang sendirian—lewat panggilan, lewat duduk berdua, lewat apa pun—terutama di malam-malam ketika kota gelap dan sunyi. Setiap layar retak yang dijual murah dilaporkan, dicatat, dilingkari. Dan satu nomor dibuka untuk siapa saja, ditempel di gang-gang kos, di papan pengumuman kampus, di warung kopi: Ada yang bicara di layarmu? Hubungi kami. Jangan dengarkan sendirian.
Awalnya nomor itu sepi. Lalu, pelan-pelan, telepon mulai masuk.
Kebanyakan bukan apa-apa. Anak rantau yang takut karena salah baca pesan penipuan. Ibu kos yang khawatir penghuninya melamun terus. Tari dan relawan menjawab semuanya dengan sabar, karena itulah inti gerakannya: tidak menertawakan siapa pun yang takut sendirian. Tapi di antara panggilan yang bukan apa-apa, sesekali datang yang ia kenali. Suara yang ragu. "Mbak, ini... mungkin saya cuma capek. Tapi ponsel saya... ada kontak yang nggak bisa saya hapus. Namanya nama saya sendiri."
Setiap kali ia mendengar kalimat itu, perut Tari mengencang. Dan setiap kali, ia melakukan hal yang sama: ia tidak menyuruh orang itu membuang ponselnya. Ia mengirim relawan terdekat untuk menemani. Ia minta orang itu membaca tiap pesan keras-keras di telepon, supaya kata-kata entitas masuk ke telinga lebih dari satu orang. Ia menyalakan lampu di koridor yang gelap itu, dari jarak jauh, lewat sambungan.
Sekar, yang dulu nyaris jadi korban, kini ikut menjawab telepon. Ia bicara dengan suara yang dulu pernah dipakai entitas untuk menggodanya, dan ia memakai suara itu untuk hal sebaliknya. "Saya pernah dengar dia juga," katanya pada penelepon yang menangis di seberang. "Dia akan bilang kamu spesial. Dia akan benar soal hal kecil supaya kamu percaya hal besar. Jangan dengarkan sendirian, ya. Ada saya. Ada kami."
Dimas membangun sesuatu yang lebih sunyi tapi sama pentingnya: sebuah daftar di ponselnya sendiri, peta titik-titik kota tempat laporan masuk, supaya mereka tahu di mana gelap masih menang. Ia mencatat tiap kos baru yang penghuninya saling kenal sebagai titik aman, tiap perantau baru yang berhasil ditemani sebagai pintu yang ditutup sebelum sempat dibuka.
Tari mendatangi kos-kos di sekitar kampus, satu per satu, dengan tas berisi selebaran. Ia bicara dengan ibu-ibu kos, menyuruh mereka mengenal nama tiap anak rantau yang tinggal di bawah atap mereka, menyuruh mereka mengetuk pintu yang tiga hari tak terdengar suaranya. "Bukan buat hantu, Bu," katanya kalau ada yang menatapnya curiga. "Buat anak orang yang jauh dari rumah. Biar nggak ada yang sendirian lama-lama." Itu setengah benar, dan setengah benar yang lain ia simpan, karena ia tahu sebagian alasannya tak akan dipercaya.
Perlahan, lokal demi lokal, kota itu mulai berubah. Bukan dengan dramatis. Tidak ada yang tahu sedang terjadi perang. Hanya ada lebih banyak ketukan pintu, lebih banyak telepon larut malam yang dijawab, lebih banyak mahasiswi rantau yang punya nomor untuk dihubungi saat ponselnya berkedip aneh tengah malam. Entitas, yang hidup dari gelap dan sepi, mendapati semakin sedikit gelap dan sepi untuk disusupi di petak-petak yang dijaga.
Suatu malam Yusuf menelepon Tari. Suaranya lelah tapi ada nada yang jarang ia dengar. "Laporan bisikan turun di tiga kelurahan ini bulan ini. Turun, Tari. Bukan naik." Ia berhenti. "Aku polisi dua belas tahun. Aku nggak pernah lapor angka yang nggak bisa kujelaskan ke atasan. Tapi angka ini turun."
Tari menutup telepon dan menatap kota dari jendela kontrakannya—jutaan lampu kecil di kejauhan, masing-masing sebuah rumah, masing-masing mungkin sebuah layar yang menyala. Ia tahu ia belum menang. Ia hanya menyalakan satu sudut. Tapi untuk pertama kali, ia melihat bahwa sudut itu bisa diperluas, satu kos, satu telepon, satu nama yang dihapal pada satu waktu.