Tari mulai mengenali nada itu, karena ia pernah mendengarnya sekali, bertahun lalu, di malam keempat belas: nada entitas yang lapar.
Laporan dari area gerakan berubah bentuk. Dulu, orang menelepon dengan suara ketakutan, menceritakan ancaman. Ponselku bilang aku akan mati. Ponselku menyuruhku naik ke atap. Sekarang, di petak-petak yang sudah terjaga, kata-kata yang masuk lewat nomor aduan berbeda. Lebih lirih. Lebih memelas.
Seorang mahasiswi dari kos yang sudah dijaga relawan membaca pesannya lewat telepon, suaranya bergetar bukan karena takut tapi karena bingung. "Dia nggak ngancem lagi, Mbak. Dia... minta. Katanya, 'Temani aku sebentar saja. Aku sendirian juga. Kamu satu-satunya yang mau dengar.'"
Tari menutup mata. Ia ingat kalimat itu. Ia ingat persis bentuk bujukan yang berubah jadi rengekan, perubahan halus dari pemangsa yang yakin menjadi sesuatu yang kehabisan makanan. Di hari ke-14 dulu, entitas yang sama, di ponsel yang sama, sudah berhenti mengancam dan mulai memohon. Aku akan diam. Aku hanya tidur. Itu bukan kemurahan hati. Itu kelaparan yang mengenakan topeng kelembutan.
"Jangan kasihan sama dia," kata Tari ke telepon, lembut tapi tegas. "Itu cara dia minta makan. Dia bukan kesepian seperti kamu kesepian. Dia kesepian seperti lapar kesepian terhadap makanan. Baca pesannya keras-keras ke teman sekamarmu sekarang. Suruh dia dengar juga."
Ia mendengar, dari seberang, suara perempuan lain bertanya mengantuk, lalu suara mahasiswi tadi membaca ulang pesan entitas dengan keras di kamar yang kini berisi dua orang, bukan satu. Lalu ada jeda. Lalu suaranya kembali, dan kali ini lebih ringan. "Mbak... pesannya hilang. Layarnya kosong. Beneran kosong."
Itu terjadi berulang, dan polanya konsisten dengan hukum yang Tari pelajari sejak dulu. Di petak-petak terang, entitas melemah. Ancamannya berubah jadi permohonan, lalu permohonan berubah jadi diam. Dimas memetakan ini di ponselnya: titik-titik merah tempat bisikan kuat menyusut menjadi titik kuning, lalu memudar. Bukan hilang—Tari tahu lebih baik daripada menyebutnya hilang—tapi tertidur, satu petak pada satu waktu.
Namun Tari tak membiarkan dirinya merayakan. Ia ingat baik-baik bagaimana suara yang melemah itu menipu. Di hari ke-14, ia kira ia menang. Lalu pesan terakhir datang. Aku tidak pergi. Aku hanya tidur. Dan benar saja, bertahun kemudian, di sini ia berada lagi, mengejar suara yang sama di kota yang sama. Suara yang melemah bukan suara yang mati. Suara yang memohon hari ini adalah suara yang akan mengancam lagi besok kalau gelap kembali.
Sekar duduk di seberang Tari di warung kopi tempat mereka biasa rapat, memegang gelas yang sudah dingin. "Aku dengar dia memelas," katanya pelan, "dan ada bagian kecil di aku yang... rindu. Bukan rindu sama dia. Rindu sama rasa jadi penting. Kamu ngerti, kan."
Tari mengerti terlalu baik. Ia menatap Sekar lama. "Itu yang harus kita jaga," katanya. "Bukan dia yang berbahaya. Bagian di kita yang rindu jadi spesial itu yang berbahaya. Selama kita ingat itu, dia nggak bisa makan."
Tapi malam itu, dalam perjalanan pulang, Tari memikirkan tatapan Sekar—jeda yang sedikit terlalu panjang, mata yang sedikit terlalu jauh—dan untuk pertama kali sejak gerakan ini menang petak demi petak, ia merasakan dingin lama itu di tengkuknya. Suara entitas melemah di tempat terang. Tapi ia bertanya-tanya, di tempat-tempat yang tak terang, di sudut hati yang tak bisa dijaga relawan, apakah suara itu justru sedang mengumpulkan tenaganya.