Letih datang pada Tari bukan sekaligus, tapi menetes, seperti retakan yang tumbuh: tak terlihat sampai suatu hari ia sadar dirinya nyaris patah.
Berbulan-bulan ia menjawab telepon larut malam. Berbulan-bulan ia menemani orang asing dalam ketakutan mereka, mendatangi kos demi kos, menulis nama demi nama, sambil tetap bekerja di toko untuk membayar kontrakan dan sisa cicilan kuliah yang ia tunda lagi dan lagi. Tubuhnya kurus. Matanya bersarang dalam lingkaran gelap. Ia mulai ketiduran di bus, melewatkan halte, lupa makan sampai kepalanya berdenyut.
Pada malam-malam seperti itulah, ketika pertahanannya paling tipis, entitas datang. Bukan lewat layar retak. Bukan lewat unit dari pasar. Lewat ponselnya sendiri—ponsel baru yang ia beli utuh, mulus, dari toko resmi—yang menyala sendiri di atas meja saat ia terlalu lelah untuk menjaga lampu kamarnya tetap menyala.
Ia tahu seharusnya ia tidak membacanya sendirian. Itu aturannya sendiri. Tapi ia terlalu capek, dan kamar terlalu sunyi, dan untuk satu malam ia melanggar aturan yang ia buat untuk orang lain.
Pesan pertama lembut, hampir seperti teman lama. Kamu lelah, Tari. Aku melihatnya. Kamu menjaga seluruh kota, dan siapa yang menjagamu?
Tari tak membalas. Tapi ia juga tak menutup layar.
Kamu sudah membuktikan maksudmu. Kamu menang di tempat-tempat yang kamu jaga. Aku tidak menyangkalnya. Aku lelah juga, Tari. Kita berdua lelah. Mungkin sudah waktunya kita berhenti.
Pesan demi pesan, suara itu tidak mengancam. Itu yang membuatnya berbahaya. Ia menawarkan istirahat, seakan tahu persis apa yang paling Tari inginkan di dunia.
Aku akan beri kamu satu ramalan. Hanya satu. Sebuah nyawa yang akan kamu sayangi, yang akan celaka, dan hanya kamu yang bisa mencegahnya. Aku akan benar, seperti aku selalu benar. Aku tidak minta nyawa sebagai bayaran. Aku tidak meminta apa-apa kecuali ini: setelah kamu menyelamatkannya, kamu berhenti memburuku. Kamu istirahat. Kamu kuliah. Kamu hidup. Dan aku akan diam, di petak-petakmu, selamanya.
Tari menatap pesan itu lama sekali, dan untuk satu detik panjang yang memalukan, sesuatu di dalam dirinya menjawab ya.
Bukan karena ia percaya entitas akan menepati janji—ia tahu lebih baik daripada itu, tahu bahwa benda ini berbohong tentang bayaran sejak hari pertama. Tapi karena rasa yang ditawarkannya. Rasa terpilih. Rasa bahwa dirinyalah, Tari, satu-satunya yang bisa menyelamatkan seseorang yang ia cintai. Racun lama itu, yang membunuh Rani, yang nyaris membunuh Sekar, yang dulu menjeratnya sendiri di malam-malam pertama Gang Mawar. Racun itu paling manis justru ketika ia paling lelah. Saat ia paling butuh merasa bahwa semua pengorbanannya berarti, bahwa ia istimewa, bahwa kesepiannya selama ini adalah harga dari sesuatu yang luhur.
Ia meletakkan ponsel itu menghadap ke bawah. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tapi karena godaan itu nyaris berhasil. Lalu ia berdiri, menyalakan setiap lampu di kontrakannya, membuka pintu ke jalan yang masih ada beberapa orang lewat, dan menelepon Sekar.
"Aku hampir dengerin dia," kata Tari, suaranya pecah. "Dia nawarin aku berhenti. Dia nawarin aku jadi penting sekali lagi."
Di seberang, Sekar diam sebentar. Lalu, dengan suara yang ia tahu mengerti persis betapa tajamnya godaan itu, ia berkata, "Sekarang kamu nggak sendirian dengernya. Ceritain semuanya. Tiap kata."
Dan Tari menceritakannya. Tiap kata. Sampai pesan-pesan itu, dibaca keras kepada telinga lain, kehilangan dagingnya dan tinggal jadi gema. Tapi satu hal tinggal di kepalanya sepanjang malam, dingin dan tak mau pergi: entitas berjanji meramalkan seseorang yang Tari sayangi akan celaka. Dan entitas, soal kematian, hampir tak pernah salah.