Ramalan itu datang dua hari kemudian, dan kali ini entitas menyebut nama.
Dimas. Pesan itu muncul di ponsel Tari pukul tiga pagi, saat ia memang sedang terbangun, seakan benda itu tahu kapan ia paling rentan. Dimas akan celaka, Tari. Lusa. Sore. Listrik dan air dan kelalaian kecil, seperti Anto dulu. Kamu ingat Anto? Tergelincir, kepala membentur keran. Begitu cepat. Begitu kebetulan. Aku melihatnya datang untuk temanmu yang pintar itu. Kamu bisa mencegahnya, kalau kamu percaya padaku sekali lagi.
Tari membaca itu dan tangannya dingin sampai ke siku. Bukan karena ia langsung percaya—ia sudah lama belajar bahwa percaya adalah senjata utama benda ini—tapi karena nama itu nyata, dan wajah di balik nama itu nyata, dan ketakutan kehilangan seseorang yang ia sayangi adalah ketakutan yang tak bisa ia anggap takhayul.
Ia tahu permainan ini. Ia tahu bagaimana entitas bekerja. Ia tahu bahwa benda itu tidak menyebabkan apa pun; ia hanya melihat pola, kebetulan yang menunggu terjadi, dan mengubahnya menjadi tali kekang di leher orang yang ia tunggangi. Kalau Tari menuruti ramalan ini—kalau ia bertindak persis seperti yang entitas suruh, mengurung Dimas, menyembunyikannya, melakukan ritual ketakutan yang diminta benda itu—maka ia sudah kembali menjadi tangan. Dan begitu ia jadi tangan sekali lagi, pintu terbuka lagi, dan entitas makan lagi, dari rasa takutnya, dari rasa bersalahnya kalau ternyata ramalan itu benar.
Tapi kalau ia mengabaikannya sepenuhnya, dan ternyata sesuatu memang terjadi pada Dimas—
Ia duduk sampai subuh, terjebak di antara dua jurang. Inilah jebakan yang paling cerdas dari semua yang pernah entitas pasang. Bukan ancaman pada nyawa Tari sendiri. Ancaman pada nyawa orang yang Tari sayangi, di mana menuruti maupun mengabaikan sama-sama bisa jadi makanan baginya.
Pagi itu Tari menemui Sekar dan Yusuf, dan ia menaruh ponselnya di tengah meja warung kopi, layar menghadap atas, pesan entitas terbuka untuk mereka baca. Aturan rumah terang: tak ada pesan dari dia yang disimpan sendiri.
"Dia mau aku tunduk," kata Tari. "Atau dia mau aku abaikan dan ngerasa bersalah kalau ternyata bener. Dua-duanya makanan buat dia."
Yusuf membaca pesan itu dua kali, rahangnya mengeras. "Jadi kamu nggak boleh nurut, dan nggak boleh diam."
"Ada jalan ketiga," kata Tari pelan. Ia memikirkannya sepanjang malam dan akhirnya menemukannya, sederhana, hampir terlalu sederhana. "Aku nggak akan jadi tangannya. Aku nggak akan melakukan satu pun yang dia suruh. Tapi aku akan memperingatkan Dimas—bukan karena ramalan, tapi karena aku sayang dia. Aku akan bilang ke Dimas, hati-hati lusa sore, karena seorang teman khawatir. Itu aja. Kewaspadaan biasa. Yang dilakukan siapa pun yang peduli sama temannya. Bukan ritual. Bukan ketakutan. Cuma satu orang yang ngingetin orang lain buat hati-hati."
Sekar mengangguk pelan, mengerti. "Jadi kalau Dimas selamat, itu karena dia hati-hati. Bukan karena ramalannya."
"Dan kalau dia selamat karena hati-hati biasa," kata Tari, "berarti peringatan bisa datang dari sayang, bukan dari lapar. Dan benda itu kehilangan satu kartu paling kuatnya."
Mereka memanggil Dimas sore itu. Tari tidak menceritakan ramalannya secara persis—ia tidak mau menanam ketakutan, karena ketakutan itulah yang dimakan. Ia hanya berkata, dengan jujur, bahwa entitas menyebut namanya, dan bahwa ia, Tari, ingin Dimas ekstra hati-hati beberapa hari ke depan. Tidak lebih dari yang akan dikatakan teman pada teman.
Dimas, yang skeptis sampai ke tulang sebelum semua ini, hanya tersenyum tipis. "Aku tukang servis, Tar. Aku tiap hari kerja sama listrik dan air. Hati-hati itu pekerjaanku." Ia mengetukkan jari ke meja. "Tapi makasih. Beneran. Bukan tiap hari ada yang khawatir sampai segitu."
Tari pulang dengan beban yang sedikit lebih ringan dan jauh lebih berat sekaligus. Lebih ringan karena ia menolak jadi tangan. Lebih berat karena lusa sore belum datang, dan entitas, soal kematian, hampir tak pernah salah.