Lusa sore itu, Tari tidak bisa diam. Ia tahu menelepon Dimas tiap jam justru akan menanam ketakutan yang entitas inginkan, jadi ia menahan diri, dan penahanan diri itu terasa seperti menahan napas sepanjang hari.
Ia tetap menjawab telepon nomor aduan seperti biasa. Ia tetap mendatangi satu kos baru di dekat Stasiun Gubeng untuk bicara dengan ibu kos di sana. Ia memaksa hidupnya berjalan normal, karena membuatnya tidak normal berarti memberi entitas kemenangan tanpa benda itu perlu berbuat apa-apa. Tapi sepanjang sore, matanya terus menengok ke ponsel, menunggu kabar buruk yang ia harap tak akan datang.
Pukul empat lewat, ponselnya berdering. Nomor Dimas. Jantung Tari jatuh.
"Tar." Suara Dimas. Hidup. Sedikit terengah, tapi hidup. "Aku baik. Tapi kamu harus dengar ini."
Ia menceritakannya dengan nada teknisi yang berusaha terdengar tenang. Sore itu ia menerima panggilan servis darurat di sebuah ruko—papan listrik korslet, air merembes dari pendingin ruangan di atasnya, genangan menyebar ke lantai tempat kabel terbuka. Persis jenis kecelakaan yang entitas bisikkan. Listrik dan air dan kelalaian kecil. Pemilik ruko sudah hendak menyuruhnya langsung memegang panel itu, dan dalam keadaan biasa, terburu-buru, Dimas mungkin akan melakukannya.
Tapi ia ingat. Bukan ramalan—ia bahkan tak tahu isi persis ramalannya. Ia ingat Tari yang menatapnya kemarin dan berkata hati-hati. Ia ingat ada orang yang cukup peduli untuk khawatir. Maka ia berhenti. Ia matikan dulu sumber listrik dari meteran, ia keringkan lantai, ia kerjakan dengan urutan yang benar seperti yang semestinya selalu ia kerjakan kalau saja ia tidak terburu-buru. Kewaspadaan biasa. Prosedur yang ia tahu sejak awal jadi teknisi, yang hampir ia langgar karena kelelahan dan tergesa.
"Kalau aku pegang panel itu pas masih basah," kata Dimas, dan suaranya menurun, "mungkin aku yang jadi Anto berikutnya. Tapi aku nggak, Tar. Bukan karena hantu nyelametin aku. Karena aku matiin meteran dulu. Hal paling membosankan di dunia. Matiin meteran dulu."
Tari menutup mata dan menyandarkan punggungnya ke dinding, dan untuk beberapa saat ia tak bisa bicara karena lega yang mengalir keluar dari tubuhnya seperti air bah.
Ketika ia bisa bicara lagi, ia berkata, "Itu intinya, Dim. Persis itu intinya."
Malam itu mereka berkumpul—Tari, Sekar, Yusuf, Dimas—di warung kopi yang sama, dan Tari membuka ponselnya untuk membaca pesan terakhir dari entitas, yang masuk pukul lima sore, setelah kecelakaan yang tak jadi.
Kamu beruntung. Tapi aku benar, bukan? Aku melihat air dan listrik datang untuknya. Aku selalu benar.
Tari membacanya keras-keras, dan ketika ia selesai, ia tertawa—tawa lelah, getir, tapi tawa sungguhan, yang pertama dalam berminggu-minggu. "Dia benar," kata Tari. "Air dan listrik memang datang. Tapi bukan dia yang nyelametin Dimas, dan bukan ramalannya yang gagalin kecelakaannya. Dimas selamat karena hati-hati biasa. Karena ada yang sayang dan ngingetin, terus dia matiin meteran dulu."
Sekar menatap pesan itu di layar. "Jadi dia nggak punya kuasa apa-apa atas kebetulan. Dia cuma lihat kebetulan datang, dan ngaku-ngaku itu kuasanya."
"Selalu begitu," kata Tari. "Dari awal. Pak Hardi, Anto, sebelas korban. Dia nggak pernah nyentuh apa-apa. Dia cuma tahu pola, terus ngubah pola jadi tali buat ngendaliin kita. Dan tali itu cuma kuat selama kita percaya tangannya ada di ujungnya." Ia menatap teman-temannya. "Hari ini dia kehilangan kartu paling kuat. Ramalan kematian orang yang kita sayang. Karena kita buktiin peringatan bisa datang dari kasih, bukan dari dia."
Yusuf, yang biasanya hati-hati dengan kata, mengangkat gelasnya sedikit. "Buat matiin meteran dulu," katanya, dan ada senyum tipis yang jarang muncul di wajahnya.
Mereka menertawakannya, dan untuk satu malam warung kopi itu terang dan ramai dan penuh suara hidup. Tapi Tari, di balik tawanya, menyimpan satu pikiran yang tak ia ucapkan. Entitas baru saja kehilangan satu kartu kuat. Dan benda yang kehilangan kartu kuat, ia tahu dari pengalaman, tidak menyerah. Ia hanya mencari kartu yang lebih dalam, di tempat yang lebih gelap, di luka yang lebih lama.