Kemenangan, Tari belajar, punya bayangan, dan bayangan itu jatuh di tempat-tempat yang lampunya belum sampai.
Selama gerakan Penjaga Lampu menguat di sekitar kampus, di kos-kos rantau, di kelurahan-kelurahan tempat relawannya rajin mengetuk pintu, Dimas terus memperbarui petanya. Dan suatu malam ia memanggil Tari, Yusuf, dan Sekar, lalu membentangkan tangkapan layar peta itu di meja, dan wajahnya tidak menunjukkan kemenangan.
"Lihat," katanya, menunjuk. "Titik-titik merah di pusat kota, di sekitar kampus, di daerah yang kita jaga—menyusut. Hampir habis." Lalu jarinya bergerak ke tepi peta, ke pinggiran. "Tapi di sini. Di kantong-kantong yang relawan kita belum sampai. Permukiman padat tanpa lampu jalan benar, rusun yang penghuninya nggak saling kenal, kampung di pinggir rel, daerah yang sinyalnya jelek dan orang-orangnya datang pergi tanpa nama." Ia berhenti. "Di sini titik merah melebar. Bukan menyusut. Melebar."
Tari menatap peta itu, dan dingin lama merayap kembali. Ia mengerti apa yang ia lihat. Ia tidak membunuh kelaparan entitas. Ia hanya menggesernya.
Mereka pergi ke salah satu kantong itu beberapa hari kemudian—sebuah rusun tua di pinggir kota, tiga blok beton kusam dengan koridor panjang yang lampunya separuh mati, tempat ratusan orang tinggal bertumpuk tapi nyaris tak ada yang tahu nama tetangga sebelah pintunya. Tari mengetuk pintu demi pintu dengan selebaran, dan di sini sambutannya berbeda dari kos-kos rantau. Di sini orang menutup pintu lebih cepat. Di sini kelelahan hidup sudah begitu dalam sehingga kesepian dianggap biasa, hampir nyaman, sesuatu yang tak perlu ditolong.
Di lantai paling atas rusun itu, di sebuah unit yang penghuninya seorang lelaki tua yang tinggal sendiri sejak istrinya meninggal, Tari melihatnya lagi. Ponsel di atas meja, layar menyala dalam kamar yang gelap di siang bolong karena tirai tak pernah dibuka. Dan ketika ia mendekat, ia melihat retakan di kaca itu—garis tajam dari sudut, lalu jaring-jaring halus, persis seperti yang dulu ia kenal—dan retakan itu, bukannya berhenti tumbuh seperti di petak-petak terang, justru lebih panjang dari yang pernah ia lihat sejak Gang Mawar.
Lelaki tua itu menatapnya dengan mata keruh. "Anak saya," katanya, menunjuk ponsel. "Dia telepon tiap malam. Dia tahu banyak hal. Dia bilang saya nggak akan lama lagi ketemu istri saya."
Itu bukan anaknya. Tari tahu itu bukan anaknya. Tapi lelaki tua itu kesepian sedemikian rupa sampai ia menyambut suara yang menjanjikan reuni dengan istrinya yang sudah mati, dan menjadikan suara itu satu-satunya teman di hari-hari terakhirnya.
Tari duduk dengannya sore itu. Ia tidak menyita ponselnya, tidak menceramahinya soal hantu. Ia hanya duduk, mendengarkan cerita tentang istri yang meninggal, membuka tirai, menyalakan lampu. Tapi ia tahu satu sore tak cukup. Ia tahu begitu ia pergi, suara itu akan kembali, dan ia tak punya cukup relawan untuk menemani lelaki ini tiap malam, juga ratusan orang lain di kantong-kantong yang sama di seluruh tepi kota.
Di perjalanan pulang, ia diam lama. Akhirnya Sekar bertanya apa yang ia pikirkan.
"Aku pikir aku menang," kata Tari. "Tapi aku cuma mindahin laparnya ke tempat yang nggak bisa kujangkau. Dia pinter. Dia mundur dari terang, terus mengumpul di gelap yang tersisa, dan di gelap yang mengumpul itu dia lebih kuat dari sebelumnya." Ia menatap keluar jendela, ke deretan gang gelap yang lampu jalannya tak menyala. "Kemenangan kita baru menggeser dia. Belum mematikan laparnya. Belum dekat."