Karena ia melihat kantong-kantong gelap melebar, Tari melakukan apa yang dilakukan orang yang panik dan lelah: ia mencoba berkembang terlalu cepat.
Ia menggandakan target relawan dalam dua minggu. Ia memperluas peta Penjaga Lampu ke seluruh tepi kota sekaligus, membagi-bagi anggotanya tipis-tipis untuk menjangkau setiap kantong gelap di peta Dimas. Ia mengadakan rapat hampir tiap malam, menulis jadwal yang ketat, menuntut tiap relawan menemani lebih banyak orang, melapor lebih sering, menjangkau lebih jauh. Ia tidak tidur. Ia memaksa gerakan itu tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan ketakutannya.
Dan gerakan itu mulai retak.
Relawan-relawan kewalahan. Beberapa berhenti tanpa pamit, lelah dipaksa menjaga orang asing di ujung kota sementara hidup mereka sendiri menumpuk. Nomor aduan mulai tak terjawab karena tak ada cukup tangan. Di kantong-kantong yang Tari paksa jangkau dengan satu relawan untuk dua puluh pintu, penjagaan itu terlalu tipis untuk berarti, dan laporan bisikan, yang sempat turun di petak-petak lama, mulai kambuh karena relawan yang dulu rajin kini terlalu terbentang untuk hadir.
Puncaknya datang ketika sebuah titik yang sudah lama mereka anggap aman—sebuah kos rantau dekat kampus, salah satu kemenangan pertama mereka—melaporkan bisikan lagi. Mahasiswi yang dulu mereka selamatkan menelepon nomor aduan tiga kali dalam semalam, dan ketiga kalinya tak terjawab, karena relawan yang biasa menjaganya sudah Tari pindahkan ke ujung kota untuk menambal kantong gelap yang baru.
Tari datang pagi-pagi ke kos itu, dan mahasiswi tersebut menatapnya dengan campuran takut dan kecewa yang menusuk. "Kalian janji ada kalau saya butuh," katanya pelan. "Tadi malam saya butuh. Nggak ada yang angkat."
Tari tak punya jawaban. Ia hanya bisa minta maaf, menyalakan kembali penjagaan di titik itu, dan menarik kembali rencana ekspansinya yang ambisius. Malam itu ia duduk sendiri di kontrakannya—lampu menyala, pintu terbuka, aturan-aturannya sendiri ia patuhi—dan menatap peta Dimas yang penuh titik merah baru yang muncul justru karena ia mencoba menjangkau terlalu banyak terlalu cepat.
Sekar datang menemaninya. Mereka duduk lama tanpa bicara. Akhirnya Tari berkata, suaranya datar karena kelelahan yang melampaui frustrasi, "Aku kira kalau aku tambah keras, tambah cepat, aku bisa nutup semua gelap sekaligus. Tapi tiap kali aku rentangin selimut buat nutup yang baru, ada bagian lama yang kebuka lagi. Selimutnya nggak cukup besar. Nggak akan pernah cukup besar kalau caranya nambal."
Sekar menatap peta itu juga. "Jadi nambal nggak akan menang."
"Nggak akan," kata Tari. "Aku habisin berbulan-bulan buat sadar itu. Tiap kantong gelap yang kutambal, dia geser ke kantong sebelahnya. Aku ngejar bayangan yang gerak lebih cepat dari aku. Selama aku ngelawan sepetak-sepetak, dia selalu punya petak berikutnya." Ia menutup matanya. "Dia nggak perlu menang di mana-mana. Dia cuma perlu satu sudut gelap yang luput. Dan kota ini selalu punya sudut gelap yang luput."
Itulah dinding yang ia bentur, dan ia merasakannya di tulang: tidak ada kemenangan dengan menambal sepotong-sepotong. Selama strateginya adalah mengejar entitas dari kantong ke kantong, ia akan kalah karena kelelahan jauh sebelum benda itu kelelahan karena lapar. Untuk menang, kalau menang itu mungkin sama sekali, ia butuh sesuatu yang lain. Sesuatu yang menyentuh seluruh kota dalam satu napas, bukan sepetak demi sepetak sampai ia tua.
Tapi ia belum tahu apa. Dan malam itu, terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh, ia hanya tahu satu hal: cara lamanya sudah membentur batasnya, dan entitas, di kantong-kantong gelap yang luput, sedang menunggu kelelahannya.