Entitas, terdesak dari petak-petak terang, melakukan apa yang selalu ia lakukan menjelang musim laparnya: ia mencari ketinggian.
Tari menyadarinya dari pola laporan. Bisikan yang dulu tersebar tipis di banyak kantong gelap mulai memusat. Selama dua minggu, titik-titik merah di peta Dimas yang berserakan di seluruh tepi kota perlahan menarik diri, seperti air yang surut menuju satu cekungan. Dan cekungan itu, ketika Dimas menandainya, membuat tengkuk Tari dingin.
Sebuah gedung. Bertingkat. Mangkrak.
Itu sebuah proyek apartemen di tepi kota yang terbengkalai bertahun lalu, pembangunannya berhenti di tengah jalan ketika pengembangnya bangkrut. Belasan lantai beton kosong, tanpa dinding di banyak sisi, tanpa listrik resmi, ditinggalkan untuk diambil alih lumut dan kegelapan. Sebuah kantong gelap besar yang luput dari seluruh gerakan, karena tak ada yang tinggal di sana untuk ditemani, tak ada kos untuk dikunjungi, tak ada ibu kos untuk diajak mengenal nama. Hanya beton dan tinggi dan sepi.
Tari berdiri di seberang jalan menatap kerangka gedung itu suatu sore, dengan Dimas di sampingnya, dan ia merasakan pola lama bergerak di dalam dadanya seperti penyakit yang kambuh. Naik ke tempat tinggi. Semua pemilikku naik ke tempat tinggi, dan semua pemilikku jatuh. Bertahun-tahun lalu, kalimat itu adalah ancaman atas dirinya sendiri. Rani jatuh dari lantai tiga. Sebelas korban sebelumnya, semua mati jatuh dari ketinggian. Entitas menyukai ketinggian, selalu, karena di ketinggian, di tepi yang gelap dan sepi, korbannya paling sendirian dengan suara yang membisikinya untuk melangkah.
Dan sekarang benda itu telah memilih ketinggian terbesar yang bisa ia temukan di kota ini. Bukan untuk satu korban. Untuk markasnya.
"Kenapa ke sini?" tanya Dimas, menatap gedung itu dengan mata teknisi yang terbiasa mencari sebab. "Nggak ada orang di sini buat dia makan. Kosong total."
"Justru itu," kata Tari pelan. "Di petak-petak kita, dia kelaparan. Di sini, nggak ada satu pun lampu yang kita nyalain. Nggak ada relawan. Nggak ada nomor aduan yang nempel di dinding. Ini gelap yang paling murni di seluruh kota." Ia menatap lantai-lantai atas yang terbuka ke langit kelabu. "Dia nggak ke sini buat makan sekarang. Dia ke sini buat ngumpulin diri. Buat istirahat dari kita. Dan buat nunggu." Ia berhenti. "Buat nunggu seseorang dateng ke dia."
Dimas menoleh. "Siapa yang bakal dateng ke gedung mangkrak gelap di tepi kota?"
Tari tak menjawab langsung. Tapi pikirannya sudah berlari ke satu wajah, dan ia berharap salah. Karena entitas tak pernah berburu korban acak ketika ia bisa berburu korban dengan luka lama. Ia tak butuh orang asing kalau ada seseorang yang sudah pernah mendengarnya, yang sudah punya rasa bersalah untuk dimakan, yang sudah percaya, jauh di dalam, bahwa ada hutang yang belum lunas.
Sore itu Tari naik ke beberapa lantai bawah gedung itu bersama Dimas dan Yusuf, hati-hati, melangkahi puing dan genangan. Di setiap lantai, ada barang-barang yang tertinggal: bungkus rokok, botol, kadang sisa tidur gelandangan yang segera pergi karena merasa tak nyaman. Dan di sudut salah satu lantai, di lantai yang cukup tinggi sampai jalanan di bawah terlihat kecil, mereka menemukan sebuah lift kaca tua. Bagian dari kemewahan yang dulu direncanakan, kini menggantung mati di poros betonnya, kacanya berdebu, kabelnya berkarat, kabinnya berhenti di antara lantai seperti benda yang lupa cara turun.
Tari menatap lift kaca itu lama sekali, dan firasat buruk mengeras di perutnya menjadi kepastian.
"Kita pulang," katanya akhirnya. "Dan aku harus telepon Sekar. Sekarang."
Tapi malam itu, ketika ia menelepon, Sekar tak mengangkat. Dan ketika Tari membuka grup, ia melihat bahwa Sekar sudah tak menulis apa pun di sana selama tiga hari—Sekar yang biasanya paling rajin menjawab nomor aduan, paling rajin menemani orang asing dalam ketakutan mereka. Tiga hari diam. Dan Tari, yang mengenal diamnya orang yang mulai mendengar lagi karena ia sendiri pernah diam seperti itu, merasakan dingin terakhir yang paling dalam.