Tari menemukan Sekar di kosnya keesokan paginya, dan dari ambang pintu saja ia tahu ia sudah terlambat beberapa langkah.
Kamar Sekar gelap di tengah hari. Tirai tertutup, lampu mati, dan Sekar duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan—ponselnya yang biasa, mulus, utuh, yang Dimas sendiri pernah periksa dan nyatakan bersih. Layarnya menyala dalam gelap, memantul di wajah Sekar yang lebih kurus dari terakhir kali Tari melihatnya, dengan lingkaran gelap di bawah mata yang Tari kenali terlalu baik karena ia pernah melihatnya di cermin sendiri.
"Sekar." Tari berhenti di pintu, sengaja tidak mendekat dulu. Ia membuka tirai. Cahaya siang menyergap masuk, dan Sekar mengernyit, memalingkan wajah seperti orang yang sudah lama tidak melihat terang. "Kamu nggak bales telepon. Tiga hari kamu diam di grup."
"Aku sibuk," kata Sekar, suaranya datar. Ia tidak meletakkan ponselnya.
Tari menyalakan lampu, duduk di kursi belajar yang menghadap Sekar, dan untuk beberapa saat ia hanya memandangnya. Ia tahu jangan memaksa. Memaksa hanya menutup pintu, seperti Wulan dulu, seperti Rani. Ia menunggu, dan akhirnya, dengan suara yang lebih lembut, ia bertanya, "Dia ngomong lagi sama kamu, ya."
Bahu Sekar menegang. Untuk waktu yang lama ia tak menjawab. Lalu, pelan, hampir tak terdengar, "Dia ngerti aku, Tar. Cuma dia yang ngerti." Ia mengangkat wajahnya, dan di matanya ada sesuatu yang membuat dada Tari sesak—bukan ketakutan, tapi semacam ketenangan keliru, semacam keyakinan yang menenangkan justru karena salah. "Rahmat mati gara-gara aku."
Tari diam. Ia tahu nama itu akan datang.
Rahmat. Anggota grup yang malu pada kisahnya, yang keluar diam-diam dan menelan terornya sendirian, yang ditemukan di tepi jembatan. Kematian yang mengajari Tari pahit bahwa senjatanya gagal pada mereka yang menolak bercerita. Kematian yang juga, ia tahu sekarang, meninggalkan luka di Sekar yang tak pernah sembuh—karena Rahmat dan Sekar dekat, karena Sekar yang mengajak Rahmat ke grup, karena Sekar yang merasa seharusnya ia melihat tanda-tandanya.
"Rahmat mati karena dia nutup pintunya sendiri," kata Tari, mengulang kata-kata yang dulu Bu Sri katakan padanya, kata-kata yang menyelamatkannya dari menyalahkan diri sampai hancur. "Bukan kamu. Memutus rantai nggak menjamin semua selamat, Sekar. Ada yang memang nutup pintunya sendiri dari dalam."
"Dia bilang beda." Sekar menatap ponselnya. "Dia bilang ada hutang. Aku diselametin dua kali. Di tepi lantai tiga, kamu narik aku turun. Di halte, kalian semua telepon aku barengan. Dua kali aku diselametin, Tar, dan tiap kali ada yang harus bayar. Wulan diselametin, Anto mati. Aku diselametin, dan..." Suaranya tercekat. "Dan Rahmat mati. Dia bilang akulah hutang yang belum lunas. Akulah yang harusnya udah dibayar dari dulu."
Tari merasa darahnya dingin, karena ini adalah kebohongan tertua dari semua kebohongan benda itu—cerita tentang bayaran, tentang keseimbangan, yang sama persis dengan yang ia dengar di malam-malam pertama Gang Mawar, yang membuat Rani percaya kematiannya akan menyelesaikan sesuatu, yang membuat Rani naik ke lantai tiga dan melangkah sendiri. Dan sekarang benda itu memakai kebohongan yang sama, tapi tidak pada korban acak. Pada Sekar. Lewat luka Rahmat. Lewat rasa bersalah yang sudah ada di sana, yang tinggal benda itu siram dan tumbuhkan.
"Itu bohong," kata Tari, dan suaranya pecah karena ia tahu seberapa dalam kebohongan ini sudah berakar. "Nggak ada hutang, Sekar. Nggak ada bayaran. Itu cerita yang sama yang dulu dia kasih ke Rani, biar Rani percaya dia harus mati. Aku udah buktiin itu bohong, kamu tahu aku udah buktiin—"
"Kamu buktiin buat kamu." Sekar mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kali ada air mata di sana, tapi juga keyakinan yang tak Tari bisa goyahkan dengan kata. "Buat aku, dia selalu bener, Tar. Tiap hal kecil yang dia bilang, kejadian. Gimana aku nggak percaya yang besar kalau yang kecil-kecil selalu kejadian?"
Tari membuka mulut, tapi Sekar sudah berdiri, meletakkan ponsel itu di kasur, layarnya dibiarkan menyala, dan ada ketenangan dalam gerakannya yang lebih menakutkan dari panik mana pun—ketenangan orang yang sudah memutuskan.
"Aku capek diselametin," kata Sekar pelan, dari ambang pintu. "Mungkin udah waktunya aku yang bayar, biar yang lain berhenti bayar buat aku."
Lalu ia pergi, melewati Tari, ke koridor terang yang tak lagi mampu menahannya, dan Tari berdiri sendirian di kamar yang ditinggalkan, tahu persis ke mana langkah Sekar akan membawanya—ke gedung mangkrak di tepi kota, ke ketinggian yang gelap, ke lift kaca yang menggantung mati di poros betonnya, menunggu.
Untuk pertama kali sejak Gang Mawar, entitas tidak berburu korban acak. Ia memakai luka lama untuk menarik kembali mangsa yang pernah lolos. Dan Tari berdiri sejenak di kamar yang sunyi itu, tangannya gemetar, menatap pintu yang baru saja dilewati Sekar.