Langkah Sekar belum lagi hilang dari koridor ketika Tari berbalik ke dalam kamar yang baru saja ditinggalkannya. Bau kopi instan yang mendingin dan pakaian yang terlalu lama menumpuk masih menggantung di udara. Tari mengenali bau itu; ia pernah tinggal di kamar seperti ini, dengan jendela yang menghadap tembok dan kipas angin yang berderak, di malam ketika ia sendiri nyaris memutuskan hal yang sama.
Di atas kasur, ponsel biasa itu tergeletak menghadap langit-langit, dibiarkan menyala oleh Sekar saat ia pergi. Hijau pucat. Layar yang mulus itu memancarkan cahaya rata yang justru terasa lebih salah daripada retakan mana pun—terang yang tenang, sabar, seperti sesuatu yang sudah selesai menunggu. Sekar tidak membawanya. Sekar tidak perlu lagi membawanya—itu yang membuat tengkuk Tari dingin. Benda itu sudah pindah dari kaca ke dalam kepala gadis itu, dan kini ia meninggalkan cangkang lamanya di sini seperti undangan, seperti umpan yang ditinggalkan supaya ada yang menemukan dan mengejar.
Tari tidak menyentuhnya. Ia tahu trik lama ini—membiarkan satu hal kecil menahan langkahmu, supaya kau telat satu menit di tempat yang menentukan. Ia memaksa matanya berpaling dari layar yang berdenyut pelan, terang lalu redup, seperti napas, dan ia tahu persis siapa yang sedang menunggu di sana untuk dilihat.
Sebab ia sudah tahu ke mana Sekar pergi. Pola lama itu sudah bergerak: bukan korban acak kali ini, bukan orang asing di kota sepi. Kali ini entitas memakai luka Rahmat, memakai rasa bersalah yang sudah ada di sana sejak lama, untuk menarik kembali mangsa yang pernah lolos dari tepi lantai tiga. Dan rasa bersalah tidak butuh dibujuk; ia hanya butuh dibiarkan tumbuh dalam gelap.
Tari menarik napas, lalu berlari keluar ke koridor, menuruni tangga dua-dua, ke jalan tempat hujan baru saja reda. Ia tidak bisa menelepon Sekar—ponselnya tertinggal di kasur, menyala sia-sia. Maka ia menelepon yang lain. Dimas, supaya membaca log daya dan menebak ke titik gelap mana benda itu menyeret korbannya. Yusuf, supaya membawa mobil dan seragam yang masih bisa membuka pintu-pintu yang disegel. Semua orang.
Untuk pertama kali sejak Gang Mawar, taruhannya bukan rasa takutnya sendiri. Bukan tentang menyalakan satu kota lagi, bukan tentang membuktikan benda itu bohong di hadapan banyak mata. Malam ini tentang satu orang yang ia sayangi, di tempat tertinggi yang masih gelap, yang sudah berhenti mendengar suara-suara hidup dan mulai mendengar lagi yang satu itu.
Ia berlari lebih cepat. Taruhannya nyawa Sekar.