Sekar sudah pergi, dan ponselnya tertinggal di kos, masih menyala, kontak bernama dirinya sendiri menunggu di dasar layar seperti undangan yang sudah dibalas.
Tari tahu ke mana ia pergi. Mereka semua tahu. Selama berminggu-minggu Dimas memetakan titik-titik di mana retakan masih melebar, di mana bisikan masih menguat, dan setiap garis pada peta itu menunjuk ke arah yang sama—sebuah gedung apartemen mangkrak di tepi kota, proyek yang berhenti separuh jalan, beton telanjang dan kaca yang belum semua terpasang, kantong gelap besar yang luput dari gerakan penjaga lampu. Tempat tertinggi yang masih gelap.
"Naik ke tempat tinggi," gumam Tari di dalam mobil Yusuf, menatap hujan yang menampar kaca depan. Pola lama itu bergerak lagi. Sebelas korban naik ke ketinggian. Rani dari lantai tiga. Dan kini entitas itu, terdesak dari petak-petak terang, menarik mangsanya ke satu-satunya gelap yang tersisa, gelap yang ia siapkan sendiri.
Yusuf menyetir dengan rahang mengencang, seragamnya basah karena ia tak sempat ganti. "Aku sudah telepon pos terdekat. Mereka bilang gedung itu disegel, tapi pintunya sering dijebol anak-anak. Listriknya harusnya mati total."
"Tapi tadi kamu lihat sendiri," sahut Dimas dari kursi belakang. Ia memangku laptop yang layarnya memantul di wajahnya. "Konsumsi daya di gedung itu naik tiga jam terakhir. Dari nol. Mati total nggak begitu, Pak. Ada yang nyalain genset, atau—" Ia berhenti, karena penjelasan teknis selalu berhenti di tempat yang sama akhir-akhir ini, di dinding yang tidak bisa ia jelaskan.
Tari menggenggam HT pinjaman di pangkuannya. Mereka tiba di kaki gedung saat hujan paling deras, dan gedung itu menjulang di hadapan mereka seperti tulang belulang raksasa, dua belas lantai beton tanpa cahaya kecuali satu hal. Di sisi luar gedung, sebuah lift kaca tua—lift barang yang dipasang kontraktor dan tak pernah dibongkar—bergerak. Naik. Pelan, tersendat, kotak kaca yang menyala redup oleh lampu daruratnya sendiri, merayap naik di sepanjang dinding luar gedung gelap seperti satu-satunya jantung yang masih berdetak di bangkai.
"Itu nggak mungkin nyala," kata Yusuf pelan. "Nggak ada listrik."
Tari sudah keluar dari mobil sebelum ia selesai bicara, hujan langsung membasahinya sampai ke tulang. Ia mendongak, dan di dalam kotak kaca yang merayap naik itu, ia melihat sosok kecil. Sekar. Berdiri menghadap dinding kaca, ponsel di tangan—bukan ponselnya yang tertinggal, melainkan ponsel lain, layar lain, gelap lain. Entitas tidak butuh benda khusus. Hanya butuh gelap dan sepi dan tangan yang sudah lelah.
"Sekar!" Tari berteriak, tapi suaranya tenggelam dalam hujan dan jarak. Lift terus naik, melewati lantai empat, lima, enam, lampu daruratnya berkedip-kedip seperti kode yang hanya bisa dibaca oleh sesuatu di balik retakan.
Dimas berlari ke kotak panel listrik di dasar gedung, menyenter dengan ponselnya. "Panelnya mati, Tari! Semua tuas turun! Listriknya bener-bener mati, tapi lift itu jalan!" Suaranya pecah di akhir, keskeptisan terakhir yang akhirnya runtuh total di tengah hujan.
Yusuf sudah mengontak pos, meminta bantuan, meminta teknisi, meminta apa pun. Tari hampir tidak mendengarnya. Ia menatap lift kaca yang terus naik, panggung yang disiapkan entitas di kantong gelapnya sendiri, dan ia tahu bahwa kali ini ia tidak akan bisa memanjat ke tepi dan menarik Sekar turun dengan tangannya. Tidak ada tepi. Hanya kaca, kabel, ketinggian, dan suara—suara entitas yang pasti sudah memenuhi ruang sempit itu dari setiap layar, membisikkan pada Sekar bahwa ia akhirnya, akhirnya, penting.
Lampu darurat di lantai-lantai gedung mulai berkedip satu per satu, seakan bangunan itu sedang bangun. Lift berhenti di antara lantai sembilan dan sepuluh, tergantung di tengah dinding kaca, dan diam.
Tari menarik HT ke mulutnya, tangannya gemetar bukan karena dingin, dan mulai mencari frekuensi mana pun yang bisa menjangkau ke atas sana.