Listrik gedung anjlok sepenuhnya tepat saat lift berhenti, dan Tari melihat lampu darurat di dalam kotak kaca itu meredup menjadi titik jingga yang sekarat, lalu mati.
Sekar terperangkap. Sembilan lantai di atas tanah, dalam kotak kaca yang tergantung di sisi luar gedung, tanpa lantai di bawahnya kecuali ketinggian dan hujan. Bukan tepi atap. Tidak ada pegangan yang bisa Tari raih, tidak ada tubuh yang bisa ia tarik. Hanya kaca yang memisahkan Sekar dari jatuh, dan kabel yang memisahkan lift dari runtuh, dan suara entitas yang—Tari yakin—sedang memenuhi tiap senti ruang sempit itu.
"Pintu darurat lift biasanya ada interkomnya," kata Dimas, basah kuyup, sudah membongkar panel di dasar tiang lift. Tangannya bergerak cepat, menyambung kabel dengan kabel, menyalakan senter di antara giginya. "Sistem lama. Kalau bateri cadangannya masih hidup, kita bisa ngomong ke dalam. Dua arah."
Tari berlutut di sampingnya di genangan air, menatap kotak hitam kecil yang Dimas keluarkan, dan di sana, di antara debu dan karat, sebuah lampu indikator hijau menyala lemah. Hidup. Dimas menyodorkan gagang interkom padanya, lalu Yusuf menyodorkan HT-nya yang sudah ia setel ke pengeras, dua jalur suara yang akan ia pakai menjangkau ke atas sana.
Tari menekan tombol bicara. "Sekar. Ini Tari. Kamu dengar aku?"
Hening. Hanya desis statis dan suara hujan di logam. Tari menekan lagi, lebih keras, menahan rasa panik yang naik di tenggorokannya. "Sekar. Aku tahu kamu dengar suara lain di situ. Aku tahu dia ngomong terus. Tapi aku juga di sini. Aku di bawah. Aku nyata."
Lalu, akhirnya, suara—tipis, jauh, hampir tenggelam dalam statis. "Kamu nggak harusnya datang, Tari."
Tari memejamkan mata sebentar, lega yang menyakitkan. Sekar masih bicara. Sekar masih ada. "Aku selalu datang. Sudah kubilang." Ia menjaga suaranya tetap rendah, tetap mantap, walau jantungnya berdebar liar. "Sekar, dengar. Lift kamu macet karena listrik mati. Bukan karena dia. Dia nggak bisa nyentuh apa-apa, ingat? Dia cuma bisa lihat dan ngomong. Listrik yang macetin lift, bukan dia."
"Dia bilang lift ini berhenti karena sudah waktunya." Suara Sekar bergetar. "Dia bilang aku tinggal buka pintunya. Tinggal langkah satu kali. Buat Ibu. Ibu masih sakit, Tari. Kalau aku bayar, Ibu sembuh. Dia janji."
Di balik kaca yang jauh di atas sana, dalam gelap, Tari membayangkan retakan di layar Sekar berdenyut, menyusun wajah pucat berlubang mata, menyentuh luka yang paling dalam—bukan rasa terpilih, kali ini, melainkan cinta. Cinta pada ibu yang sakit. Senjata paling tajam, dipakai pada saat Sekar paling lelah.
"Dia bohong soal Ibu," kata Tari, dan suaranya retak. "Sekar, dengar aku baik-baik. Dia nggak bisa nyembuhin siapa-siapa. Dia cuma bisa nakut-nakutin orang yang sendirian. Kamu nggak sendirian. Aku di bawah. Dimas di bawah. Yusuf di bawah. Bu Sri—" Ia ragu sebentar. "Bu Sri juga tahu kamu di sini. Kita semua tahu. Kamu nggak punya hutang apa-apa, Sekar. Hutang itu cerita yang dia kasih supaya kamu mau jatuh."
Statis. Lalu, dari atas, suara baru—bukan suara Sekar. Suara dari interkom itu sendiri, dari speaker kecil yang seharusnya cuma menyalurkan suara mereka, kini berbicara dengan nada yang Tari kenali dari mimpi-mimpi terburuknya, datar dan dingin dan sabar.
"Dia milikku sekarang, Tari. Kamu sampai terlalu jauh untuk yang ini."
Tari menatap kotak interkom di tangannya, lampu hijaunya berdenyut seirama dengan suara itu, dan ia sadar entitas sudah menemukan kabel yang sama, jalur suara yang sama yang ia pakai untuk menjangkau Sekar. Mereka kini berbagi saluran. Setiap kata Tari kirim ke atas, benda itu mendengarnya. Setiap kata benda itu kirim ke bawah, Sekar mendengarnya.
Hujan turun lebih deras. Sembilan lantai di atas, kotak kaca itu bergoyang pelan dalam angin, dan di dalamnya seorang gadis berdiri di antara dua suara—satu menariknya ke gelap, satu memanggilnya kembali ke hidup—dengan tangannya sendiri di atas pintu yang hanya bisa dibuka olehnya sendiri.