Tari memutuskan untuk tidak melawan suara itu dengan suaranya sendiri. Ia sudah belajar, bertahun-tahun lalu di koridor Gang Mawar, bahwa benda itu tak bisa dikalahkan dalam adu bujuk satu lawan satu. Yang membuatnya kelaparan bukan argumen. Yang membuatnya kelaparan adalah suara manusia yang banyak, nyata, dan dikenal—suara yang mengisi ruang sampai tak ada gelap tersisa untuk ditempatinya.
Maka ia tidak menjawab tantangan entitas. Ia mengeluarkan dari saku jaketnya selembar kertas terlipat yang sudah lusuh, basah di tepinya, dan di bawah senter Dimas ia mulai membaca keras-keras ke dalam interkom.
"Namaku Rani. Kalau kamu menemukan ini, berarti kamu sudah punya ponselnya."
Statis di saluran itu mendesis lebih keras, seperti gangguan, seperti tangan yang mencoba menutup mulut. Tari membaca lebih keras, mengatasi desis itu, kata demi kata peringatan yang dulu ia temukan di folder yang seharusnya jangan dibuka.
"Dia akan benar tentang kematian, dan itu membuatmu percaya. Dia akan menyuruhmu menyelamatkan seseorang, dan kamu akan merasa hebat. Lalu dia akan minta bayaran. Jangan dengarkan dia soal bayaran. Bayaran itu kebohongan. Tidak ada keseimbangan. Dia cuma lapar."
"Berhenti," kata suara dari speaker, dan untuk pertama kali ada sesuatu yang lain di nadanya. Bukan ketenangan. Sesuatu yang lebih tipis. "Itu kata-kata orang mati. Rani mati, Tari. Apa gunanya suara orang mati?"
"Gunanya," sahut Tari, dan ia tidak bicara pada entitas, ia bicara pada Sekar, lurus ke atas melalui kabel itu, "supaya Sekar tahu dia bukan yang pertama dibohongi pakai cerita yang persis sama. Sekar, dengar daftar ini. Dengar baik-baik."
Dan ia mulai membaca nama-nama itu. Dua belas nama yang ia, Yusuf, dan Bu Sri susun bertahun-tahun lalu di meja makan Wonokromo, dua belas perantau yang kesepian di kota besar, dua belas orang yang membeli keberuntungan seharga lima puluh ribu, dua belas yang dibisiki bahwa mereka istimewa, bahwa mereka terpilih, bahwa kematian mereka akan menyelamatkan seseorang. Ia membaca nama Pak Hardi, walau Pak Hardi mati oleh jantungnya sendiri. Ia membaca nama Anto, yang tergelincir di kamar mandi pada waktu yang terlalu pas. Ia membaca nama Rani Oktaviani, jatuh dari lantai tiga. Ia membaca sampai ke nama dirinya sendiri—Tari, korban ke-12 yang seharusnya, yang masih hidup karena ia berhenti mendengar dalam gelap dan mulai bercerita dalam terang.
"Aku masih hidup, Sekar," katanya, suaranya pecah dan basah. "Aku korban yang gagal dia panen. Karena aku nggak sendirian pas paling penting. Itu aja bedanya. Itu satu-satunya bedanya antara aku dan Rani."
Dari atas, suara Sekar, lebih dekat sekarang, seakan ia telah berjalan ke dinding interkom. "Tapi Ibu—"
"Ibumu butuh kamu hidup, bukan kamu jatuh," potong Tari. "Hutang itu nggak ada. Tanya dia, Sekar. Tanya langsung. Tanya berapa orang yang dia janjiin sembuh, terus mati duluan setelah pemiliknya jatuh."
Hening. Lalu suara entitas, dan kali ini Tari mendengar apa yang ia tunggu—nada itu, nada yang sama yang ia dengar di malam keempat belas dulu, saat benda itu mulai memohon alih-alih mengancam.
"Tari. Kita sudah lama saling kenal. Kamu dan aku. Tinggalkan dia satu ini, dan aku akan diam. Lama. Kamu bisa istirahat. Kamu lelah. Aku lihat kamu lelah."
Tari hampir tertawa, tawa pendek dan getir yang sama dengan tawa pertamanya di mulut Gang Mawar dulu, saat ia masih mengira ini cuma keisengan orang. "Dia minta-minta, Sekar," katanya. "Dengar suaranya. Dia nggak ngancam lagi. Dia mohon. Benda yang sekuat itu nggak akan mohon kalau dia menang. Dia mohon karena dia lapar, dan kamu satu-satunya makanannya malam ini, dan dia tahu kamu hampir lepas."
Di balik kaca yang jauh, dalam gelap dan hujan, Tari tak bisa melihat wajah Sekar. Tapi ia bisa mendengar, lewat statis, suara napas yang berubah—dari napas seseorang yang sudah menyerah menjadi napas seseorang yang mulai bertanya. Dan bertanya, Tari tahu, adalah retakan pertama dalam keyakinan yang dipakai entitas untuk menjeratnya.
Ia tidak menariknya. Ia tidak bisa. Yang ia lakukan hanya terus bicara, terus mengisi ruang sempit itu dengan suara manusia yang nyata, sampai tak ada celah sunyi tersisa untuk benda itu duduki.