Hujan mulai mereda menjelang dinihari, berubah dari deras menjadi rintik, dan dalam keheningan baru itu suara-suara di saluran interkom terdengar lebih jelas—dua suara melawan satu, suara hidup melawan suara yang hanya bisa melihat dan bicara.
Tari sudah membaca habis kertas peringatan Rani. Ia sudah membacakan dua belas nama. Kini ia melakukan hal yang berbeda; ia tidak lagi membantah entitas, tidak lagi membongkar kebohongannya. Ia hanya bicara pada Sekar tentang hal-hal kecil yang nyata, hal-hal yang tidak bisa dimiliki sesuatu yang hidup di gelap. Ia bicara tentang halte tempat mereka bertemu pertama kali. Tentang kopi yang Sekar suka, terlalu manis, yang selalu Dimas keluhkan. Tentang ibu Sekar yang mengirim sambal dalam toples bekas, yang baunya memenuhi kos sampai semua orang minta. Tentang bagaimana Sekar pernah, di hari paling baik mereka, tertawa begitu keras di pasar sampai pedagang ikut tertawa tanpa tahu apa yang lucu.
"Itu yang dia nggak punya, Sekar," kata Tari pelan. "Dia nggak punya satu pun dari itu. Dia cuma punya gelap dan janji-janji. Kamu punya ibumu, punya kami, punya kopi kemanisan dan pasar yang ramai. Mana yang lebih nyata?"
Dari atas, terdengar suara entitas, lebih tipis sekarang, hampir tergesa. "Sekar. Pintunya. Buka pintunya, dan semuanya selesai. Kamu nggak akan capek lagi. Kamu nggak akan merasa bersalah lagi soal Rahmat. Kamu—"
"Dia sebut Rahmat lagi," Tari memotong, cepat. "Dengar, Sekar. Dia sebut Rahmat tiap kali dia hampir kehilangan kamu. Karena Rahmat satu-satunya kail yang masih nyangkut. Tapi Rahmat memilih diam. Kamu nggak. Kamu masih ngomong sama aku. Selama kamu masih ngomong, kamu menang. Dengar suaramu sendiri, Sekar. Itu suara orang hidup."
Hening panjang. Statis berdesis. Lalu suara Sekar, dan ada sesuatu yang baru di sana, sesuatu yang Tari tidak berani namai karena takut menghancurkannya. "Pintu liftnya... ada tuas darurat. Merah. Di samping."
Jantung Tari melompat. Ia menahan diri agar tidak berteriak. "Iya," katanya, sehalus mungkin. "Iya, Sekar. Tuas itu buat kamu. Bukan buat dia. Tangan kamu yang pegang, bukan tangan dia. Dia nggak punya tangan, ingat? Dia nggak pernah punya."
"Jangan," kata suara dari speaker, dan untuk pertama kali sepanjang malam itu, ada yang pecah dalam nadanya, sesuatu seperti panik yang dibungkus tenang. "Sekar, kalau kamu buka itu, hutangmu nggak akan pernah lunas. Ibumu—"
"Dia bohong soal Ibu," kata Sekar, dan suaranya tidak ditujukan ke bawah, ke Tari. Suaranya ditujukan ke atas, ke gelap, ke layar yang berdenyut di tangannya. Suara seseorang yang akhirnya bertanya, lalu menjawab pertanyaannya sendiri. "Kamu bohong. Kamu selalu bohong. Rani benar."
Lalu Tari mendengarnya melalui kabel—suara logam yang berderit, tuas yang ditarik dengan kekuatan yang lahir dari keputusan, bukan dari ketakutan. Pintu lift kaca itu terbuka dengan paksa, manual, oleh tangan seorang gadis yang memutuskan ia ingin hidup. Angin dan rintik hujan menerobos masuk. Dan di atas sana, di lantai sembilan, lampu darurat koridor gedung—yang seharusnya mati total—berkedip menyala, satu, dua, seakan bangunan itu sendiri tak sanggup lagi menahan gelapnya.
Sekar melangkah keluar dari kotak kaca itu, ke koridor beton yang terang oleh lampu darurat, dan jauh di bawah, dalam genangan air dan senter yang gemetar, Tari mendengar langkah kaki itu lewat interkom dan menangis tanpa suara, karena ia tahu—untuk pertama kali dengan pasti—bahwa Sekar tidak ditarik turun oleh siapa pun.
Sekar berjalan keluar sendiri.
Di saluran itu, suara entitas berkata satu hal terakhir sebelum statis menelannya, dan suaranya tipis seperti gema dari ruangan yang mengosong. "Akan ada yang lain, Tari. Selalu ada yang lain."
Lalu hening. Hanya hujan, dan napas Sekar yang hidup, dan kota yang mulai terang di ufuk timur.