Mereka membawa Sekar turun lewat tangga darurat saat fajar memutih, basah dan menggigil tapi hidup, dan untuk beberapa saat di kaki gedung itu Tari membiarkan dirinya percaya bahwa malam ini adalah kemenangan.
Sekar duduk di bangku belakang mobil Yusuf, terbungkus jaket Dimas yang juga basah, memegang gelas teh hangat dari warung yang baru buka dengan dua tangan gemetar. Ia tidak banyak bicara. Tapi sesekali ia menatap Tari, dan dalam tatapan itu tidak ada tirai yang turun, tidak ada keyakinan dingin orang yang sudah memutuskan untuk selesai. Hanya kelelahan, dan rasa malu, dan—Tari mengenalinya—awal dari rasa syukur yang belum tahu bagaimana mengucapkan dirinya.
"Aku hampir," kata Sekar pelan, suaranya parau. "Aku hampir buka pintu itu buat dia, bukan buat aku. Tari, aku hampir—"
"Tapi kamu nggak." Tari berlutut di samping pintu mobil yang terbuka, menatap Sekar. "Kamu buka buat kamu sendiri. Aku nggak narik kamu. Aku nggak bisa. Itu tangan kamu, Sekar. Keputusan kamu. Ingat itu. Kalau besok dia bisik-bisik lagi, ingat malam ini kamu pilih hidup pakai tangan kamu sendiri."
Sekar mengangguk, dan air mata jatuh ke gelas tehnya, dan Tari memeluknya untuk waktu yang lama di pagi yang dingin itu.
Tapi kemenangan tidak pernah utuh dengan benda ini. Tari tahu itu bahkan saat ia memeluk Sekar. Ia mendongak ke gedung mangkrak yang menjulang di belakang mereka, dua belas lantai beton gelap, dan kotak kaca lift yang kini tergantung diam, pintunya terbuka, kosong. Sekar selamat. Tapi gedung itu tetap di sana. Kantong gelapnya tetap utuh. Sembilan lantai sunyi yang tak terjangkau gerakan apa pun, tempat sebuah benda yang lapar bisa mundur dan menunggu.
Dimas menghampirinya, laptopnya sudah kembali ke tangan walau matanya berkantung. "Konsumsi daya turun lagi," katanya pelan. "Ke nol. Begitu Sekar keluar lift, gedung ini balik mati total. Seakan—" Ia menggeleng. "Seakan dia kehilangan alasan buat nyala."
"Dia kehilangan Sekar," kata Tari. "Bukan kehilangan lapar."
Dimas terdiam, lalu mengangguk. Mereka berdua tahu bedanya sekarang. Bertahun-tahun memburu benda ini mengajari Tari satu hal yang pahit di atas semua hal lain: menyelamatkan satu orang tidak pernah menyentuh sumbernya. Ia menarik Wulan dari takdirnya dulu, dan Anto yang membayar. Ia menarik Sekar dari tepi lantai tiga dulu, dan benda itu hanya mundur lalu kembali dari arah yang berbeda, lewat luka yang berbeda. Kini ia menarik Sekar dari lift kaca, dan benda itu—ia yakin—sudah mundur ke gelap berikutnya, kantong sepi berikutnya, tangan lelah berikutnya di suatu tempat di kota yang besar dan penuh ini.
Ia memburu satu per satu, dan untuk tiap satu yang ia selamatkan, gelap di kota itu seakan tidak berkurang sama sekali.
Yusuf datang dengan secangkir kopi yang ia paksakan ke tangan Tari. "Kita selamatkan dia, Tari. Itu bukan kecil."
"Bukan kecil," Tari setuju. Ia menggenggam kopi itu, hangatnya merembes ke jarinya yang membeku. "Tapi nggak cukup, Yusuf. Gedung itu masih di situ. Besok ada gedung lain. Lusa ada kos lain, halte lain, sudut gelap lain. Aku nggak bisa terus lari dari satu lift kaca ke lift kaca berikutnya sampai aku tua."
Ia menatap kota yang mulai bangun di kejauhan, lampu-lampu rumah yang menyala satu per satu, dan di antara setiap cahaya itu ia tahu ada celah—kamar yang sepi, layar yang menyala dalam gelap, tangan yang menghitung keberuntungan dalam lembaran lima puluh ribuan. Ia tidak bisa menjaga setiap lampu. Tak seorang pun bisa.
"Aku butuh sesuatu yang sebesar kotanya sendiri," katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Yusuf. "Bukan nambal satu-satu lagi. Sesuatu yang nggak nyisain satu sudut gelap pun buat dia mundur."
Di belakangnya, gedung mangkrak itu berdiri gelap dan sabar, seperti benda yang ditinggalkan tuannya hanya untuk sementara.