Bisikan-bisikan itu kembali menyebar dalam minggu-minggu setelah gedung mangkrak, dan kali ini Tari merasakannya seperti seseorang yang menahan napas merasakan udara mulai habis.
Laporan datang dari kantong-kantong gelap yang tersisa, petak-petak kota yang belum terjangkau gerakan penjaga lampu. Seorang perantau di rumah susun pinggiran yang mulai bicara sendiri. Sebuah layar retak yang dibeli murah di pasar loak Sidoarjo. Bisikan di ponsel biasa, bukan layar retak, di kamar kontrakan yang sepi. Entitas tidak terikat satu benda, tidak terikat satu tempat; ia mengalir ke gelap mana pun yang tersisa, seperti air mencari celah terendah. Dan setiap laporan, Dimas menandainya di peta, dan titik-titik itu tidak lagi menyusut seperti dulu. Mereka berkedip menyala kembali, satu per satu, di tepi-tepi terang yang sudah susah payah mereka bangun.
"Dia nggak nyebar acak," kata Dimas suatu malam, di ruang depan rumah Bu Sri di Wonokromo, peta tergelar di meja makan yang sama tempat dulu mereka menyusun dua belas nama. "Lihat polanya. Dia mundur ke kantong-kantong gelap, ngumpul, terus narik napas. Kayak nahan diri sebelum—" Ia tidak menyelesaikannya.
"Sebelum musim laparnya berikutnya," Tari menyelesaikan untuknya.
Bu Sri menuangkan teh, gerakannya tenang seperti dulu, tapi matanya tidak. Ia sudah kembali—kembali penuh, setelah berbulan menjauh dengan terang-terangan, setelah jujur pada Tari bahwa entitas mulai berbisik padanya juga dan ia memilih pamit agar tidak menjadi celah dari dalam. Kini ia duduk di meja itu dengan penjelasan utuh sudah diberikan, bisikan di telinganya sudah ia bagikan pada semua, racunnya sudah dilucuti dengan diceritakan. Lingkaran terang itu lengkap lagi.
"Saya kenal jeda ini," kata Bu Sri pelan. "Saya lihat di Rani, sebelum tiga bulan terakhirnya. Tenang yang salah. Diam sebelum dia mulai serius." Ia menatap Tari. "Dia lagi ngumpulin diri, Mbak. Dari semua sudut yang masih dia punya."
Yusuf menyandar di kusen pintu, lengannya bersedekap. "Kita bisa kejar titik-titik itu satu-satu, kayak biasa. Tambah relawan di sana. Tambal."
"Nggak." Tari berkata itu lebih tajam dari yang ia maksud, lalu melembut. "Maaf. Tapi nggak, Yusuf. Kita sudah coba itu. Aku coba perluas gerakan terlalu cepat dulu, dan relawan kewalahan, dan titik-titiknya kambuh, dan Rahmat—" Ia berhenti. Nama itu masih perih. "Nambal sepotong-sepotong cuma menggeser laparnya. Aku selamatkan Sekar di lift, dia mundur ke tempat lain. Aku tutup satu kos, dia pindah ke kos sebelah. Selama masih ada satu sudut gelap buat dia mundur, dia nggak akan pernah benar-benar lapar. Dia cuma pindah meja."
Sekar, yang duduk diam di ujung meja sejak tadi, akhirnya bicara. Suaranya lebih kuat dari minggu-minggu lalu, walau matanya masih menyimpan apa yang ia lihat di lift kaca itu. "Jadi gimana?"
Tari menatap peta. Titik-titik gelap yang berkedip. Garis-garis terang yang susah payah dibangun. Seluruh kota terbentang di kertas itu, dengan semua kesepiannya, semua sudut yang luput, semua layar yang menunggu tangan kesepian. Selama ini ia berburu benda di dalam kota. Mungkin masalahnya justru di situ—ia memburu di dalam, satu titik, satu malam, satu lift, sementara benda itu memakai seluruh kota sebagai tempat sembunyi.
"Selama dia punya satu gelap buat mundur, kita kalah pelan-pelan," kata Tari akhirnya. "Jadi kita harus bikin satu malam tanpa satu pun gelap buat dia mundur. Satu malam. Seluruh kota. Setiap layar terkutuk dikumpulkan, setiap orang sepi ditemani serentak, semuanya di tempat yang sama, di waktu yang sama, terang semua." Ia mengangkat wajah, dan menatap satu per satu mereka—Bu Sri yang sudah kembali, Yusuf, Dimas, Sekar yang memilih hidup dengan tangannya sendiri. "Bukan nambal lagi. Bukan satu titik. Satu malam buat seluruh kota, di mana dia nggak punya satu sudut pun buat ngumpet."
Untuk sesaat tak ada yang bicara. Di luar, lampu jalan Wonokromo menyala kuning, dan dari kejauhan terdengar suara kota yang tak pernah sepenuhnya tidur. Tari merasakan beratnya yang ia usulkan—sesuatu yang belum pernah ia coba, sesuatu yang bisa gagal sebesar ia bisa berhasil—dan di balik beratnya itu, untuk pertama kali sejak gedung mangkrak, ia merasakan sesuatu yang lain. Bukan harapan, persis. Tapi arah.
Bu Sri mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Tari di atas peta, cengkeraman yang sama kuatnya seperti bertahun-tahun lalu saat ia menyuruh Tari membuang ponsel itu. Kali ini ia tidak menyuruh membuang apa pun.
"Kalau begitu," kata Bu Sri, "kita siapkan malamnya."
Di suatu tempat di kota itu, di sudut yang belum mereka jangkau, sebuah layar retak menyala dalam gelap, dingin dan sabar, menunggu—dan untuk pertama kali, sesuatu sedang bersiap menyalakan seluruh kota sekaligus untuk menemukannya.