Mereka menyebutnya malam terang, walau tak satu pun dari mereka berani menyebutnya kemenangan sebelum ia terjadi.
Butuh tiga minggu menyiapkannya. Tari, Dimas, Yusuf, Bu Sri, dan Sekar membagi kota dalam petak-petak di peta meja makan Wonokromo, dan untuk setiap petak gelap yang berkedip mereka menugaskan relawan—penjaga lampu yang sudah terlatih sejak malam mati listrik dulu. Dimas menyiapkan satu siaran grup lintas kota, jaringan panggilan yang menyambungkan tiap rumah, tiap kos, tiap kamar kontrakan yang melapor punya layar retak. Bukan rapat. Bukan demonstrasi. Hanya sebuah malam di mana setiap orang yang pernah mendengar suara di layarnya, dan setiap orang yang menemani mereka, akan menyala dan bersuara pada waktu yang sama.
"Pukul sebelas," kata Tari di malam pelaksanaan, berdiri di tengah aula serbaguna kelurahan yang mereka pinjam, ruang yang biasanya kosong dan kini penuh manusia, lampu, dan kabel. "Begitu jam menunjukkan pukul sebelas, semua nyalakan layar terkutuknya. Semua. Serentak. Dan kita baca bareng-bareng."
Ia menatap meja panjang di tengah aula. Di atasnya tertumpuk puluhan ponsel berlayar retak, dikumpulkan dari seluruh kota dalam tiga minggu terakhir—dari pasar loak Sidoarjo, dari rumah susun pinggiran, dari kamar-kamar sepi yang pemiliknya akhirnya mau menyerahkannya. Semuanya mati. Semuanya dingin. Semuanya menunggu satu hal yang sama: tangan kesepian, ruangan gelap, satu orang sendirian. Malam ini Tari memberinya kebalikan dari semua itu sekaligus.
Pukul sebelas kurang lima menit, Bu Sri menggenggam tangannya. "Saya di sebelahmu," kata Bu Sri pelan. "Kita semua di sebelahmu. Inget itu pas dia mulai ngomong. Dia bakal cari kamu, Mbak. Dia selalu cari yang paling capek."
Tari mengangguk. Ia tahu. Itulah taruhannya.
Lalu jam menunjukkan pukul sebelas, dan Dimas memberi aba-aba, dan di seluruh kota—di aula ini, di kamar-kamar yang tersambung lewat panggilan, di rumah susun pinggiran, di kos-kos yang dulu sepi—layar-layar retak menyala serempak.
Untuk satu detik, hening. Lalu Tari mengangkat kertas peringatan Rani yang sudah lusuh, basah oleh keringat tangannya sendiri, dan ia mulai membaca. Tapi kali ini ia tidak membaca sendirian. Suaranya disusul suara Sekar, lalu suara Dimas, lalu suara Bu Sri dan Yusuf, lalu puluhan suara di aula, lalu ratusan suara dari speaker ponsel yang tersambung dari seluruh penjuru kota—perantau yang dulu sendirian, keluarga korban yang dulu menyimpan rahasia, orang-orang asing yang hanya tahu mereka pernah mendengar sesuatu di layar dan tak pernah berani menceritakannya.
"Namaku Rani. Kalau kamu menemukan ini, berarti kamu sudah punya ponselnya."
Ratusan suara membacanya bersama, dan ruang aula bergetar oleh paduan itu, dan untuk pertama kali sejak Tari mengenal benda ini, ia mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar dari layar terkutuk: gangguan. Bukan suara entitas yang datar dan sabar. Statis. Desis. Layar-layar di meja panjang itu mulai berkedip, tidak teratur, seakan terlalu banyak terang menumpuk di tempat yang biasanya hanya ditinggali satu gelap.
Lalu suara itu datang—dari setiap layar sekaligus, tumpang tindih dengan dirinya sendiri, datar tapi tergesa. "Tari. Tari. Hentikan ini. Kamu nggak ngerti apa yang kamu—"
"Dengar dia," kata Tari ke seluruh aula, ke seluruh kota lewat siaran. "Suaranya pecah. Dengar. Dia biasanya satu suara di satu telinga di satu kamar gelap. Sekarang dia harus ngomong ke ratusan orang sekaligus, di tempat terang, dan dia nggak bisa. Dia nggak pernah bisa. Baca terus. Jangan berhenti."
Dan mereka membaca terus—dua belas nama, satu per satu, ratusan mulut menyebut Pak Hardi, Anto, Rani Oktaviani, sebelas korban yang dulu mati sendirian dalam gelap dan kini namanya diucapkan di tempat yang paling terang dan paling ramai di kota. Setiap nama yang dibaca bersama menggetarkan layar-layar di meja itu lebih keras. Retakan-retakan di kaca mereka—Tari menatapnya, tak percaya—berhenti tumbuh. Beberapa, di unit yang paling lama mati, mulai terlihat seakan menyusut, garis-garis halus yang merapat sedikit demi sedikit di bawah cahaya aula.
Suara entitas mencari celah. Tari mendengarnya berpindah, dari satu layar ke layar lain, mencoba menemukan satu telinga yang sepi, satu sudut yang gelap, satu orang yang sendirian di antara ratusan. Ia menyebut Rahmat. Ia menyebut ibu Sekar yang sakit. Ia menyebut kelelahan Tari sendiri, lembut, hampir sayang, ke arah satu-satunya orang yang ia tahu paling letih di ruangan itu.
Tapi tak ada celah. Setiap kali suara itu mulai berbisik ke satu orang, sepuluh orang lain di sebelahnya bersuara lebih keras. Setiap kali ia mencari gelap, ada lampu di sana. Setiap kali ia mencari sepi, ada nama yang dibaca bersama. Untuk pertama kali sepanjang sejarah panjang laparnya, benda itu tidak punya satu pun sudut untuk mundur.
Tari merasakan tangannya gemetar memegang kertas Rani, bukan karena takut sekarang, melainkan karena beban dari apa yang sedang terjadi—sesuatu yang lebih besar dari satu lift kaca, lebih besar dari satu halte, lebih besar dari dirinya. Ia mengangkat wajah, menatap ratusan orang yang menyala dan bersuara di aula dan di seberang layar, dan ia tahu malam ini belum selesai. Benda itu masih bicara. Suaranya masih ada, tipis dan terdesak, tapi belum padam.
"Sekali lagi," kata Tari, suaranya pecah tapi mantap, ke seluruh kota yang mendengarkan. "Dari nama yang pertama. Kita baca lagi. Kita baca sampai dia nggak punya tempat buat ngumpet."
Dan seluruh kota mulai membaca namanya bersama-sama.