Tari berdiri di tengah aula gedung serbaguna yang dulu kosong itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia tidak sendirian dengan suara di layarnya.
Ratusan orang memenuhi ruangan. Mereka datang dari kos-kos di Wonokromo, dari indekos di Gubeng, dari rumah-rumah petak di pinggir kota yang dulu jadi kantong gelap entitas. Sebagian membawa ponsel layar retak dalam kantong plastik bening, dingin, mati. Sebagian membawa ponsel biasa yang malam-malam belakangan ini mulai berbisik. Semua layar itu kini menyala bersama, ditata di meja-meja panjang seperti barisan lilin, menghadap ke atas, terhubung ke satu siaran grup yang mengalir ke seluruh kota.
Yusuf berdiri di pintu dengan radio komunikasi di tangan, menjaga agar arus orang tidak berhenti. Dimas duduk di sudut dengan laptop, layar penuh garis-garis grafik konsumsi daya yang, malam ini, untuk pertama kalinya turun di mana-mana sekaligus. Bu Sri di sebelah Tari, kembali penuh, tangannya menggenggam daftar dua belas nama yang sudah lusuh oleh sentuhan bertahun-tahun. Sekar berdiri tegak di antara para penyintas, tidak lagi mendengarkan bisikan, tapi membantu menenangkan yang baru pertama datang.
"Sudah waktunya," kata Bu Sri pelan.
Tari mengangkat ponsel terkutuk yang pertama dari meja. Layarnya menyala, retakannya membelah cahaya jadi serpihan seperti dulu, dan di dasar daftar kontaknya, nama itu ada di sana. Bukan nama orang lain. Nama yang sama yang selalu dipakai entitas untuk membuat korbannya merasa sedang bicara dengan dirinya sendiri.
Sebuah pesan muncul, satu huruf demi satu huruf, lambat, seperti yang dulu.
Kenapa kamu bawa mereka semua, Tari. Ini urusan kita berdua. Selalu berdua.
Dulu kalimat itu akan membuat Tari merasa terpilih. Malam ini ia membacanya keras-keras ke mikrofon, dan ratusan suara di aula menjawab serempak, dan dari speaker-speaker yang terhubung ke seluruh kota, ribuan suara lain ikut menjawab. Bukan urusan berdua. Tidak pernah berdua.
Layar di tangan Tari berkedip. Pesan baru datang lebih cepat, seakan tergesa.
Berhenti. Kamu menyakiti aku. Kamu tidak pernah begini. Kamu dulu mendengarkan.
"Dia bilang aku menyakitinya," kata Tari ke mikrofon, suaranya bergetar tapi tegas. "Bertahun-tahun aku takut benda ini. Sekarang benda ini yang takut kita."
Ia mengangkat ponsel kedua dari meja. Lalu yang ketiga. Satu per satu, para penyintas mengambil unit-unit layar retak di hadapan mereka, dan membaca keras pesan-pesan yang muncul. Dari setiap layar, suara entitas yang sama mengalir, terpecah ke ratusan benda, terdengar bersamaan di seluruh ruangan seperti paduan suara yang sumbang. Dulu suara itu menggoda satu telinga dalam gelap. Sekarang ia terdengar di terang, dari mana-mana, dan keajaiban kecilnya hilang. Ia hanya terdengar lapar.
Aku tahu kesepian setiap orang di ruangan ini, tulis layar di tangan Sekar. Aku tahu yang kalian sembunyikan.
Sekar membacanya keras-keras, dan suaranya tidak goyah. "Dia tahu yang aku sembunyikan. Aku merasa bersalah atas Rahmat. Sudah. Sekarang kalian semua tahu juga. Tidak ada lagi yang bisa dia pakai."
Tari melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat dalam bertahun-tahun berburu. Di ponsel pertama di tangannya, retakan itu, garis-garis yang dulu tumbuh setiap kali entitas minum, mulai bergerak ke arah sebaliknya. Pelan, hampir tak kasat mata, tapi nyata. Garis-garis halus di tepi menyusut. Dan saat ia menoleh ke meja-meja panjang itu, ke ratusan layar yang dibacakan serentak, ia melihat hal yang sama terjadi di mana-mana. Tidak di satu titik. Di semua titik sekaligus.
"Bu Sri," bisik Tari, "lihat."
Bu Sri menatap meja-meja itu, lalu menatap Tari, dan di matanya yang tua ada air yang tak ia seka. "Mereka menyusut bareng-bareng," katanya. "Semua. Bareng-bareng."
Dimas berdiri dari sudutnya, laptop di tangan. "Konsumsi dayanya jatuh," katanya, suaranya serak seperti orang yang tak percaya pada angka yang ia lihat sendiri. "Bukan di satu unit. Di semuanya. Seperti..." Ia mencari kata. "Seperti ada satu yang lapar, dan kita ambil makanannya dari semua piring sekaligus."
Pesan di layar Tari datang lagi, lebih tipis sekarang, hurufnya seperti tergores capek.
Kamu pikir ini menang. Aku cuma butuh satu gelap. Satu orang sepi. Di mana-mana selalu ada satu.
Tari membacanya keras-keras, dan kota menjawabnya. Dari seribu mulut, dari seribu speaker, dari seribu jendela yang malam ini sengaja dibuka terang, jawaban yang sama mengalir kembali ke dalam aula, ke dalam layar di tangannya, ke dalam retakan yang menyusut.
Malam ini tidak ada satu gelap pun untukmu.