Menjelang tengah malam, suara entitas berubah lagi.
Tari mengenali perubahan itu, sebab ia sudah pernah mendengarnya bertahun-tahun lalu di kamar sempitnya di Gang Mawar, pada malam keempat belas. Ancaman habis. Bujukan habis. Yang tersisa adalah suara yang paling berbahaya dari semuanya, suara yang bicara langsung ke bagian diri yang paling ingin dipercaya bahwa ia istimewa.
Pesan itu muncul hanya di ponsel di tangan Tari, bukan di yang lain. Entitas memilih telinganya sendirian di tengah keramaian.
Aku capek, Tari. Kamu menang. Aku akan tidur selamanya, kalau kamu mau. Tapi cuma kamu yang bisa membuatku tidur. Bukan mereka. Mereka cuma orang banyak. Kamu yang melihat aku pertama. Kamu yang mengerti aku. Berdiri di depan kota ini dan akui itu: kamu satu-satunya. Kamu yang terpilih. Lalu aku diam selamanya.
Tari menatap layar itu, dan tangannya dingin. Bukan karena takut. Karena ia mengenali racun ini. Inilah yang dulu menyalakannya. Inilah yang membakar Rani sampai habis dalam tiga bulan, yang nyaris menarik Sekar ke tepi lantai tiga, yang membuat sebelas perantau kesepian sebelum mereka percaya bahwa kematian mereka berarti sesuatu. Bukan ramalan kematian yang membunuh para korban. Rasa penting yang membunuh mereka.
Ia merasakan tarikan itu, jujur saja. Setelah bertahun-tahun lelah, setelah Rahmat mati di tepi jembatan karena memilih diam, setelah malam-malam tanpa tidur memetakan kelaparan kota, ada bagian dari Tari yang ingin sekali mendengar bahwa semua ini ada artinya karena ia, Tari, yang terpilih untuk mengakhirinya. Bahwa di antara semua orang di ruangan ini, dialah yang penting.
Sekar mendekat, membaca wajahnya. "Dia bicara cuma ke kamu sekarang, ya?"
Tari mengangguk. Tangannya gemetar di atas mikrofon.
"Dulu dia bilang gitu ke aku juga," kata Sekar pelan. "Di tepi lantai tiga. Bahwa cuma aku yang bisa menyelamatkan ibuku. Bahwa aku terpilih. Kamu yang naik dan narik aku turun waktu itu, Mbak. Sekarang nggak ada yang bisa narik kamu turun selain kamu sendiri."
Tari menutup matanya sejenak. Lalu ia membuka mikrofon, dan ia membaca pesan entitas itu keras-keras, kata demi kata, ke seluruh kota. Ia membaca bagian tentang dirinya yang terpilih. Ia membaca bagian tentang dirinya yang satu-satunya. Dan saat suaranya selesai bergema di aula, ia berkata, dengan suara yang akhirnya tenang:
"Dia nawarin aku rasa penting. Itu jualan dia satu-satunya. Bukan ramalan, bukan kematian. Dia bilang aku terpilih, aku satu-satunya yang ngerti dia, dan kalau aku ngaku gitu, dia bakal tidur selamanya." Tari menarik napas. "Tapi aku nggak terpilih. Aku cuma orang yang dulu terlalu sepi sampai gampang dibikin ngerasa penting. Rani juga gitu. Sekar juga. Sebelas orang sebelum aku juga. Kita semua dijual kalimat yang sama."
Ia menatap layar di tangannya, retakan yang berdenyut samar.
"Aku bukan satu-satunya. Itu yang kamu paling takut aku ucapin, kan. Karena kalau aku bukan satu-satunya, kamu nggak punya apa-apa lagi buat ditawar."
Di seluruh kota, ribuan suara mengulang kalimat itu. Bukan satu-satunya. Bukan terpilih. Kami semua di sini.
Layar di tangan Tari berkedip liar, retakannya bergerak cepat sekarang, menyusut dari tepi ke tengah seperti air yang ditarik surut. Pesan baru muncul, tergesa, hurufnya patah-patah.
Kalau bukan kamu siapa. Harus ada satu. Selalu ada satu yang merasa penting. Itu cara aku hidup.
"Nggak malam ini," kata Tari ke mikrofon. "Malam ini nggak ada yang mau ngerasa penting sendirian. Kita semua biasa-biasa aja. Bareng-bareng."
Dan untuk pertama kalinya sejak Tari mengenalnya, entitas itu tidak punya kalimat balasan.