Setelah tengah malam, Tari tidak menghancurkan apa pun.
Ia ingat pelajaran lama itu, pelajaran yang ditulis Rani dengan tangan gemetar di folder yang ia beri nama "jangan dibuka", pelajaran yang ia bayar sendiri dengan nyawanya. Menghancurkan benda tidak pernah cukup. Entitas bukan ada di kaca atau di mesin. Ia ada di kesepian yang memandangi kaca dan mesin itu. Membanting ponsel hanya memindahkannya ke layar berikutnya. Yang harus dilakukan bukan membunuhnya. Yang harus dilakukan adalah mengambil setiap makanannya, sekaligus, sampai tidak ada satu pun gelap tersisa untuk ia tiduri.
Maka Tari tidak menyentuh palu. Ia menyentuh mikrofon.
"Sekarang yang terakhir," katanya ke seluruh kota. "Setiap orang yang malam ini sendirian, kita temani. Setiap layar yang masih bisik-bisik, kita bacain keras-keras. Bukan sampai dia mati. Kita nggak bisa bikin dia mati. Tapi sampai dia kelaparan. Sampai dia ketiduran."
Yang terjadi sesudahnya berlangsung pelan, dan justru karena itu mengerikan, sebab kematian sesuatu biasanya cepat tapi tidurnya sesuatu yang lapar selalu lambat. Satu per satu, layar-layar di meja panjang itu mulai meredup. Bukan dimatikan. Tidak ada yang menekan tombol daya. Mereka redup dari dalam, seperti lampu yang minyaknya habis, seperti api unggun yang kayunya tinggal bara. Di laptop Dimas, garis-garis grafik konsumsi daya jatuh satu per satu ke dasar dan diam di sana.
"Mati sendiri," gumam Dimas. "Aku nggak ngapa-ngapain. Mereka mati sendiri."
Tari berjalan menyusuri meja-meja itu, mengangkat ponsel demi ponsel, membacakan pesan terakhir yang masih sempat muncul di masing-masing sebelum padam. Pesan-pesan itu makin pendek, makin tipis, seperti gema dari ruangan yang terus mengosong. Beberapa cuma satu kata. Beberapa cuma huruf-huruf yang tak selesai. Bu Sri mengikutinya di satu sisi, Sekar di sisi lain, Yusuf membaca dari ujung yang jauh, dan ratusan orang di aula serta ribuan di seluruh kota membaca bersama mereka, sehingga tidak ada satu pesan pun yang dibaca dalam diam dan takut. Setiap kata entitas, malam itu, lahir di terang dan mati di keramaian.
Tari sampai di ponsel terakhir, yang pertama ia angkat tadi malam, yang dulu dijualnya seharga lima puluh ribu di Pasar Genteng bertahun-tahun lalu sebelum ia melebur dan menguburnya, dan yang entah bagaimana kembali ke kota ini dalam wujud layar retak lain yang sama dinginnya, tangan kesepian yang sama. Retakannya kini hampir hilang. Garis-garis yang dulu seperti sarang laba-laba telah menyusut jadi satu goresan tipis dari sudut ke tengah, seperti pertama kali ia melihatnya di etalase pengap itu.
Layar itu menyala lemah. Satu pesan, pelan, satu huruf demi satu huruf, tapi kali ini tanpa kesabaran yang dulu menikmati setiap detik. Kali ini terburu-buru, seperti napas yang habis.
Kamu tidak membunuh aku.
"Nggak," kata Tari, dan ia membacanya keras-keras lebih dulu, supaya kota mendengar. "Aku nggak bunuh kamu. Aku nggak bisa. Aku cuma ambil makanan kamu. Semuanya. Malam ini."
Ia menatap retakan yang tinggal satu garis itu, dan ia tidak merasa menang. Ia tahu ini bukan kemenangan. Ini hanya jeda yang sangat panjang, jeda yang ia buat dengan tangan ribuan orang yang malam ini menolak sendirian. Lapar yang tertidur bukan lapar yang kenyang. Tapi tidur, untuk sekarang, sudah cukup.
"Tidurlah," kata Tari pada layar di tangannya, dengan suara yang hampir lembut. "Kelaparan itu. Kami nggak ke mana-mana."
Layar itu berkedip sekali. Lalu redup. Lalu, seperti semua yang lain di sepanjang meja, ia padam dari dalam.