Pesan terakhir datang ketika aula sudah mulai sunyi, bukan sunyi yang lapang untuk entitas, tapi sunyi orang-orang yang lelah dan lega.
Tari memegang ponsel terakhir itu di telapak tangannya, dan ia merasakannya bergetar sekali, pelan, getaran yang sama yang dulu membangunkannya di kamar Gang Mawar pada malam ketika ia masih belum percaya. Layar menyala untuk kesekian kali, dan huruf-huruf muncul, terpatah, tipis seperti kertas yang hampir robek, sama persis seperti pesan ke-14 yang ia baca bertahun-tahun lalu.
Aku tidur, bukan mati. Aku tidak menemukan satu gelap pun untuk berburu malam ini. Kalian menutup semua sudut. Untuk malam ini. Tapi malam selalu datang lagi, Tari. Akan ada gelap lain. Tangan lain. Kota tidak bisa terang selamanya. Orang tidak bisa berhenti sepi selamanya. Aku akan menunggu. Aku sabar. Aku selalu sabar.
Tari membacanya keras-keras, sampai kata terakhir, di hadapan semua orang yang masih ada di ruangan itu. Ia tidak menyembunyikan satu pun. Bahkan ancaman terakhir entitas, ia ucapkan terang-terang, karena ia sudah belajar lama sekali bahwa rahasialah makanan benda ini, bahwa kalimat yang ditanggung sendirian dalam gelap memberinya tenaga, dan kalimat yang dibaca bersama di terang membuatnya kosong.
"Dia bilang dia bakal nunggu," kata Tari, dan suaranya tidak gemetar. "Dia bener. Dia bakal nunggu. Kota nggak bisa terang selamanya. Orang nggak bisa berhenti sepi selamanya." Ia menatap wajah-wajah lelah di hadapannya, Bu Sri, Yusuf, Dimas, Sekar, ratusan orang yang ia bahkan tak tahu namanya tapi yang malam ini menyalakan lampu bersamanya. "Jadi kita juga nggak boleh berhenti. Bukan malam ini. Bukan besok. Selama ada yang sepi, selalu ada yang harus ditemani."
Lalu ponsel-ponsel itu diam. Semua. Serentak. Di sepanjang meja-meja panjang, di tangan para penyintas, di kantong-kantong plastik bening, layar demi layar membeku dingin dan diam, tanpa cahaya, tanpa getaran, tanpa nama di dasar daftar kontak yang kosong. Tari mencoba menyalakan yang di tangannya. Tidak menyala. Ia mencolokkannya ke daya yang dibawa Dimas. Tidak ada respons. Mesin yang dipuji penjaga konter sehat itu, sehat seperti yang dulu, mati sepenuhnya, seperti benda itu menutup pintunya sendiri dari dalam.
Tapi Tari tidak merasa lega seperti yang ia bayangkan bertahun-tahun lalu. Sebab kali ini ia tahu apa arti diam ini. Diam ini bukan kematian. Diam ini tidur. Janji entitas masih tergantung di udara aula itu, dingin dan sabar, di antara orang-orang yang mulai pulang menembus subuh.
Akan ada gelap lain. Tangan lain.
Di luar, langit Surabaya mulai pucat di timur, dan klakson pertama mulai bersahutan di jalan, dunia bangun seperti tiap pagi, tak peduli pada apa yang terjadi semalam di gedung serbaguna yang dulu kosong. Tari berdiri di pintu, ponsel mati di tangannya, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia tidak menahan napas menunggu namanya muncul di sebuah layar. Bukan karena ia yakin nama itu tak akan muncul lagi. Tapi karena ia akhirnya tahu, kalau pun muncul, ia tidak akan membacanya sendirian.
Bu Sri menyentuh lengannya. "Pulang, Mbak. Sudah pagi."
Tari mengangguk, tapi ia tidak langsung beranjak. Ia menatap ke arah meja panjang yang penuh ponsel mati itu, dan ia berbisik, bukan pada entitas, bukan pada siapa-siapa, hanya pada dirinya sendiri dan pada kota yang masih bangun di sekelilingnya.
"Sejauh ini."