Seminggu kemudian, di bengkel las di pinggir kota, Tari melebur semuanya.
Mereka mengangkut ratusan ponsel layar retak itu dalam karung-karung, dikawal Yusuf yang sudah mengurus surat-suratnya sebagai barang sitaan yang tak lagi jadi bukti perkara apa pun, sebab tak ada perkara hukum untuk sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Dimas yang memilah, memastikan setiap unit benar-benar mati sebelum masuk tungku, mencatat nomor serinya satu per satu di laptop dengan ketelitian seorang teknisi yang sudah lama berhenti percaya bahwa angka bisa menjelaskan segalanya. Bu Sri membawa daftar dua belas nama yang lusuh itu, dan Sekar membawa sesuatu yang lebih sederhana, sebatang lilin yang ia nyalakan di sudut bengkel, bukan karena ada yang menyuruh, tapi karena rasanya pantas ada cahaya kecil di tempat itu.
Tungku menyala oranye, panasnya menampar wajah Tari saat ia menuang karung pertama. Ponsel-ponsel itu meleleh, kaca dan plastik dan logam runtuh jadi satu, retakan-retakan yang dulu tumbuh seperti sarang laba-laba kini hilang ditelan bara, dan nama-nama di dasar daftar kontak yang kosong itu lebur jadi gumpalan yang tak lagi punya bentuk apa pun. Tari mengawasinya tanpa berkata-kata. Ia ingat bertahun-tahun lalu, di bengkel las yang lain di ujung Gang Mawar, ia melakukan hal yang sama dengan satu ponsel, disaksikan Bu Sri dan keponakannya, dan ia mengira itu selesai. Itu tidak selesai. Benda itu kembali.
"Kamu mikir, ini bakal balik lagi nggak," kata Dimas di sebelahnya, bukan bertanya, hanya menebak isi kepalanya.
"Iya," kata Tari jujur. "Aku mikir gitu."
"Aku juga." Dimas menatap gumpalan logam yang mulai mendingin di cetakan. "Tapi aku nggak punya angka buat itu. Sepanjang hidupku aku percaya kalau ada yang nggak bisa diukur, berarti nggak ada. Sekarang aku ngukur dayanya turun, ngukur dia ketiduran, tapi aku nggak bisa ngukur dia bakal bangun lagi kapan, atau ke siapa. Itu yang bikin aku nggak bisa tidur."
Tari tidak menjawab, karena tidak ada jawaban yang jujur dan menenangkan sekaligus. Mereka menuang leburan itu ke cetakan beton, sama seperti dulu, dan menunggunya mengeras.
Pondasi yang mereka pilih kali ini bukan tembok kos. Itu pondasi gedung serbaguna tempat mereka mengadakan malam panjang itu, gedung yang kini tak lagi mereka biarkan kosong. Sekar dan beberapa penyintas sudah mengurus agar ruangan-ruangannya dipakai, dijadikan tempat berkumpul para perantau baru, balai pertemuan kos-kos di sekitarnya, tempat orang yang malam-malam merasa sepi bisa datang dan menemukan lampu yang menyala dan orang yang bicara. Tempat yang terang. Tempat yang ramai. Tempat yang, kalau hukum dunia ini benar, tak akan pernah punya cukup gelap untuk membangunkan apa yang mereka kubur di bawahnya.
Tari berjongkok di tepi galian pondasi saat gumpalan beton itu diturunkan. Ia menatapnya lama.
"Ini bukan kubur," katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada yang lain. Bu Sri di sampingnya mendengarkan. "Aku nggak mau bilang ini kubur. Kubur artinya udah mati, udah selesai. Ini bukan itu." Ia mencari kata yang benar, kata yang tidak berbohong. "Ini cuma tempat tidur yang susah. Tempat yang dibikin susah banget buat dia bangun. Tapi nggak ada janji apa-apa. Cuma nggak ada gelap, buat sekarang."
Bu Sri meletakkan tangannya yang tua di bahu Tari. "Rani nggak sempat sampai sini, Mbak," katanya. "Dia mati sebelum tahu ada cara bikin benda itu tidur. Sebelas orang sebelum dia juga. Mbak sampai sini." Ia menepuk bahu itu pelan. "Itu bukan kemenangan. Tapi itu sesuatu."
Mereka menutup pondasi itu menjelang senja, dan tidak ada upacara, tidak ada kata-kata besar. Hanya semen yang diratakan, lilin Sekar yang dibiarkan padam sendiri karena tugasnya selesai, dan lampu-lampu gedung yang dinyalakan satu per satu saat hari menggelap, supaya tempat itu, mulai malam ini dan seterusnya, tidak pernah benar-benar gelap lagi.