Bulan-bulan berikutnya, gerakan itu tumbuh tanpa Tari di tengahnya, dan justru itu yang membuat Tari tahu ia berhasil.
Dulu semuanya bertumpu padanya. Dialah yang melacak rantai ponsel bekas, yang datang ke kos-kos asing untuk memperingatkan calon korban, yang membaca keras pesan-pesan entitas di koridor sempit. Kalau Tari lelah, gerakan itu melemah. Kalau Tari sakit, ada titik yang kambuh. Itu kelemahan yang nyaris membakarnya habis, sama seperti rasa terpilih nyaris membakar Rani. Maka Tari belajar melepaskan, pelan-pelan, sampai yang tersisa bukan lagi seorang Tari yang menyelamatkan kota, tapi sebuah kebiasaan kota yang menyelamatkan dirinya sendiri.
Nomor aduan itu masih ada, ditempel di papan-papan pengumuman kos, di warung-warung dekat kampus, di halte-halte: Ada yang bicara di layarmu? Telepon ini. Jangan sendirian. Yang menjawab bukan lagi Tari seorang, tapi puluhan relawan bergiliran, banyak di antaranya bekas korban yang dulu nyaris jatuh, yang kini tahu persis seperti apa rasanya mendengar suara yang memanggil namamu dari dasar layar. Mereka tidak menertawakan penelepon. Mereka tidak menyuruhnya ke dokter jiwa. Mereka cuma bilang, ceritakan, sekarang, keras-keras, dan kami dengar, dan kamu tidak sendirian.
Sekar yang memimpin sekarang, walau ia tak suka kata itu. Ia lebih suka bilang ia cuma yang paling ingat seperti apa rasanya di tepi lantai tiga, jadi ia yang paling keras berteriak supaya tak ada yang sampai ke sana lagi. Ia merekrut perantau-perantau baru begitu mereka datang ke kota, mengenalkan mereka pada tetangga kos sebelum kesepian sempat mengenal mereka lebih dulu. Dimas membangun sesuatu di ponsel yang ia sebut hanya "alat sederhana", sebuah cara agar siapa pun yang menerima bisikan bisa membagikannya ke grup dengan satu sentuhan, supaya tak ada lagi pesan yang dibaca dalam diam. Yusuf, yang dulu skeptis, kini yang paling rajin menjaga agar berkas dua belas nama itu, ditambah nama Rahmat, ditambah nama-nama yang nyaris jadi nomor tiga belas dan seterusnya, tidak pernah hilang dari arsip, supaya kota tidak lupa harga yang sudah dibayar.
Tari masih datang ke gedung itu sesekali. Ia duduk di sudut, mendengarkan, kadang bercerita pada yang baru, tapi ia tidak lagi jadi pusatnya, dan itu melegakan dengan cara yang ia tak sangka. Suatu sore, seorang mahasiswi rantau yang baru dua minggu di kota, gugup dan sendirian, bertanya padanya, "Mbak yang dulu mulai semua ini, ya? Yang ngalahin hantu di ponsel itu?"
Tari menggeleng. "Aku nggak ngalahin apa-apa," katanya. Ia memilih kata-katanya hati-hati, karena ia tidak mau mewariskan kebohongan, bahkan kebohongan yang menghibur. "Benda itu nggak kalah. Nggak mati. Aku cuma belajar cara bikin dia kelaparan, terus aku ajarin orang lain. Itu aja. Yang aku warisin bukan cara bunuh dia. Aku nggak tahu cara bunuh dia. Yang aku warisin cuma cara bikin dia ngantuk."
Mahasiswi itu mengernyit, takut. "Jadi dia masih ada?"
"Masih," kata Tari jujur. Lalu ia tersenyum, senyum yang ia maksudkan untuk menenangkan tapi tidak untuk membohongi. "Tapi selama kamu nggak sendirian, dan selama kamu cerita kalau ada yang aneh di layarmu, dia nggak bisa makan dari kamu. Itu bukan jaminan kamu aman selamanya. Itu cuma jaminan kamu nggak menghadapinya sendirian. Dan itu, percaya deh, jauh lebih banyak dari yang dipunya orang-orang sebelum kamu."
Mahasiswi itu mengangguk pelan, masih takut tapi tidak lagi sendirian dengan takutnya, dan Tari tahu itulah satu-satunya warisan yang sungguh-sungguh ia punya untuk diberikan. Bukan keberanian. Bukan kemenangan. Hanya tangan-tangan yang saling mengulurkan lampu di koridor gelap kepala masing-masing.