Bertahun-tahun kemudian, Tari menjadi mahasiswa yang ia tabung sejak awal.
Receh-receh yang dulu ia kumpulkan di balik etalase swalayan akhirnya cukup, ditambah kerja paruh waktu, ditambah waktu yang akhirnya berpihak padanya. Ia duduk di ruang kuliah yang ramai, di antara orang-orang yang lebih muda dan orang-orang yang seusianya, dan ia belajar hal-hal yang dulu terasa mustahil ia raih dari balik konter toko di Gang Mawar. Hidupnya tidak megah. Ia masih mengontrak kamar petak, masih menghitung pengeluaran sampai akhir bulan. Tapi ia hidup di tengah orang, dan ia tidak lagi menghitung keberuntungan dalam lembaran lima puluh ribuan.
Suatu malam, ia belajar di sebuah kedai kopi murah dekat kampus bersama seorang teman, perempuan muda yang baru ia kenal beberapa bulan, yang banyak tertawa dan tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Tari di sebuah gang yang namanya tak pernah ia sebut lagi. Buku-buku terbuka di antara mereka, gelas kopi setengah dingin, lampu kedai yang terang dan ramai oleh suara orang.
Ponsel Tari berkedip di atas meja.
Notifikasi. Layarnya menyala sendiri di tengah obrolan, cahayanya kecil di tengah terang kedai. Dan untuk sepersekian detik, bertahun-tahun ketakutan lama bangkit dalam diri Tari seperti refleks yang tak pernah benar-benar hilang. Napasnya tertahan. Tangannya berhenti di tengah jalan menuju gelas. Matanya jatuh ke layar itu, mencari, di dasar daftar yang akan muncul, sebuah nama. Namanya sendiri.
Dulu ia akan membalik ponsel itu cepat-cepat, menyembunyikannya, menanggung detik itu sendirian, membiarkan ketakutan tumbuh dalam diam seperti retakan yang melebar. Dulu itulah yang akan memberinya makan. Tapi Tari sudah belajar, dengan harga yang dibayar orang-orang lain jauh sebelum ia tahu namanya, bahwa ketakutan yang ditanggung sendirian adalah satu-satunya makanan yang tersisa untuk benda semacam itu.
Maka ia tidak menanggungnya sendirian.
Ia mengangkat ponselnya, dan ia membacanya keras-keras pada temannya yang duduk di sebelahnya. "Eh, lihat deh," katanya, suaranya biasa saja, dan justru karena biasa saja maka ketakutan itu kehilangan tempat untuk tumbuh. Ia membaca notifikasi itu lantang di tengah kedai yang ramai.
Pesan dari operator. Promo paket data. Tidak ada nama di dasar daftar. Layar kosong dari hal yang ia takutkan. Hanya ponsel biasa, berkedip karena hal yang tak penting, seperti jutaan ponsel lain di kota itu malam ini.
Temannya tertawa. "Ya ampun, promo doang. Kirain apaan, serius amat mukamu."
Tari ikut tertawa, dan tawanya kali ini sungguh-sungguh, bukan tawa pendek yang tak ia percayai sendiri seperti dulu di mulut Gang Mawar bertahun-tahun lalu. Ia meletakkan ponselnya kembali, layar menghadap atas, tak ia sembunyikan, dan kembali pada buku-bukunya dan kopinya yang dingin dan suara temannya. Ia tahu, kalau pun suatu malam nama itu benar-benar muncul kembali di dasar layar, di ponselnya atau di ponsel orang lain di sudut kota mana pun, ia tidak akan membacanya dalam diam. Ia akan membacanya keras-keras, di terang, di antara orang. Dan benda itu akan kelaparan lagi, dan tidur lagi, untuk satu malam lagi.
Sebab di suatu tempat di kota yang sama, ia tahu, di konter pasar yang pengap atau di etalase toko bekas yang lain, sebuah layar retak masih menunggu. Dingin. Sabar. Mati tapi tidak musnah, menunggu tangan kesepian berikutnya yang menghitung keberuntungan dalam lembaran lima puluh ribuan, menunggu satu malam tanpa orang yang menemani, menunggu satu gelap yang luput.
Tari tidak bisa menjanjikan malam itu tak akan datang. Tak ada yang bisa. Yang ia tahu, dan yang ia wariskan, hanya ini: bahwa harga sebuah keberuntungan selalu dibayar oleh seseorang, dan satu-satunya cara untuk tidak membayarnya sendirian adalah dengan berhenti sendirian. Yang memburu di gelap kehilangan taringnya selama kita tidak menghadapinya seorang diri.
Selama. Bukan selamanya.
Di luar jendela kedai, lampu-lampu kota menyala terang sampai ke kaki langit, jutaan layar berkedip di jutaan tangan, dan di antara semuanya, di suatu sudut yang tak terjangkau cahaya mana pun, sesuatu yang lapar tidur dengan satu mata yang tak pernah benar-benar tertutup. Tari menutup bukunya menjelang tengah malam, berjalan pulang bersama temannya menembus jalan yang masih ramai, dan ia tidak menahan napas lagi.
Sejauh ini.