Ini bukan kali pertama bagi Azka merasakan rasa yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Semuanya tidak nyaman. Benar, dia cemburu. Marah. Tidak terima. Tapi di atas semua itu, rasa tidak nyaman terbesar yang mengganduli dadanya adalah rasa tidak berguna. Terbuang. Tak diinginkan.
Jangan tanya sudah berapa lama ia bertahan dengan tiga hal terakhir. Durasi yang lama bukanlah jaminan jika ia bisa menahan lara, menyabarkan diri. Jika boleh, andai dia bisa, Azka ingin sekali bersikap kekanakan, impulsif, menerjang semua halangan.
Seperti, contohnya, menghantamkan kepalan tinjunya tepat di wajah pria b******k itu. Atau melakukan lebih—seperti masa lalu yang telah lama ia tinggalkan. Tidak. Semua hanya berlangsung dalam imaji.
Masalahnya adalah, yang pertama, Leevi membenci kekerasan. Inilah yang membuatnya berhenti menjadi pentolan geng.
Yang kedua, Leevi membenci Azka. Membenci dirinya. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika dua hal yang paling dibenci oleh gadis itu tiba-tiba datang menghantam Danish—pria yang paling disukai oleh Leevi?
Jika semua ini terjadi lebih awal beberapa tahun. Sebelum ia dan Leevi menikah, Azka yakin ia akan dapat menahannya. Ia sudah terbiasa, itu yang pertama. Poin kedua, Azka tidak pernah membayangkan akan menjadi pasangan sah dari perempuan yang paling ia cinta dan ia damba ini.
Pernikahan ini, Azka tak tahu bagaimana harus menyebutnya. Berkah, ataukah justru kemalangan? Tentu saja, Azka girang tak kepalang kala tawaran tak tahu dirinya justru disambut baik oleh pihak keluarga Leevi. Ya, tentu saja ia juga tak menganggap pernikahan adalah sebuah permainan.
Sayangnya, waktu itu ia terlalu berpikiran pendek—jika positive thinking bisa dikategorikan demikian. Berpikir jika semuanya nanti akan baik-baik saja meski Leevi tidak menyukainya.
Tidak apa-apa, toh Azka sudah terbiasa.
Toh, mereka kan sebelumnya juga tidak dekat.
Toh, nanti setelah menikah dan hidup serumah, lama-lama sikap dingin Leevi juga bakal ‘cair’ sendiri.
Toh, kalau pun ia benar-benar tidak punya harapan, setidaknya dia sudah mencoba.
Semua poin toh-toh di atas, menjadi tidak ada gunanya kala ia benar-benar sudah memasuki gerbang pernikahan. Terhitung sejak kali pertama—dan terakhir—ia tidur berpelukan dengan Leevi karena gadis itu takut petir. Azka sudah tidak bisa se-legowo seperti saat sebelum ia menikah.
Sejak malam itu, benaknya terus disesaki beragam pemikiran. Pertanyaan-pertanyaan. Hingga berujung pada refleksi diri. Menemukan bahwa : Azka tidak bisa seikhlas itu. Dia pernah memikirkan beragam kemungkinan terburuk—bahkan sampai saat ini.
Di antara semua imaji tersebut, Azka tiba-tiba merasa sangat tertekan kala fantasinya melayang pada kemungkinan bila Leevi bebar-benar pergi meninggalkannya. Entah itu dengan jalan bercerai lalu gadis itu memilih untuk melajang selama sisa hidupnya.
Atau langsung menjadi istri Danish—entah bagaimana caranya, entah itu mungkin atau tidak.
Semenjak menyadari jika kali ini statusnya adalah suami dari Leevi, perasaannya untuk mempertahankan biduk rumah tangga mereka menjadi semakin kuat.
Meski tidak mudah, tak dipungkiri juga bahwa ia pernah berkali-kali hendak menyerah. Azka tidak bisa. Tidak mau. Tidak rela. Tidak pernah mau lagi membayangkan hal tersebut.
Tekad yang sama yang membuatnya tetap tegar dan memantapkan hati untuk entah bagaimana caranya, membalikkan keadaan. Ia tahu jika keadaan, kondisi serta situasinya saat ini sangat mustahil untuk dapat membalikkan keadaan.
Tapi ia lebih tidak rela lagi jika membayangkan akan seperti apa Leevi nantinya jika ia menyerah sekarang. Terlebih, ia tahu jika Danish bukanlah tipe yang senekat Leevi. Jika Leevi dapat membuang segalanya demi Danish, maka Danish tidak akan sama gilanya dengan Leevi.
Kenapa Azka bisa tahu?
Bagaimana mungkin ia tidak tahu? Azka tahu seberapa impulsifnya Leevi jika ia menemukan sebuah pemicu. Leevi mungkin tidak dewasa, tapi gadis itu adalah tipe orang yang jujur dengan perasaannya sendiri.
Lantas bagaimana dengan Danish?
Azka sesungguhnya benci membahas tentang pria itu. Selain karena Danish adalah rival, Azka juga tahu sepak terjang laki-laki berwajah malaikat itu.
Sangat berkebalikan dari citra yang selama ini sudah terpatri dalam benak Leevi. Singkatnya, Danish tidak akan seberani Leevi dalam mengambil keputusan.
Azka takut, jika ia berpasrah diri dan membiarkan Leevi mengejar mimpi kosong lagi, sama artinya dengan membiarkan gadis itu hancur. Lebih dari yang pernah terjadi saat Danish mengirimi Leevi undangan pernikahannya dulu.
Azka tidak bisa membiarkan hal itu terjadi—ia tidak sanggup. Tidak apa-apa jika dirinya sendiri yang terluka dan hancur, tapi ia tidak bisa membiarkan Leevi hancur.
Karena itulah, Azka diam-diam mulai mengubah tujuannya. Tidak lagi memedulikan diri sendiri. Semua alasan yang diucapkannya di depan Leevi adalah topeng. Tujuan sesungguhnya hanyalah untuk menjaga agar Leevi tidak terluka kedua kalinya, dengan orang yang sama.
Makanya, ketika saat ini sang istri tengah berduaan dengan Danish. Tersenyum malu-malu, mata kucing yang berkilau penuh bahagia. Azka gundah gulana.
Tapi tak sedikit pun hal tersebut tergambar di raut wajahnya. Ia abai terhadap rasa panas yang bersumber dari dadanya. Rasa panas yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh, menghanguskan benaknya, hatinya, perasaannya.
Azka geming. Bukankah rasa ini pernah akrab dulunya? Hanya menahannya sedikit lebih lama lagi, apa susahnya?
Yang penting sekarang adalah mengawasi mereka berdua. Menyimpan semua rasa tidak enak yang mengganjal. Toh, sejak awal, statusnya sebagai suami memanglah hanya di atas kertas.
Lamunan panjangnya berakhir kala kedua insan yang tengah ia intai sekarang telah beralih meninggalkan resto. Azka deg-degan. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia ingin tahu apakah Leevi akan mematuhi persyaratannya atau tidak.
Selagi sibuk berpikir, tiba-tiba Azka mendapati bahwa Danish mulai menunjukkan gelagat gelisah sejak menerima telepon. Azka menunggu, kesal karena ia tak dapat menguping obrolan mereka dari jarak yang sejauh ini.
Hingga akhirnya Danish pulang lebih dulu dengan menaiki taksi. Meninggalkan Leevi sendirian.
Darah dalam tubuh Azka menggelegak melihat betapa ‘sopannya’ manner pria itu terhadap teman wanitanya. Bagaimana kalau Leevi diserang orang jahat sepeninggal Danish? Laki-laki macam apa yang meninggalkan teman wanitanya, pulang naik taksi duluan?
Azka perlu menarik napas panjang berulang kali sebelum akhirnya dapat menenangkan amarah dalam dadanya. Matanya terus memantau pergerakan Leevi, tak memedulikan keramaian, tak peduli orang lain. Yang terpantul di matanya hanyalah sosok kesepian Leevi.
Berpikir sejenak, setelah memastikan Leevi pulang naik taksi, barulah Azka beranjak dari tempatnya berdiri.
•••
Leevi tidak paham. Baru saja tadi ia makan malam dengan Danish, setibanya di rumah, Azka malah pulang-pulang bawa makanan take away dari gerai ayam favoritnya. Yah, Leevi juga takkan menolak rezeki sih, toh sejujurnya porsi makanan resto bintang 3 itu juga tidak cukup mengenyangkan perutnya yang sudah lapar dari siang.
Salahnya juga sih, tidak memikirkan kemungkinan kalau Danish akan mengajaknya dinner. Bukan makan malam biasa, melainkan dinner di resto berbintang. Sejak kapan sih, porsi makan di resto berbintang bisa mengenyangkan perut?
Jujur, Leevi benar-benar sudah tak sabar lagi untuk segera mencicipi ayam goreng yang dibawakan Azka. Gadis itu ingin langsung makan, tapi segan. Sementara sosok Azka masih juga belum menampakkan batang hidungnya sejak pamit untuk mandi beberapa menit lalu.
Lebih jauh, Leevi sebenarnya masih kepikiran dengan ekspresi Azka yang tidak seperti biasa. Laki-laki itu pulang lebih lambat darinya—Leevi bersyukur. Sejujurnya kan, makan malam bersama Danish memang berakhir cukup telat. Telat dari jam malam yang ditetapkan Azka, pukul 7 malam.
Ekspresi Azka terlihat rumit. Bahkan senyumnya tidak mencapai mata. Leevi tidak tahu lagi apa yang ganjil, yang tertangkap olehnya hanya senyuman itu saja.
Mungkin karena jenis senyum Azka tadi mirip dengan senyuman Danish saat berpamitan pulang tadi. Senyum orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.
“Loh, kok belum dimakan? Nanti dingin, nggak enak lagi, loh,” teguran Azka sukses membuyarkan lamunan Leevi.
Azka mengambil tempat di depan Leevi, rambut semi basah, kaos oblong big size yang sukses menyamarkan bentuk tubuh. Namun malah memberi kesan lebar pada bahu. Handuk kecil juga masih menggantung di leher laki-laki itu.
Sejenak, angan Leevi melayang pada Danish. Jika mereka menikah ....
Bukan.
Kenyataannya Danish tidak menikah dengannya. Yang akan melihat sosok segar Danish sehabis mandi adalah istrinya.
Bukan Leevi.
Leevi iri. Andaikan ia yang berada di posisi tersebut, alangkah baiknya. Leevi tidak akan meminta apa-apa lagi jika mimpinya yang satu ini benar-benar terwujud.
“Dimakan, Leevi. Nanti ayamnya hidup lagi loh, kalo diliatin terus,” goda Azka kembali membuyarkan angan Leevi untuk kedua kalinya.
Di hadapan gadis itu kini sudah terhidang sepiring ayam dan sekepal nasi yang sebelumnya masih berada di kotaknya. Saking fokusnya mengkhayal, ia jadi tak sadar situasi, termasuk kala Azka menyiapkan makanan take away ke piringnya.
“Lelucon yang garing,” balas Leevi sebelum mulai memakan ayamnya. Azka tak membalas, hanya terkekeh pelan. Kekehan yang baru pertama kali didengar Leevi. Selama ini ia hanya pernah mendengar tawa keras Azka.
Azka dengan kekehannya ... tidak buruk juga. Kesan konyol-konyol bucinnya jadi sedikit tersamarkan oleh kekehan bernada manly.
“Tumben beli makanan?” tanya Leevi berbasa-basi. Mencoba mengalihkan perhatian Azka dari wajahnya. Tangannya sendiri sibuk memisahkan kulit ayam dari dagingnya.
Azka mendengkus sebelum menjawab, “Aku tau kalo makan di resto biasanya gak kenyang. Kebetulan waktu pulang tadi aku ngelewatin outlet ayam. Jadi ya, kubeli.”
Memang, Leevi tidak merahasiakan tentang dia yang pergi makan malam bersama Danish. Setengah menantang Azka juga sih, sebenarnya.
Melalui tindakannya ini, Leevi ingin mengingatkan Azka kalau hatinya masih sama kerasnya seperti sebelumnya. Lebih bagus lagi kalau bisa membuat Azka mundur teratur setelah berkali-kali terkena pukulan.
Sayangnya, Azka bukan tipe orang yang akan mundur semudah itu.
“Oke. Tapi gak boleh telat dari jam malam yang udah kita sepakati.”
Hanya begitu reaksi laki-laki tersebut kala ia minta izin—mengumumkan— kemarin. Tidak ada jejak-jejak kecemburuan yang kentara muncul pada raut wajah Azka. Sikapnya juga masih sama saja seakan-akan apa yang dikatakan Leevi hanyalah sekasual membicarakan cuaca hari ini.
Senyumnya juga masih sama saja. Mungkin, sih. Soalnya kan, Leevi juga tidak terlalu memperhatikan. Dua hari belakangan, Azka memang selalu berangkat terburu-buru. Leevi juga tak bertanya apakah di kantornya ada sidak atau apa, tak ingin tahu. Yang penting ia sudah izin.
Meski jujur, ada sedikit rasa tidak puas juga. Mungkin taktiknya lemah. Leevi juga tidak begitu kecewa. Toh, tujuan utamanya memang bukan itu juga.
“Gimana dinner-nya?”
Pertanyaan barusan sukses membuat Leevi bengong. Seriously, ini orang bertanya begini maksudnya bagaimana? Bukankah itu sama halnya seperti menyiramkan cuka di atas luka sendiri yang masih menganga dan basah?
Azka ini masokhis atau bagaimana, sih? Sudah pasti ‘kan, Leevi akan menggunakan kesempatan ini untuk semakin melemahkan harapan Azka?
“Yah ... begitulah. Menyenangkan. Makanannya enak, dia juga cerita macam-macam hal,” Leevi mengutuk dirinya sendiri.
Padahal ini kesempatan bagus, tapi otaknya tak mau berkompromi menciptakan untaian kalimat tajam. Padahal ia bisa menggerogoti hati Azka hingga lemah dan menyerah. Tapi kenapa ia tak bisa menemukan kata-kata lain lagi?
Mana Azkanya sendiri juga tak terlihat terintimidasi. Malah berbalik menatapnya dengan tatapan terhibur, ekspresi yang menahan gemas.
Tunggu, apa Azka sedang mempermainkannya? Menganggap kata-katanya lucu, mungkin juga merasakan kebohongan? Tapi apa? Leevi tidak berbohong—mungkin sedikit. Apakah sekentara itu?
Leevi tidak tahu bahwa saat ini Azka tengah menikmati ekspresi bingungnya.
“Kalau aku sih, no!” celetuk Azka tiba-tiba. Agak tidak nyambung?
Leevi makin mengerutkan kening keheranan. ‘Kenapa tiba-tiba jadi Mas Anang, sih?’ batinnya heran. Azka mendengus pelan, sebuah seringai tipis tercetak di wajah tampannya.
“Kalau aku jadi dia ... ah, nggak. Aku nggak suka dibanding-bandingin apalagi nyama-nyamain diri sama dia. Maksudku, kalau kamu kencan sama aku, kamu nggak bakal kelaparan. Aku bakal ngajak makan, meski bukan dinner di resto berbintang. Tapi aku gak akan biarin kamu pulang dengan perut masih lapar.”
Alis Leevi terajut demi menangkap maksud dari kalimat terakhir.
“Maksud kamu, aku ... aku jalan bareng Danish tuh, nggak makan dengan kenyang? Eh, kalau ngomong jangan sembarangan, ya!” Leevi menggebrak meja dengan sebuah tulang ayam yang masih berada dalam genggamannya.
Azka tak terlihat terintimidasi. Sebaliknya, laki-laki itu malah tersenyum geli dengan kedua alis terangkat, kedua bahu ikut naik serta gestur tangan terangkat yang seakan menunjukkan : bukti fisik terpampang nyata di atas meja. Serakan tulang ayam, serta sisa dua potong terakhir yang masih belum tersentuh.
Leevi kaget sendiri. Sejak kapan ia menghabiskan semua ini? Sendirian? Ya! Azka sama sekali tak menyentuh ayamnya bahkan hanya untuk satu gigitan pun. Ups.
“Terus apa dong? Coba kasih tau aku, di bagian mana letak aku yang ngomong sembarangan?” tanya Azka santai. Gestur yang makin membuat Leevi dilanda kesal.
“Aku tuh gak sempet makan siang, bukannya apa-apa!” tukas Leevi cepat. Tindakan yang akhirnya disesalinya sendiri.
Azka manggut-manggut singkat. Menghela napas panjang sembari menatap dalam-dalam manik Leevi yang balas menatap dengan binar berapi-api.
“Alasan apa pun yang kamu buat, gak bakal mengubah rencana aku kalau suatu hari nanti kita kencan. Aku gak akan biarin istriku kelaparan. Kalo perlu ntar tiap kencan kita bikin rencana ‘kencan kuliner’, jadi kita bisa nyobain banyak makanan baru.
Dan aku bakalan tetap ajak kamu makan-makan lagi di tempat lain, meski suatu hari nanti kita bakalan dinner di resto berbintang yang porsi makannya super hemat.”
Leevi kembali tak dapat berkata-kata. Apa sih, yang barusan dikatakan orang ini? Stres kali ya, saking tidak sukanya melihat dia jalan bareng Danish?
“Makanya, kapan-kapan kamu harus kencan bareng aku,” pungkas Azka menyampaikan maksud dan tujuan dari pidato singkatnya.
“Dalam mimpimu!” balas Leevi keki. Azka tak marah, malahan terkekeh gemas menyaksikan ekspresi kesal sang istri yang menurutnya menggemaskan. Melirik sisa dua potong ayam, Azka menaruh keduanya ke atas piring Leevi.
“Kan semuanya dimulai dari mimpi. Dah ah, habisin nih. Tanggung sisa dua,” ujar Azka sambil bangkit berdiri.
“Ini kan bagian kamu,” tolak Leevi meski dalam hati masih pengen. Azka mendengkus pelan, menggelengkan kepala.
“Buat kamu aja, aku nggak nafsu makan,” tolaknya sebelum melangkah.
‘Baiklah kalau begitu,’ batin Leevi senang sambil mencomot sepotong ayam.
“Oh iya. Besok-besok jangan telat makan, apalagi sampe melewatkan makan. Aku gak suka kamu sakit. Dan gak usah takut gendut gara-gara agak banyak makan. Soalnya mau kamu kayak gimana juga aku tetap cinta,” ujar Azka dari balik punggung Leevi sebelum benar-benar meninggalkan ruang makan.
Gerakan mengunyah Leevi terhenti sesaat. Kalau tidak begitu, ia khawatir saat ini ia sudah tersedak. Kalimat Azka barusan ... agak cheesy? Tapi kalau dipikir-pikir, Azka sepertinya tidak bercanda dengan kata-katanya.
Pertama, tentang tidak nafsu makan. Kalau Leevi jadi Azka, dia juga pasti tidak akan punya nafsu makan kalau Danish cerita tentang kencannya bersama sang istri. Jadi bisa disimpulkan kalau kalimat Azka selanjutnya bukanlah gombalan.
Tentang cinta itu.
Leevi tahu, Azka memang seperti itu. Apa yang diucapkannya bukanlah omong kosong belaka. Semua kata-katanya tercermin dari perbuatannya. Seperti saat dia berkata akan menikahi Leevi dulu. Dan Azka benar-benar membuktikannya.
Leevi menghela napas dalam. Menaruh ayam goreng yang baru dimakan setengah. Mendadak tidak nafsu lagi padahal ini makanan favoritnya. Memikirkan Azka membuatnya dilanda dilema. Tidak mengerti kenapa segalanya bisa berkembang ke arah kerumitan.
Azka adalah orang baik. Sedikit banyaknya, Leevi tahu tentang masa lalu laki-laki itu lewat kabar dan gosip yang sering dibagikan oleh temannya. Tentang gengnya, mereka dulu sering tawuran. Tapi Azka cepat move on. Laki-laki itu tiba-tiba keluar dari gengnya dan hidup tenang seperti remaja pada umumnya.
Beberapa tahun kemudian, Azka tiba-tiba datang ke hidupnya, dan berakhir meminangnya. Lebih dari itu, Azka juga memperlakukannya dengan baik. Menjadi suami yang baik dan menjalankan kewajiban serta tanggung-jawabnya. Tidak pernah mengeluhkan sikap Leevi yang tidak sopan dan seenaknya.
Semua itu sudah lebih dari cukup menjadi bukti betapa tulus dan dalamnya rasa yang dimiliki Azka untuknya. Orang sebaik itu ... Leevi juga tak ingin menyakitinya lagi.
Tapi bagaimana? Leevi sendiri juga tak ingin membohongi siapa pun, terlebih dirinya sendiri. Meski jujur, rasa tidak sukanya terhadap Azka memang sudah jauh berkurang dibanding saat pertama kali menikah. Namun tetap saja, ia tak bisa memungkiri jika ia tidak menyukai Azka sama seperti ia menyukai Danish.
Haruskah ia berhenti mengejar Danish hanya karena statusnya sebagai istri sah Azka? Karena Azka? Demi laki-laki itu? Leevi menggeleng. Betapa dangkalnya pemikiran tersebut. Leevi tahu hal itu takkan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah baru.
Dosanya akan bertambah besar karena telah membohongi orang sebaik Azka. Leevi tahu ia jahat dan ia tak ingin bertindak lebih kejam lagi.
Satu hal yang ia tahu dengan pasti semenjak memulai lagi usahanya mendekati Danish adalah, dia bisa saja kehilangan segalanya. Entah di akhir cerita, atau justru di tengah-tengah usahanya.
Ya, Leevi tahu konsekuensinya. Persentase keberhasilan dapat dikatakan mustahil, kalau bukan keajaiban. Meski begitu, ia tak bisa berhenti sekarang. Dulu Leevi pernah terlambat dan akhirnya kehilangan kesempatan. Kali ini, kesempatan tersebut datang kembali.
Meski ia tahu ini bukanlah jalan yang benar. Tapi hanya ini satu-satunya jalan yang dapat ia tempuh. Dengan mengabaikan nurani, mengabaikan kebaikan Azka. Dan mengutamakan kepentingan pribadi. Hal yang baru pertama kalinya dilakukan. Karena selama ini, Leevi tak pernah egois. Ia tidak pernah menuntut apa-apa.
Dengan pemikiran seperti itu, Leevi bangkit dan membereskan meja makan. Bersiap untuk tidur meski perasaannya masih tidak enak.
Alangkah baiknya jika ia bisa menyelaraskan nurani dan keinginan hati.