[Maafin aku ya, tiba-tiba ada urusan darurat sampe harus ninggalin kamu. Gimana kalo kita jalan? Anggap aja sbg permintaan maafku.]
Azka mendengus kesal. Bisa-bisanya Danish memanfaatkan situasi dengan cara seperti ini. Padahal ini kan sebenarnya adalah salahnya Danish sendiri. Kenapa sekarang malah jadi kesempatan untuk mengajak istrinya kencan lagi, sih?
Sementara Azka yang notabene adalah suami sah Leevi saja belum pernah pergi kencan berdua bersama Leevi. Huh, menyebalkan!
Leevi mengamati ekspresi bersungut-sungut milik Azka dengan tatapan geli. Ternyata mantan pentolan geng bisa juga bersikap imut, ya? Hahaha ....
“Jadi gimana?” tanya Leevi sambil menyimpan kembali ponselnya. Azka masih dalam mode ngambek, mengalihkan pandang ke sekitar seakan-akan tak mendengarkan pertanyaan barusan.
Leevi juga tak memaksa. Hanya menatap lamat-lamat pada wajah Azka, duduk diam dan menunggu dengan sabar. Hingga akhirnya Azka tidak tahan dan balas menatap padanya. Curi-curi pandang, tentunya. Wajah laki-laki itu merona hingga ke leher.
“Ka ... kamu sendiri maunya gimana?” Azka balik bertanya gugup. Meski begitu, ia masih berusaha mempertahankan gestur sok cool.
“Udah pasti aku maulah!” sambar Leevi santai tanpa beban.
Azka makin misuh-misuh. ‘Begini nih, rasanya punya tapi gak berhak. Udah kayak flat shoes nasib aku, ah,’ batin Azka nelangsa. Ingin rasanya dia tolak tanpa ba-bi-bu. Sayangnya ia lemah dengan binar penuh harap di mata sang istri.
“Emangnya mau kemana, gitu?” tanya Azka lagi. Leevi menggeleng tanda tak tahu.
“Tanyain. Nanti kamu diajak ke tempat yang aneh-aneh gimana?” tambah Azka berusaha menakut-nakuti.
Yah, walaupun jauh di dalam hatinya, Azka tahu bahwa itu tak ada gunanya. Leevi dengan keras-kepalanya. Dengan keteguhannya. Ah, betapa beruntungnya jika ia bisa menggantikan posisi Danish di hati Leevi. Azka tidak akan meminta apa-apa lagi.
“Ya gapapa, sih,” sahut Leevi enteng yang dihadiahi pelototan tidak rela Azka. Diam-diam, Leevi menikmati sesi ‘mari mem-bully Azka’ seperti saat ini.
“Berarti kamu ngasih izin dong?” tambah Leevi masih menatap tajam pada Azka.
Azka mendegut ludah. Betapa jauhnya Leevi berubah, dari sosok yang malas hidup menjadi penuh percaya diri dan sanggup menekan Azka seperti ini. Betapa besarnya pengaruh seorang Danish dalam hidup Leevi.
Azka menghela napas panjang, berusaha menetralkan rasa perih yang berdenyut di sudut hati. Lama-lama Azka jadi makin merasa tidak berguna. Semua hal yang ia usahakan seperti tidak ada nilanya di mata Leevi.
“Aku nggak kasih izin pun, kamu bakal tetap pergi, kan?” tanya Azka yang diangguki Leevi. Azka tersenyum tipis.
“Aku berterima kasih, kamu udah menghargai aku dengan minta izin seperti ini. Maka dari itu, aku juga harus tahu kamu bakal pergi ke mana. Kamu itu masih tanggung-jawab aku. Ngerti kan?” jelas Azka lembut.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali larut dalam keheningan. Malam merangkak kian tinggi, Azka nyaris tertidur jika bukan suara Leevi yang mengembalikan kesadarannya ke dunia nyata.
“Ngajak main di Taman Hiburan gitu,” ujar gadis itu sambil melihat layar ponsel. Kebetulan barusan Danish membalas pesannya yang langsung ia sampaikan ke Azka. Gadis itu tak menyadari jika Azka yang duduk di sampingnya sudah bolak-balik alam mimpi-alam nyata.
Alis Azka mengernyit heran. Setahunya di kota mereka tidak ada Taman Hiburan. Apa jangan-jangan yang dimaksud Danish itu adalah ....
“Maksudnya Pasar Malam yang lagi diadain di alun-alun?”
Butuh sekitar setengah menit bagi Leevi untuk mendapatkan jawaban dari Danish. Gadis itu mengangguk, setengah heran. Azka tahu dari mana, sih?
Azka menggigit bibir. Yang benar saja, mana mungkin ia izinkan istrinya pergi kencan malam-malam dengan laki-laki lain!
Tapi, menolak juga bukan pilihan bijaksana. Leevi pasti akan mencari cara untuk pergi. Hm ... kalau begini, Azka harus putar otak.
“Kapan?” tanya Azka lagi. Semoga bukan dalam waktu dekat, soalnya dia sedang sibuk-sibuknya di kantor. Kalau pun memang dalam waktu dekat, ia harus tahu harinya.
Azka bertekad, ia harus menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, atau dia harus minta tolong temannya untuk sementara menggantikan tugasnya. Atau izin selama beberapa jam. Hanya untuk sekali itu saja, selama durasi kencan Danish dan Leevi saja. Setelahnya ia bisa buru-buru kembali ke kantor melanjutkan pekerjaannya.
“Dia bilang dalam waktu dekat. Nggak ngasih tahu tanggalnya.”
Leevi memperhatikan gestur gelisah Azka yang makin kentara. Jelas terlihat bahwa laki-laki itu ingin melarangnya tapi tak kuasa. Lucu, sih di mata Leevi. Agak kasihan juga.
“Nanti kalau dia udah pastiin tanggalnya, aku akan kabarin kamu,” putus Leevi akhirnya. Azka mengangguk tegas.
“Harus! Yaudah, kamu tidur. Besok sif pagi, kan?”
Leevi mengangguk pelan. Tak perlu bertanya dari mana laki-laki itu tahu mengenai jadwal kerjanya. Azka itu setengah stalker.
Untung saja orang yang dia stalk adalah istrinya sendiri. Leevi agak tidak nyaman, tapi ia tak ingin memperpanjang masalah. Toh, Azka begitu-begitu juga tahu batasan, kok.
Sekembalinya Leevi mencuci muka di kamar mandi, Azka masih berada di ruang tengah. Kali ini ditemani laptop. Alis Leevi bertaut heran. Azka yang semula fokus pada layarnya, menoleh demi merasakan tatapan Leevi. Laki-laki itu meringis pelan, melempar sebuah cengiran.
“Aku ada dead line sebentar lagi. Aku pindah ke bawah biar gampang kalo mau nambah kopi,” jelasnya tanpa diminta.
“Aku nggak nanya. Aku cuma mau lewat aja,” balas Leevi menyebalkan. Azka tak marah, karena sejujurnya dia memang duduk menghalangi jalan Leevi. Laki-laki itu cepat-cepat bangun dan memberi ruang agar Leevi bisa lewat.
Gadis itu berjalan santai, melenggang kangkung dengan gestur dan ekspresi seperti seekor anggora yang sedang melenggang santai. Wajah santai semi sombong dengan buntut berbulu lebat mengibas menggemaskan.
Setidaknya begitulah yang ada dalam pikiran Azka. Laki-laki itu benar-benar harus menahan diri untuk tidak menerjang Leevi dengan bear hug. No no no! Azka harus tahan atau kucing itu akan mencakar penuh benci. Harus tahan sampai Leevi masuk kamar, setelahnya ia bisa melampiaskan kegemasannya pada bantal sofa.
Sementara Leevi sendiri, yang tidak mengetahui apa-apa meneruskan langkahnya ke kamar. Berbaring santai di tempat tidurnya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Pikirannya berkelana ke mana-mana. Pada kilas balik saat bekerja di kafe seharian. Pada dinner bersama Danish tempo hari yang berakhir aneh.
Dan cara laki-laki itu memperbaiki kesalahannya. Bukankah itu terlihat agak kentara? Memangnya apa yang salah jika akhir dari dinner mereka justru Danish pulang lebih dahulu? Bukankah mereka sejak awal tidak ada hubungan apa-apa?
Atau Danish memang sengaja mencari cara agar tetap bisa jalan dengannya di lain waktu? Lewat cara yang halus? Setelah kencan mereka nantinya—yang masih belum terjadi— lalu apa?
Leevi gagal paham. Kalau Danish terus bersikap seperti ini, ia juga tak bisa menahan diri untuk tidak salah paham. Hubungan mereka yang aneh, sikap Danish yang juga aneh. Azka bahkan lebih dapat dimengerti dibanding Danish.
Haah, kenapa sekarang ia malah membanding-bandingkan kedua orang itu? Sepertinya selama ini ia sudah terlalu banyak berkompromi dengan Azka hingga akhirnya ia mulai terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu.
Rasa jengkelnya terhadap Azka pun sudah jauh berkurang dibanding saat masa-masa awal pernikahan mereka.
Lamunan randomnya terusik oleh bunyi pesan masuk. Leevi mengulet malas, menjadi bersemangat kala mengetahui pengirim pesan adalah Danish.
[Kita jalan Kamis aja? Aku jemput di tempat kerjamu?]
Semangat yang semula meluap-luap, perlahan tapi pasti mulai menguap. Ibu jari digigit, mata masih fokus pada layar ponsel sementara pikirannya sudah mengelana ke mana-mana. Padahal Leevi sudah menyimpan harap kalau Danish akan mengajaknya di akhir pekan.
Kalau dipikir-pikir, Danish memang belum pernah mengajaknya jalan atau bertemu di akhir pekan. Terutama di hari Minggu. Apakah laki-laki itu sengaja? Hari Minggu adalah hari khusus bersama orang terkasih, begitu?
Padahal Leevi ingin sekali kencan di akhir pekan. Karena hanya di akhir pekanlah, jalanan akan dipadati oleh pasangan. Ramai. Dan Leevi ingin orang-orang berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Sebuah kesalahpahaman terindah yang ingin Leevi wujudkan sekali saja.
Kalau seperti ini, Leevi benar-benar tak mengerti. Sebenarnya Danish menganggap dirinya apa? Apakah sinyal-sinyal yang diberikannya selama ini kurang jelas? Apakah Leevi benar-benar harus melewati batas dulu agar di-mention sama Danish?
Dan berakhir dengan kehilangan semuanya?
Leevi menghembuskan napas kasar. Dia sudah tahu jika lebih mustahil lagi baginya untuk mendapatkan akhir yang bahagia. Tapi bukan secepat itu juga. Dia ingin menikmati momen demi momen sedikit lebih lama. Meskipun kebersamaan ini semu adanya.
Untuk mengisi penuh relung hati yang selama ini mendamba. Akan Leevi isi penuh, sepenuh mungkin hingga ia rasa cukup untuk menjadi tabungannya menjalani fase hidup selanjutnya.
Agar dia dapat menjalani sisa umurnya tanpa penyesalan, tanpa digerogoti kesepian karena tidak berusaha keras mendapatkan hati Danish. Akan diputarnya semua kenangan tersebut di malam-malam menjelang tidurnya.
Atau di siang hari yang berat. Akan Leevi jadikan kenangan-kenangan indah nan semu tersebut sebagai penopang. Baik di kala luka menghampiri saat menyadari tempatnya, tepat di sana di sudut paling kosong dan sepi. Tanpa Danish. Tanpa siapa pun selain dirinya sendiri.
Sepertinya Leevi memang harus bekerja lebih keras lagi. Sedikit lagi, sampai Danish bersedia mengabulkan keinginan-keinginan kecilnya—jika memang mustahil untuk bisa bersama.
Dan hal itu dimulai dari pergeseran hari kencan mereka. Untuk saat ini, Leevi harus puas dengan keadaan yang ada. Suka atau tidak, ia hanya bisa bilang oke. Leevi yakin, semua ada waktunya.
Memutar kenangan ternyata bisa bikin haus juga. Leevi akhirnya memutuskan untuk mengambil segelas air sebelum bersiap tidur. Menyambar gelasnya kosongnya di nakas, Leevi berlalu ke dapur.
Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamarnya sendiri. Ruang tengah masih sama benderangnya seperti 2 jam lalu ia tinggalkan. Masih juga dengan sosok yang sama yang berfokus pada layar laptop. Berkas-berkas berserakan di sekeliling laki-laki itu, dari atas meja sampai di atas pangkuannya.
Kali ini Azka sudah tidak duduk di tempatnya tadi, ia pindah ke tempat bekas Leevi duduk semula. Leevi melirik jam dinding. Sudah pukul 11 malam. Azka masih terus berfokus dengan pekerjaannya. Lantas besok pagi juga harus berangkat pagi-pagi. Apa laki-laki itu tidak lelah?
Leevi menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak. Untuk apa memikirkan hal itu? Sejak kapan ia peduli pada Azka? Bahkan meskipun benar Leevi menyimpan kepedulian di dalam hatinya, Leevi tidak bermaksud untuk menunjukkannya pada Azka.
Tak perlu, ia tak mau perhatian-perhatian kecil yang ia tunjukkan nantinya akan disalahartikan oleh Azka. Mereka kan tidak akan bersama selamanya. Leevi tidak mau meninggalkan rasa sakit yang lebih banyak lagi bagi Azka jika nanti tiba waktu baginya untuk pergi.
Karena itulah, gadis itu melenggang santai melewati Azka. Menyelesaikan urusannya mengambil air minum, lalu kembali lagi ke kamarnya. Azka tersenyum sekilas saat Leevi berjalan melewatinya. Tatapan memuja yang dilayangkannya masih seperti yang biasa Leevi tangkap.
Leevi kemudian sadar ketika ia telah kembali duduk di tempat tidurnya. Kala ia menyapukan ekor matanya menyapu keseluruhan benda di atas meja tadi. Tak terdapat gelas atau bekas apa pun yang menjelaskan jika Azka pernah ngopi.
Entah itu gelas kopi, Leevi tak mendapatinya di meja mau pun di bak cuci piring. Bahkan bekas kopi kalengan atau kopi kemasan botol juga tidak.
Azka batal bikin kopi? Apa dia tidak mengantuk? Tapi mustahil, beberapa kali Leevi memergokinya mengusap mata dan menguap.
Sepertinya dead line yang sedang dikejar Azka memang tidak main-main. Apakah Azka sering seperti ini? Leevi tak pernah tahu. Ini pertama kalinya ia melihat Azka dengan pekerjaannya.
Dulu, Leevi tak pernah keluar kamar di atas jam 8 malam. Begitu pun halnya dengan Azka. Sepulang kerja, langsung masuk ke kamarnya di lantai dua. Leevi tidak tahu entah apa saja yang dilakukan laki-laki itu di kamarnya. Tak tahu, serta tak mau tahu.
Entahlah. Leevi tak ingin peduli lebih dari ini. Dia harus cuek dan berhati-hati. Bisa saja kan, ini salah satu akal-akalan Azka agar mendapat perhatian darinya? Siapa yang tahu, mungkin saja kan kalau berkas-berkas itu cuma kedok? Di balik punggung Leevi, siapa tahu Azka justru sibuk main game online. Bisa jadi kan?
Lalu, kalau Danish. Leevi tidak tahu apakah Danish suka main online game atau tidak. Kalau pun iya, Leevi tidak akan mempermasalahkannya.
Mau Danish begadang mengoreksi lembar jawaban, atau begadang main game, Leevi pasti akan menyiapkan kopi untuknya. Menemani Danish sampai ia mengantuk dan berakhir tertidur berbantalkan paha Danish.
Haah, lagi-lagi imajinasinya berkelana semakin liar saja. Angan-angan yang membuatnya nelangsa, angan yang sana yang mampu membuatnya rileks dan segera mendapatkan rasa kantuk. Hanya angan-angan seperti inilah yang mampu membuatnya bertahan dari hari-hari membosankan dan mencekik.
Leevi akhirnya jatuh tertidur diayun angan. Meninggalkan semuanya, melupakan segalanya termasuk janjinya untuk memberi tahu Azka jika hari kencannya sudah dikonfirmasi oleh Danish.
Padahal satu jam lagi sudah masuk hari Rabu.
Meninggalkan Azka yang masih berjuang melawan kantuk dan lelah. Tanpa kopi, tanpa cemilan tengah malam. Satu-satunya penyemangat Azka hanyalah pintu kamar bercat cokelat madu itu.
Pintu di mana di dalamnya terbaring seorang perempuan yang menjadi alasannya mampu bekerja sekeras dan serajin ini. Alasan yang sama yang membuatnya memutuskan untuk mengerjakan pekerjaannya di bawah, bukan di kamarnya seperti biasa.
Jika membayangkan kalau Leevi sedang tidur di sana, tak kekurangan suatu apa pun—tak boleh. Hanya dengan membayangkan itu saja, semangat Azka langsung terisi penuh.
Azka harus kuat, lahir dan batin. Moril dan materiil. Dia harus menjadi seperti itu agar bisa menopang sang istri. Memenuhi kebutuhannya. Menjadi benteng pelindung sekaligus bahu tempat bersandar
Hanya Leevi dan selamanya akan tetap begitu. Azka tidak akan peduli pada hal lain, pada orang lain, termasuk dirinya sendiri. Semuanya demi kebahagiaan Leevi.
Meregangkan badan sekali lagi, Azka mengumpulkan lagi sisa-sisa tenaganya. Kembali melanjutkan pekerjaannya, mengarungi malam yang panjang ditemani detak jam dinding dan bunyi tokek yang menempel di dinding.