Bu Retno menelepon empat hari kemudian, di malam hari, setelah jam kerja, dari nomor yang berbeda dari yang ia berikan.
Rani sedang menulis catatan asuhan di rumah ketika ponselnya bergetar. Ia mengenali nomor itu meski tak tersimpan. "Mbak Rani," suara Bu Retno terdengar lebih bebas dari di teras Dinas, tapi tetap hati-hati. "Maaf saya telepon malam. Saya nggak enak ngomong soal ini di kantor. Tembok-temboknya tipis di sana."
Mereka berbicara hampir satu jam. Dan dalam satu jam itu, Bu Retno membuka pintu yang Rani bahkan tak tahu ada.
Selama ini Rani berperang dalam ruang yang sempit: stok obat puskesmas, rujukan yang ditolak kuota, transport yang dibayar urunan. Ia mengira itulah seluruh medan—seperti seseorang yang bertahun-tahun mengetuk satu pintu yang terkunci, tak tahu bahwa di sisi lain rumah ada pintu lain yang tak pernah ia coba. Bu Retno menunjukkan pintu itu.
"Ada yang namanya TPKJM, Mbak," katanya. "Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat. Tingkat kabupaten. Lintas sektor—bukan cuma Dinas Kesehatan, tapi sosial, pemberdayaan, kadang sampai pemda. Tugasnya persis kayak yang Mbak kerjakan: koordinasi penanganan ODGJ, termasuk pasung. Masalahnya, di kabupaten kita TPKJM-nya ada di atas kertas tapi mati suri. Nggak ada yang menggerakkan karena nggak ada yang punya data dan kemauan. Sampai laporan Mbak masuk."
Rani mencatat di kepalanya, jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Dan ada program Stop Pasung dari provinsi," lanjut Bu Retno. "Itu ada anggarannya, ada targetnya, ada dana untuk rujukan, obat tambahan, bahkan honor kader dan pelatihan. Tapi dana itu nggak turun begitu saja. Harus diakses lewat proposal. Desa atau kecamatan harus mengajukan, dengan data, dengan komitmen tertulis dari pemerintah setempat, dengan rencana berkelanjutan. Selama ini Tanjung Wuni nggak pernah dapat karena nggak pernah ada yang tahu cara mengajukan, dan nggak pernah ada data yang layak diajukan." Ia berhenti. "Sekarang Mbak punya datanya. Mbak punya kisah Sutejo, Wulan, semuanya. Mbak punya kunjungan Asisten Bupati yang sudah memuji program ini secara terbuka. Semua bahan untuk proposal yang kuat sudah ada di tangan Mbak. Yang belum ada cuma proposalnya sendiri."
Rani duduk diam, ponsel menempel di telinga, dan ia merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan dalam pekerjaan ini: bukan kelegaan sesaat dari satu kasus yang selesai, melainkan kemungkinan struktural. Selama ini ia melawan ketiadaan dengan menambal—urunan transport, menyisihkan strip obat, memohon kuota. Tiap tambalan menyelamatkan satu hari, satu orang, lalu robek lagi. Apa yang Bu Retno tawarkan bukan tambalan. Itu jahitan yang bisa menahan.
"Kenapa Ibu bantu saya?" tanya Rani akhirnya. "Ini bukan tugas Ibu. Ibu bisa kena masalah kalau ketahuan ngasih jalan ke saya diam-diam."
Hening sebentar di ujung telepon. Lalu suara Bu Retno, lebih pelan. "Saya udah dua belas tahun nginput data keswa, Mbak. Dua belas tahun saya ngetik angka nol di kolom pasung untuk kecamatan-kecamatan yang saya tahu nggak mungkin benar-benar nol. Saya tahu mereka ada di sana, di gudang-gudang itu, tapi nggak ada yang mendata, jadi di sistem mereka nggak ada. Saya cuma birokrat yang ngetik angka. Saya nggak pernah bisa apa-apa." Suaranya bergetar sedikit. "Pas laporan Mbak masuk, untuk pertama kali ada angka yang benar. Belasan. Dengan nama. Saya cuma... saya cuma nggak mau angka itu masuk laci kayak yang lain. Saya udah capek ngetik kebohongan, Mbak."
Rani menutup matanya. Ia mengira ia berjuang sendirian melawan tembok. Ternyata di dalam tembok itu ada orang-orang yang juga menanggung beratnya, dengan cara yang berbeda dan lebih sunyi—orang yang tak bisa mengetuk pintu gudang, tapi yang tahu di mana letak pintu-pintu lain yang bisa dibuka.
"Saya akan buat proposalnya," kata Rani.
"Bagus. Saya bantu dari dalam. Saya kasih tahu formatnya, tenggatnya, siapa yang harus tanda tangan. Tapi Mbak harus tahu," Bu Retno memperingatkan, "ini bukan jaminan. Proposal bisa lolos, bisa ditolak, bisa mengendap setahun. Birokrasi itu lambat dan tak bisa ditebak. Jangan berharap terlalu tinggi."
"Saya nggak berharap. Saya cuma butuh satu kemungkinan yang nyata."
Mereka menutup telepon, dan Rani duduk lama di meja dapurnya. Lalu ia mengeluarkan kertas kosong, dan mulai menulis.
Ia menulis sampai larut. Data peta titik merah. Belasan nama, diubah jadi tabel yang rapi. Kisah Sutejo—dari gudang berbau pesing sampai berdiri menjabat tangan pejabat. Kisah Wulan—dari kamar terkunci sampai menggendong bayinya lagi. Rencana berkelanjutan: depot injeksi, Posyandu Jiwa, kader, sistem rujukan. Ia menulis bukan sebagai keluhan, tapi sebagai sebuah model—sesuatu yang bisa ditiru, didanai, diperluas.
Menjelang dini hari, ia berhenti, menatap tumpukan kertas di hadapannya. Dan di tengah harapan yang membuncah, ada keraguan yang ia kenal betul. Ia sudah pernah menyerahkan kertas ke dalam mesin birokrasi—laporan pasung yang ditandatangani dr. Pram. Ia tahu betapa mudahnya sebuah dokumen, betapa pun penuh nyawa dan kerja keras di baliknya, menjadi hanya tumpukan lain di sebuah laci di gedung berlantai keramik mengkilap. Proposal ini bisa mengubah segalanya untuk Tanjung Wuni. Atau ia bisa jadi setumpuk kertas yang Bu Retno, tahun depan, ketik angkanya ke kolom yang salah lagi. Rani memandang tulisannya, menarik napas panjang, dan menyadari bahwa untuk pertama kali sejak ia memulai semua ini, harapannya tak lagi bergantung pada tangannya sendiri menahan rantai—tapi pada sebuah sistem yang mungkin, mungkin saja, akhirnya sudi ikut menahan. Dan tak ada yang lebih menakutkan daripada menaruh harapan pada sistem yang sudah terlalu sering mengecewakanmu.