Topan datang ke Puskesmas dengan seragam putih-abu yang ia gali dari lemari—seragam lama, kekecilan di bahu, kancing atas tak terkait karena sudah sempit, tapi disetrika rapi oleh ibunya. Ia berdiri di pintu ruang konseling, canggung, dan berkata pada Yoga, "Mas, saya mau balik sekolah."
Kalimat itu sederhana. Pelaksanaannya tidak.
Topan sembilan belas tahun. Tujuh tahun dari masa sekolahnya hilang, dikurung karena kejang yang disangka kesurupan, sementara teman-teman seangkatannya sudah lulus, bekerja, menikah. Ia ingin masuk kembali ke kelas tiga SMP yang dulu ia tinggalkan—duduk di antara anak-anak empat tahun lebih muda. Itu sendiri sudah berat. Tapi yang membuatnya jadi pertarungan adalah ketakutan, bukan usia.
Yoga, yang kini memegang kasus Topan dengan kehati-hatian baru yang ia tempa dari kesalahannya, mendatangi sekolah lebih dulu, sendirian. Ia pulang dengan wajah yang Rani kenal—wajah seseorang yang baru menabrak tembok yang tak ia duga.
"Kepala sekolahnya nolak, Mbak," katanya. "Halus, tapi nolak. Bilang sekolah nggak punya fasilitas buat anak yang sakit-sakitan. Takut Topan kejang di kelas, bikin panik, bikin anak-anak lain takut. Salah satu guru malah bilang—" Yoga menelan ludah, marah— "bilang nanti anak-anak lain ketularan. Ketularan, Mbak. Kayak epilepsi itu flu."
Rani menutup mata sejenak. Inilah dinding yang ia tahu akan datang. Pembebasan medis Topan sudah berhasil—obatnya bekerja, kejangnya jarang dan terkontrol. Tapi pembebasan medis hanya separuh. Separuh lainnya adalah dunia yang menolak menerimanya kembali, dunia yang sama yang dulu mengurungnya karena tak mengerti, dan yang kini menutup pintu karena tetap tak mengerti.
"Kita nggak lawan dengan marah," kata Rani. "Kita lawan dengan ngajarin. Mereka nolak karena takut, dan takut datang dari nggak ngerti. Kita kasih mereka yang mereka butuh untuk berhenti takut."
Mereka kembali ke sekolah berdua, membawa bukan tuntutan tapi penjelasan. Di ruang guru yang pengap, di hadapan kepala sekolah dan beberapa guru yang duduk dengan tangan terlipat dan wajah penuh kecurigaan, Rani menjelaskan epilepsi dengan bahasa yang sederhana, sabar, tanpa merendahkan. Bahwa kejang bukan kerasukan, bukan kutukan, bukan penyakit menular. Bahwa otak Topan kadang mengirim sinyal listrik yang berlebihan, seperti korsleting sesaat, dan obat yang ia minum tiap hari menjaga sinyal itu tetap teratur. Bahwa dengan obat, kejang Topan jarang—tapi kalaupun terjadi, itu tak berbahaya bagi siapa pun di sekitarnya.
Lalu, yang paling penting, ia tak hanya bicara. Ia mengajari mereka apa yang harus dilakukan. "Kalau Topan kejang—dan mungkin saja masih terjadi—jangan panik. Jangan dipegangi, jangan dimasukin sesuatu ke mulutnya, itu malah bahaya. Cukup singkirkan benda keras di sekitarnya, miringkan badannya pelan, lihat jam berapa mulai. Biasanya berhenti sendiri dalam beberapa menit. Kalau lebih dari lima menit, baru telepon kami atau bawa ke Puskesmas." Ia menuliskan langkah-langkah itu di kertas dan menyerahkannya. "Anak-anak lain justru bisa belajar dari ini. Belajar nggak takut sama yang berbeda. Belajar nolong, bukan ngejauhi."
Kepala sekolah membaca kertas itu, masih ragu. Para guru saling pandang. Rani melihat ketakutan mereka tak sepenuhnya cair—tujuh tahun stigma tak runtuh dalam satu pertemuan.
Tapi di pojok ruangan, seorang guru muda—perempuan, mungkin baru beberapa tahun mengajar, dengan wajah yang sedari tadi mendengarkan tanpa menyilangkan tangan seperti yang lain—mengangkat suaranya. "Pak," katanya pada kepala sekolah, "saya ngajar Bahasa Indonesia di kelas tiga. Saya bersedia Topan masuk di kelas saya." Ia menoleh ke Rani. "Saya pernah punya saudara epilepsi. Saya tahu kok rasanya kalau orang ngeliat dia kayak makhluk aneh. Saya nggak mau ada anak yang ngerasa kayak gitu di kelas saya."
Ruangan hening. Kepala sekolah menatap guru muda itu, lalu menatap kertas di tangannya, lalu—dengan keraguan yang masih ada tapi sudah retak—mengangguk pelan. "Kalau Bu Wati yang berani tanggung jawab," katanya, "kita coba. Tapi kalau ada masalah—"
"Nggak akan ada masalah yang kita nggak bisa tangani bersama, Pak," potong Rani lembut. "Itu yang kami pastikan."
Hari Topan masuk sekolah, Rani dan Yoga mengantarnya sampai gerbang, lalu berhenti di sana—lebih jauh dari itu, Topan harus melangkah sendiri. Pemuda itu berdiri sejenak di mulut gerbang, mengenakan seragam putih-abu yang baru dibelikan ibunya menggantikan yang kekecilan, tasnya tergantung di satu bahu. Anak-anak yang lewat menatapnya—lelaki tinggi besar di antara remaja yang empat tahun lebih muda. Beberapa berbisik. Topan menundukkan kepala sebentar, dan Rani menahan napas, takut ia akan berbalik.
Tapi lalu Bu Wati muncul di balik gerbang, melambai, memanggilnya dengan namanya. "Topan! Sini, kelasnya di sebelah sana."
Dan Topan mengangkat wajahnya. Ia menoleh ke belakang sekali, ke arah Rani dan Yoga, dengan tatapan yang penuh ketakutan dan harapan dalam takaran yang sama. Lalu ia melangkah masuk—canggung, kaku, kebesaran badannya di seragam yang masih asing—menuju seorang guru muda yang memanggil namanya seolah ia anak biasa yang terlambat masuk kelas, bukan pemuda yang baru saja keluar dari tujuh tahun kegelapan. Rani menyaksikannya berjalan menjauh, bahu lebar di antara bahu-bahu kecil, dan ia merasakan matanya panas. Bukan karena Topan sudah aman—dunia masih akan menatapnya, masih akan berbisik, masih akan menguji penerimaan yang baru saja dimenangkan. Tapi karena untuk pertama kali dalam bertahun-tahun, pemuda itu memakai seragam lagi, dan ia melangkah masuk ke dunia yang dulu menutup pintunya, dengan namanya dipanggil bukan sebagai aib, melainkan sebagai murid.