Sutejo sudah cukup pulih untuk keluar dari gudang. Itu seharusnya jadi kabar baik. Itu memang kabar baik. Tapi Rani belajar, di kampung ini, kabar baik jarang datang sendirian.
Selama berbulan ini, dunia Sutejo adalah gudang yang dilepas rantainya, lalu teras rumah Pak Darmin, lalu halaman kecil di belakang. Suntikan depot menjaganya stabil, kakinya yang dilatih Yoga sudah bisa membawanya berjalan tanpa dipapah. Rani mendorongnya keluar lebih jauh—ke jalan dusun, ke warung, ke ruang sosial tempat ia dulu hidup sebagai manusia sebelum penyakit dan rantai mengeluarkannya dari sana. Karena kesembuhan yang nyata bukan kemampuan berdiri di teras sendiri. Kesembuhan yang nyata adalah kembali jadi bagian dari kampung.
Di situlah Rani menemukan tembok yang tak bisa ia obati dengan dosis apa pun.
Ia berjalan bersama Sutejo suatu sore, menemaninya ke warung Bu Sumi di ujung gang, sekadar membeli rokok dan duduk di bangku panjang seperti lelaki-lelaki lain. Hal yang biasa. Hal yang dilakukan ratusan lelaki di kampung ini tiap sore. Tapi ketika Sutejo mendekat, Rani melihatnya—gerakan kecil yang menyakitkan. Dua lelaki yang sedang duduk di bangku itu bangkit, pelan-pelan, dengan dalih hendak pulang, dan menjauh. Bu Sumi melayani Sutejo, tapi ia meletakkan bungkus rokok di meja alih-alih ke tangannya, lalu mundur selangkah, dan menerima uangnya dengan ujung jari, seolah takut tersentuh.
Sutejo melihat semua itu. Rani tahu ia melihatnya, karena bahunya yang baru saja tegak perlahan menurun.
Lalu datang yang lebih buruk dari orang dewasa yang menjauh diam-diam. Sekelompok anak, mungkin tujuh atau delapan tahun, yang dulu lahir setelah Sutejo sudah jadi dongeng menakutkan di kampung—orang gila yang dirantai di gudang—berlari melewati warung. Salah satu menunjuk. "Itu, itu yang dirantai dulu!" Yang lain ikut menoleh, dan dengan kekejaman polos anak-anak yang mengulang apa yang mereka dengar dari orang tua, mereka mulai. "Wong edan! Wong edan!" Mereka berlari mengitari, menjaga jarak aman, melempar kata-kata yang lebih melukai daripada batu.
Sutejo membeku. Tangannya, yang baru beberapa bulan lalu menjabat tangan pejabat kabupaten, kini menggenggam erat bungkus rokok yang gemetar. Wajahnya—Rani tak akan pernah lupa wajahnya saat itu—bukan wajah orang yang mengamuk, bukan wajah penyakit. Wajah seorang manusia yang menyadari, di hadapan seluruh kampung, bahwa tubuhnya sudah dibebaskan tapi namanya tak pernah dilepas dari rantai itu.
Rani mengusir anak-anak itu, suaranya tajam, dan mereka bubar berlari sambil tertawa. Tapi mengusir anak-anak tak menghapus apa yang sudah masuk ke dalam diri Sutejo. Ia tak menyelesaikan duduknya di bangku. Ia berbalik dan berjalan pulang, langkahnya cepat, tergesa, dan Rani mengikutinya dalam diam karena tak ada kata yang ia punya yang bisa menambal sore ini.
Di rumah, Sutejo langsung masuk. Bukan ke ruang depan, tempat keluarganya kini menerimanya. Ia berjalan melewati ruang depan, melewati kamar, menuju belakang—ke gudang. Rani mengikutinya dengan jantung berdebar, dan ia menemukan Sutejo berdiri di ambang pintu gudang yang dulu memenjarakannya bertahun-tahun, gudang berbau pesing dengan paku tempat rantainya dulu tertambat. Ia menatap ke dalam ruang gelap itu—ke tempat yang seharusnya jadi mimpi buruknya—dengan sesuatu yang membuat seluruh tubuh Rani dingin.
Ia menatapnya seperti menatap perlindungan.
"Pak Sutejo," panggil Rani pelan, hati-hati, melangkah mendekat. "Ayo, kita duduk di depan. Yang tadi itu cuma anak-anak yang nggak ngerti. Bukan salah Bapak."
Sutejo tak menoleh. Ia terus menatap ke dalam gudang, dan ketika ia bicara, suaranya datar, lelah, jenis kelelahan yang lebih dalam dari kelelahan tubuh. "Di luar," katanya pelan, "semua orang ngeliatin saya, Mbak. Mereka liat saya kayak ngeliat setan. Anak-anak lari. Orang-orang minggir." Ia berhenti, napasnya berat. "Di dalam sini—" ia menunjuk gudang gelap dengan dagunya— "nggak ada yang ngeliat saya, Mbak. Nggak ada yang lari. Di dalam, saya nggak bikin orang takut."
Rani berdiri terpaku di ambang pintu gudang itu, dan untuk pertama kali sejak ia memulai semua ini, ia kehilangan kata-kata sepenuhnya.
Ia telah menghabiskan bertahun-tahun, seluruh dirinya, untuk membuka pintu ini—untuk mengeluarkan lelaki ini dari gelap, melepas rantainya, melatih kakinya berjalan, menstabilkan pikirannya, mengembalikan tubuhnya ke dunia. Dan kini lelaki yang sama berdiri di hadapannya, sembuh dan bebas, dan memohon untuk dikembalikan ke dalam—bukan karena penyakit, bukan karena waham, tapi karena dunia di luar gudang lebih kejam daripada gelap di dalamnya. Karena di dalam, setidaknya, tak ada yang menatapnya seperti aib yang berjalan.
Rani menyadari, berdiri di sana dengan bau pesing lama yang masih membekas di kayu gudang, bahwa ia baru saja menyelesaikan separuh dari pekerjaannya dan mengira itu seluruhnya. Ia telah membebaskan tubuh Sutejo. Tapi ada penjara kedua, lebih luas dari gudang mana pun, terbuat dari tatapan tetangga dan ejekan anak-anak dan tangan Bu Sumi yang takut tersentuh—penjara bernama stigma, yang tak punya rantai untuk dipotong, tak punya pintu untuk dibuka, dan yang tak bisa disuntik depot sebulan sekali. Dan menghadapi penjara itu, Rani tahu, akan jadi perang yang sama sekali baru, dan jauh lebih sulit, daripada semua gudang yang telah ia masuki. Karena membebaskan satu tubuh hanya butuh keberanian satu keluarga. Membebaskan satu nama butuh perubahan hati seluruh kampung.