Wulan stabil sekarang. Itu seharusnya menjadi kabar yang Rani syukuri tanpa beban. Obatnya jalan, ibu mertuanya kini menyiapkan risperidon sendiri tiap pagi, bayinya—yang kini sudah bisa duduk dan menggapai-gapai—tumbuh sehat di pangkuan ibu yang waras. Dari semua kasus Rani, Wulan adalah salah satu yang paling menyerupai keberhasilan utuh.
Tapi Rani belajar bahwa pulihnya pikiran membawa hal yang tidak ada saat pikiran masih kabur: ingatan.
Selama psikosis, Wulan terlindung oleh kabut wahamnya sendiri. Suara-suara, kecurigaan, ketakutan yang tak masuk akal—semua itu, betapapun menyiksanya, menutupi satu hal dengan rapat: kesadaran penuh akan apa yang nyaris ia lakukan. Tapi kini, dengan obat mengembalikan kejernihan, kabut itu terangkat, dan yang tertinggal di baliknya adalah cermin yang tak bisa Wulan palingkan dari wajahnya.
Rani menyadarinya saat kunjungan rutin, ketika ia menemukan Wulan duduk menjauh dari bayinya, menatap anak itu dari seberang ruangan dengan ekspresi yang membuat Rani waspada—bukan ekspresi waham, ia sudah hafal yang itu, tapi sesuatu yang lebih sunyi dan lebih dalam.
"Wulan," panggil Rani lembut, duduk di sampingnya. "Kenapa nggak gendong?"
Wulan tidak menjawab segera. Tangannya yang ada di pangkuan saling meremas. "Mbak," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik, "saya inget semuanya sekarang."
Rani diam, membiarkan ruang untuk kalimat yang ia tahu akan datang.
"Waktu itu," Wulan melanjutkan, matanya tak lepas dari bayinya yang sedang bermain dengan jari kakinya sendiri, tak tahu apa-apa, "suara itu nyuruh saya. Bilang anak ini bukan anak saya, bilang dia bahaya, bilang saya harus... " Ia berhenti, menelan ludah. "Saya inget tangan saya pernah deket banget sama lehernya, Mbak. Saya inget rasanya. Dan yang bikin saya nggak bisa tidur tiap malam sekarang bukan suaranya. Suaranya udah hilang. Yang bikin saya nggak bisa tidur, saya inget bahwa itu tangan saya. Tangan saya sendiri."
Air mata mengalir tanpa isak, hanya menetes pelan menyusuri pipinya. "Dulu pas saya sakit, saya nggak ngerasa bersalah. Saya nggak ngerasa apa-apa, cuma takut. Sekarang saya sehat, kata orang. Tapi sehat itu artinya saya harus inget tiap hari bahwa ibu macam apa yang hampir nyakitin bayinya sendiri."
Rani menarik napas. Ia tahu kasus seperti ini—pemulihan jiwa setelah krisis bukan cuma soal obat menumpulkan gejala. Ada bagian yang jauh lebih panjang dan jarang dilihat orang: ketika kesadaran kembali utuh, pasien harus berdamai dengan kenangan tindakan yang ia lakukan ketika kesadaran itu tak ada. Banyak ibu dengan psikosis pascapersalinan yang sembuh dari penyakitnya tapi tenggelam dalam rasa bersalah yang nyaris sama menghancurkannya—rasa bersalah yang bisa menyeret kembali ke depresi, bahkan ke pikiran menyakiti diri.
"Wulan," kata Rani, hati-hati memilih kata, "dengar saya. Yang hampir melakukan itu bukan kamu. Itu penyakitmu. Suara itu bukan kamu—itu bagian dari sakit yang sama yang dulu bikin kamu dikurung. Kamu nggak lebih bersalah atas suara itu daripada orang demam bersalah atas igauannya."
"Tapi tangannya tangan saya."
"Tangan yang sekarang nyiapin susunya, mandiin dia, jaga dia tidur," jawab Rani. "Tangan yang sama. Yang dulu hampir, dan yang sekarang merawat. Bedanya bukan tangannya, Wulan. Bedanya kamu sekarang ada di tubuhmu sendiri. Dulu kamu nggak."
Wulan menangis lebih dalam sekarang, dan Rani membiarkannya, karena ia tahu air mata ini—berbeda dari air mata ketakutan dulu—adalah air mata yang menyembuhkan, air mata seseorang yang akhirnya cukup waras untuk merasa. Ia tidak menyodorkan penghiburan murahan. Ia hanya tetap di sana, tangannya di punggung Wulan, sampai isaknya mereda.
Lalu Wulan mengangkat wajahnya dan bertanya pertanyaan yang membuat seluruh kalimat penghiburan Rani terasa rapuh.
"Mbak," katanya, suaranya patah, menatap bayinya yang kini tertidur, tak berdosa, tak tahu apa-apa, "apa anak saya akan tahu, suatu hari nanti? Apa dia akan tahu ibunya pernah... hampir..." Ia tak sanggup menyelesaikan. "Kalau dia tahu, apa dia masih mau sama saya?"
Rani membuka mulut, dan menutupnya kembali. Karena untuk pertama kali sejak ia mendampingi Wulan, ia tidak punya jawaban yang ia yakini benar. Tidak ada obat untuk ini, tidak ada protokol, tidak ada kalimat klinis. Ada anak yang suatu hari akan tumbuh dan mungkin bertanya, dan ada ibu yang akan menghabiskan sisa hidupnya menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang ia takutkan.
Rani memegang tangan Wulan, tangan yang dulu hampir dan kini merawat. "Saya nggak tahu, Wulan," katanya jujur, karena ia tahu kebohongan akan terdengar palsu di telinga perempuan yang baru saja membuka lukanya yang paling dalam. "Saya nggak tahu apa dia akan tahu, atau gimana dia akan ngertinya. Tapi saya tahu satu hal. Anak itu nggak butuh ibu yang sempurna. Dia butuh ibu yang ada. Dan kamu, sekarang, ada. Tiap hari kamu ada buat dia, itu yang nyusun jawaban buat pertanyaan itu—bukan kata-kata yang kamu siapin, tapi tahun-tahun kamu jadi ibunya."
Wulan menatap bayinya yang tidur, dan perlahan—untuk pertama kali siang itu—ia bangkit, menyeberangi ruangan, dan mengangkat anak itu ke dalam pelukannya. Tubuhnya gemetar, tapi tangannya, tangan yang sama itu, memeluk erat. Dan Rani pergi sore itu dengan kesadaran bahwa membebaskan seseorang dari pasung dan dari penyakit hanyalah awal—bahwa ada penjara ketiga, terbuat dari ingatan dan rasa bersalah, yang harus dilewati seorang penyintas sendirian, dan yang paling bisa ia lakukan hanyalah berjalan di sampingnya.