Kabar bahwa kasus Darto akan masuk ke pengadilan menyebar di Tanjung Wuni lebih cepat daripada banjir di musim hujan, dan membelah kampung seperti air membelah tanah kering—membuka retakan-retakan yang selama ini ditutupi.
Rani merasakannya pertama kali di pasar. Ia mampir membeli sayur sebelum kunjungan pagi, dan di antara lapak-lapak, percakapan berhenti saat ia lewat. Bukan hening yang ramah. Hening yang penuh. Seorang ibu, yang biasanya ramah menawari dagangan, kini menunduk ke timbangannya. Seorang bapak penjual ikan menatapnya dengan sesuatu yang dingin di matanya, lalu meludah ke tanah—tidak tepat ke arahnya, tapi cukup dekat untuk dimaksudkan.
Lalu ada yang sebaliknya. Bu Tarni, perempuan delapan puluh tahun yang akhirnya bicara, mengirim cucunya membawakan sebungkus pisang goreng ke Puskesmas, dengan pesan lisan: "Mbah titip, suruh Mbak Rani makan, jangan sakit. Mbah doain tiap habis sholat." Dan seorang ibu muda yang tak Rani kenal menyelipkan amplop kecil—uang receh, beberapa lembar—ke tangan Bu Inah, sambil berbisik, "Buat bantu ngurus Pak Darto. Sedikit. Saya juga punya kakak begitu, dulu. Udah meninggal."
Kampung terbelah, dan Rani menyaksikannya seperti seorang yang berdiri di tengah gempa: tanah yang dulu padu kini bergeser, sebagian ke arah cahaya, sebagian menutup diri lebih rapat.
Yang menutup diri, ia mengerti, bukan karena mereka membela Kowi. Mereka tidak. Mereka membela diri sendiri. Karena membongkar Darto berarti membongkar mereka juga—membongkar setiap malam selama empat puluh tahun ketika mereka mendengar tolong dan memilih tidur. Bu Inah merangkum ini dengan tepat suatu siang, sambil menyeduh teh di dapur Puskesmas.
"Yang paling galak nyalahin Mbak," kata Bu Inah pelan, "itu yang paling banyak denger dulu, Mbak. Yang rumahnya paling deket. Mereka marah ke Mbak, padahal sebenarnya mereka marah ke diri sendiri. Cuma lebih gampang marah ke orang lain."
Rani memikirkan itu lama. Bu Inah benar. Kemarahan yang ia terima di pasar bukan kemarahan murni—itu rasa bersalah yang tak punya tempat lain untuk pergi, jadi mengalir ke arahnya, ke perempuan yang memaksa mereka menatap apa yang sudah lama mereka palingkan.
Tekanan personal pun datang. Heru tidak muncul lagi—mungkin tahu ancaman langsung kini berbahaya bagi posisinya sendiri di mata hukum—tapi ada panggilan telepon dari nomor tak dikenal yang langsung mati saat diangkat, tiga malam berturut-turut. Ada pula seseorang yang, suatu pagi, telah mengempeskan ban motor dinas yang diparkir di pelataran Puskesmas, dengan paku yang sengaja ditancapkan. Rani memandangi paku itu lama. Paku. Benda yang sama yang dulu menahan rantai Sutejo ke dinding gudang. Kebetulan yang dingin.
Ia tidak melapor. Ia hanya menambal ban dan terus bekerja. Sebagian karena ia tahu melaporkan paku akan menghabiskan tenaga yang ia butuhkan untuk hal lebih besar; sebagian karena ia tak ingin memberi mereka kepuasan melihatnya takut.
Tapi di tengah keterbelahan itu, sesuatu yang tak Rani duga mulai tumbuh.
Seorang ibu datang ke Puskesmas, sendirian, di sore yang sepi. Ia menunggu sampai ruang tunggu kosong sebelum mendekati meja, dan suaranya nyaris tak terdengar. "Mbak yang ngurus Pak Darto, ya?"
Rani mengangguk, menyiapkan diri untuk kemarahan lain.
Tapi yang datang bukan kemarahan. Mata ibu itu berkaca-kaca. "Saya... saya punya keponakan. Anak adik saya. Dia diiket di rumah, di belakang. Udah tujuh tahun. Adik saya bilang dia kerasukan, dukun nggak mempan, takut dia ngamuk. Saya selama ini diem. Takut. Tapi waktu saya denger Pak Darto dibebasin—" suaranya pecah, "—saya mikir, kalau orang yang udah empat puluh tahun aja masih bisa ditolong, mungkin keponakan saya juga. Mungkin belum telat. Tolong, Mbak. Tolong dia juga."
Rani berdiri, jantungnya berdebar—bukan karena takut kali ini, tapi karena sesuatu yang ia kira mustahil terjadi. Selama ini ia harus mengetuk pintu, harus mencari, harus membongkar paksa apa yang disembunyikan. Dan sekarang, untuk pertama kali, pintu itu mengetuk dirinya sendiri.
Ia mengambil buku catatan, menarik kursi untuk ibu itu, dan duduk. "Ceritakan ke saya, Bu. Pelan-pelan. Namanya siapa?"
Di hari-hari setelahnya, ada dua keluarga lagi yang datang—malu-malu, takut, tapi datang. Mereka melihat apa yang terjadi pada Darto: bukan aib yang makin dalam terkubur, tapi seseorang yang akhirnya dirawat, akhirnya punya nama lagi. Dan keberanian, Rani belajar, ternyata menular sama persis seperti rasa malu. Satu orang berani, dan retakan ketakutan yang membeku puluhan tahun mulai mencair.
Malam itu, berkendara pulang lewat jalan besar yang terang, Rani memikirkan kampung yang terbelah—setengahnya marah, setengahnya bangkit. Ia tidak menyesal telah membelahnya. Sebab tanah yang retak, ia tahu, adalah tanah yang akhirnya bisa ditanami. Dan untuk pertama kali sejak Heru berdiri di pelataran dengan ancamannya, Rani melihat ke depan dan melihat bukan hanya pertarungan, tapi panen yang mulai tumbuh dari benih yang ia tabur dengan menolak diam.