Kabar buruk itu datang lewat telepon, persis seperti yang Rani takutkan, dan dari orang yang paling tak ingin menyampaikannya.
"Mbak Rani," suara Bu Retno terdengar tegang di seberang. Ini bukan bisikan diam-diam seperti biasa; ini suara orang yang sudah lelah berhati-hati. "Saya harus jujur. Verifikasi dana tahap dua... ditunda. Belum dibatalin, tapi ditunda. Dan ada—ada beberapa orang di Dinas, di kabupaten, yang mulai bilang program Tanjung Wuni 'bermasalah'. Mereka pakai kasus Kowi sebagai alasan. 'Kok bisa di kampung yang programnya dipuji, ada pasung empat puluh tahun?' Begitu mereka ngomong. Seolah Mbak yang bikin masalah, bukan yang nemuin."
Rani menutup mata, berdiri di koridor Puskesmas dengan ponsel menempel di telinga. Ia sudah menduga ini. Sudah menyiapkan diri. Tapi mengetahui ancaman itu nyata, mendengarnya diucapkan dengan suara manusia, tetap terasa seperti tanah amblas di bawah kakinya.
"Siapa yang ngomong begitu, Bu?" tanyanya.
"Saya nggak bisa sebut nama. Tapi intinya, ada yang lebih milih program ini didiamkan. Dimatiin pelan-pelan, biar nggak jadi sorotan. Mereka bilang—" Bu Retno berhenti, lalu menyelesaikannya dengan getir, "—mereka bilang 'kampung yang punya kasus seburuk itu nggak pantes dijadiin contoh keberhasilan'. Padahal logikanya kebalik, Mbak. Justru kampung yang berani buka kasus seburuk itu yang harusnya dijadiin contoh. Tapi—" ia mendesah. "Birokrasi nggak suka yang berantakan, Mbak. Mereka suka yang rapi. Dan kebenaran itu nggak pernah rapi."
Setelah menutup telepon, Rani berdiri lama di koridor. Di luar, anak-anak tetangga Puskesmas bermain, suara mereka riang menembus dinding. Ia memikirkan dua keluarga yang baru saja datang melapor, keponakan tujuh tahun terikat, anak yang dikurung. Ia memikirkan Sutejo yang injeksi depotnya dibayar dari dana itu. Wulan. Mbah Ginem. Semuanya. Jika dana mati, semuanya goyah—bukan karena ia berbuat salah, tapi karena ia berbuat benar.
Ini harga dari berani, pikirnya pahit. Dan harganya tidak ia bayar sendiri. Harganya dibebankan pada orang-orang paling rapuh.
Pak Hardi, ketika ia mendengar kabar penundaan, datang ke Puskesmas dengan wajah yang Rani belum pernah lihat—bukan berminyak penuh siasat seperti biasa, tapi pucat, panik. "Tuh kan, Mbak. Tuh kan! Saya udah bilang. Saya udah peringatin. Sekarang gimana? Dana ketunda. Kalau batal, saya yang malu di depan camat. Mbak yang harus tanggung jawab."
Rani memandangnya, dan untuk sesaat ia merasa lelah dengan lelaki ini, dengan ketakutannya yang selalu berputar pada citra dan nama baik. Tapi kemudian sesuatu bergeser dalam dirinya—sebuah kejernihan yang datang justru di titik paling gelap.
"Pak Hardi," katanya pelan. "Bapak takut dana batal karena kasus Kowi keangkat. Saya juga takut. Tapi kita salah ngeliatnya."
Pak Hardi mengernyit.
"Selama ini kita mikir kasus Kowi itu ancaman buat program. Padahal—" Rani berdiri, dan ide itu mengkristal saat ia mengucapkannya, "—justru kasus Kowi itu bukti paling kuat kenapa program ini harus ada. Coba pikir, Pak. Empat puluh tahun ada orang dipasung di kampung ini, dan nggak ada yang tahu, nggak ada yang berani buka. Sampai program keswa datang. Sampai ada tim yang ngetuk pintu yang nggak pernah dibuka. Itu bukan kegagalan program, Pak. Itu kemenangan program. Kalau nggak ada kami, Darto bakal mati di ruang gelap itu, dikubur diam-diam, dan nggak ada yang pernah tahu."
Pak Hardi diam, dahinya berkerut, mencerna.
"Kalau kita diem, sembunyiin kasus Kowi, kita ngebenerin omongan mereka—bahwa kampung ini malu-maluin. Tapi kalau kita buka lebar-lebar, kalau kita bilang 'iya, ada kasus seburuk ini, dan justru program kami yang nemuin dan ngebebasin'—itu balik jadi alasan kenapa dana harus dilanjutin, bukan dipotong." Rani menatap Pak Hardi lurus. "Kita lawan bukan dengan ngumpet, Pak. Kita lawan dengan transparansi. Buka semuanya. Data pasung, foto pembebasan Sutejo dan Wulan, dan kasus Darto sebagai puncaknya. Bukan aib. Bukti."
Malam itu, Rani tidak tidur. Ia duduk di meja kerjanya sampai larut, menyusun ulang laporan program—bukan laporan yang menyembunyikan kasus Kowi di catatan kaki, tapi laporan yang menempatkannya di tengah, sebagai jantung argumen. Ia mengumpulkan angka: berapa orang dibebaskan, berapa yang pulih, berapa yang kembali bekerja, kembali sekolah. Lalu di samping angka-angka itu, ia menulis nama Darto, empat puluh tahun, dan kalimat yang akan ia ucapkan di hadapan siapa pun yang mau mendengar: Program ini bukan gagal karena ada Darto. Program ini berhasil karena akhirnya, setelah empat puluh tahun, ada yang menemukan Darto.
Ia menatap hasil kerjanya saat fajar mulai mengintip lewat jendela. Tubuhnya lelah, matanya perih, dan dana masih tergantung di ujung tanduk. Tapi ia tidak lagi merasa terancam. Ia merasa bersenjata. Dan ia tahu, dengan kepastian yang dingin dan tenang, bahwa cara satu-satunya melindungi semua nyawa yang bergantung pada program ini bukanlah dengan bersembunyi—melainkan dengan berdiri di tengah forum, menyalakan semua lampu, dan membiarkan kebenaran yang berantakan itu menjadi terlalu terang untuk diabaikan.