Forum kecamatan digelar di aula kantor camat, ruangan dengan kipas angin yang berderit dan kursi-kursi plastik yang disusun rapi, dan pada pagi itu kursi-kursi itu penuh sampai ke belakang. Rani melihat camat di meja depan, Bu Retno dan dua pejabat Dinas, Pak Hardi yang gelisah, beberapa kepala dusun lain, perangkat desa, dan—yang membuat perutnya mengencang—warga. Banyak warga. Termasuk wajah-wajah yang meludah ke tanah saat ia lewat di pasar.
Ia diberi waktu untuk menjelaskan program, dan ia tahu ini bukan sekadar presentasi. Ini pengadilan kecil atas keputusannya tidak diam.
Rani berdiri di depan, dan untuk sesaat suaranya tercekat. Lalu ia melihat ke sisi kiri ruangan. Di sana, berdiri bersama-sama, ada dr. Pram—yang akhirnya, setelah semua keraguannya, memilih datang—dan Ustaz Karim dengan peci putihnya, dan Bu Inah, dan Yoga. Dan di barisan kursi, Bu Surti, ibu Sutejo, dengan kerudung terbaiknya. Rani menarik napas, dan mulai.
"Bapak, Ibu. Saya nggak mau ngomong soal angka dulu. Saya mau cerita soal satu rumah." Ia tidak memakai pengeras suara dengan canggung; ia bicara seperti ia bicara di ruang tamu, pelan, jelas. "Di ujung barat kecamatan kita, ada rumah yang empat puluh tahun nyimpen seorang lelaki bernama Darto. Dipasung. Dirantai sampai rantainya nyatu ke dagingnya. Dipukulin. Dicoret dari kartu keluarga, seolah dia nggak pernah lahir."
Ruangan hening. Bahkan kipas yang berderit terdengar keras.
"Dan yang paling berat buat saya ngomong di depan Bapak Ibu hari ini bukan soal keluarganya. Tapi soal kita." Rani membiarkan kata itu menggantung. "Karena Darto nggak dipasung diam-diam di tempat yang nggak ada orang. Dia dipasung di tengah kampung. Tetangganya denger dia minta tolong, malam-malam, bertahun-tahun. Dan kita semua—saya juga, kalau saya lahir lebih dulu, mungkin saya juga—milih nggak denger. Pasung Darto bukan cuma rantai di kakinya. Pasung Darto itu telinga kita yang kita tutup."
Ia melihat beberapa kepala menunduk. Seorang ibu di barisan tengah menyeka mata.
"Ada yang bilang kasus ini malu-maluin kecamatan kita. Bahwa karena ada Darto, program kami nggak pantes jadi contoh." Rani menatap ke meja pejabat Dinas, sopan tapi tak gentar. "Saya mau bilang sebaliknya. Darto dipasung sebelum saya lahir. Empat puluh tahun nggak ada yang nemuin. Yang nemuin dia, yang ngebebasin dia, yang ngasih dia nama lagi—itu program ini. Kalau program ini nggak ada, Darto bakal mati di gelap, dan kita nggak akan pernah tahu. Jadi kalau ada yang nanya 'kok bisa ada pasung empat puluh tahun di kampung yang programnya dipuji'—jawabannya: justru karena program itu, akhirnya ketahuan. Itu bukan aib program. Itu kerja program."
Ustaz Karim berdiri tanpa diminta. Suaranya tenang, berwibawa. "Saya mau nambahin. Dalam agama kita, membiarkan orang menderita padahal kita mampu menolong, itu dosa. Selama puluhan tahun kampung ini menanggung dosa itu bersama-sama. Mbak Rani dan timnya datang bukan buat mempermalukan kita. Mereka datang buat ngangkat beban dosa itu dari pundak kita. Yang malu harusnya bukan kampung yang akhirnya membuka. Yang malu adalah kampung yang terus menutup."
Lalu dr. Pram, yang biasanya skeptis, yang sebulan lalu menyarankan Rani berhenti, melangkah maju. "Saya dokter di Puskesmas ini. Saya akan kasih data, supaya jelas ini bukan soal perasaan." Ia membaca angka-angka—jumlah orang yang dibebaskan dari pasung, yang kini patuh obat, yang kembali produktif. Setiap angka adalah nama. Setiap nama, dulunya, adalah pintu yang terkunci.
Lalu sesuatu terjadi yang tidak ada dalam rencana siapa pun.
Bu Surti berdiri. Perempuan tua itu, ibu Sutejo, yang dulu ikut memaku rantai anaknya sendiri, berdiri dengan tangan gemetar memegang sandaran kursi di depannya. "Saya... saya bukan orang pinter ngomong," suaranya parau. "Tapi saya mau cerita. Anak saya, Sutejo, dulu saya pasung. Saya sama suami saya. Belasan tahun. Karena saya takut. Karena saya malu. Karena nggak ada yang ngajarin saya cara lain." Ia menelan ludah, air matanya jatuh. "Sekarang anak saya kerja di bengkel. Dia bisa megang kunci. Dia manggil saya 'Mbok' lagi. Saya pikir saya udah kehilangan dia selamanya. Mbak Rani yang balikin. Jadi kalau ada yang mau matiin program ini—" suaranya menguat, "—berarti mau matiin harapan ibu-ibu kayak saya. Tolong jangan."
Ruangan sunyi senyap. Lalu, dari barisan belakang, seorang lelaki berdiri. Rani mengenalinya—Pak Yatim, salah satu yang paling keras menentang program dulu, yang pernah berkata di warung bahwa 'orang gila biar diurus keluarganya sendiri'.
Lelaki itu berdiri lama, rahangnya bergerak seperti menahan sesuatu. Lalu ia bicara, suaranya berat. "Saya... saya selama ini nentang Mbak. Saya minta maaf." Ia menarik napas dalam. "Saya punya adik. Di rumah. Diiket di kamar belakang udah hampir sepuluh tahun. Saya bilang ke semua orang dia merantau. Saya bohong." Air mata lelaki keras itu jatuh, dan ia tak menyekanya. "Saya capek bohong. Saya mau adik saya diobatin. Saya mau dia ikut, kayak Sutejo. Tolong, Mbak. Datang ke rumah saya."
Dan saat itulah Rani tahu pertarungan ini telah berbalik. Yang ia datangi sebagai pembelaan program, telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar: pengakuan kolektif. Satu per satu, di ruangan itu, rasa malu yang membeku empat puluh tahun mulai retak dan mengalir, dan dari retakan itu yang keluar bukan aib, melainkan permohonan untuk ditolong. Ia berdiri di depan aula yang penuh, dengan air mata sendiri yang mulai mengaburkan pandangannya, dan menyadari bahwa ia tidak lagi membela program. Kampung yang membela program. Kampung yang, akhirnya, membela dirinya sendiri.