New Season
Safya tidak ingin Rama menyesali keputusannya. Mungkin saja ia pernah merasa tertekan hingga memaksakan cinta ini sampai ke jenjang pernikahan. Bila hati Rama seolah telah mengkhianati cinta yang masih dimiliki untuk wanita lain? Apalagi Safya juga pernah memberitahu Rama bahwa wanita itu kini telah menjadi seorang janda dengan satu anak laki-laki yang masih balita. Namun sejatinya jalinan hubungan di antara mereka, bukan semata-mata karena keinginan mendiang ayah dari Safya. Melainkan niat baik dari Rama bersambut dengan cinta yang Safya pendam setelah lama saling mengenal.
Sebagai pria, Rama mengira cinta untuk Safya bisa tumbuh seiring waktu yang mereka jalani bersama. Ia juga pernah memiliki rasa suka dan ketertarikan sebelum Safya menjadi calon istrinya. Hingga tiba masa paman Supar menyampaikan pesan terakhir dari pak Ali. Rama pada akhirnya berjanji akan membahagiakan Safya dalam ikatan rumah tangga ini.
Tentu Rama sudah yakin dengan lafal Kabul yang diucapkannya saat akad nikah. Tapi sejak malam pertama, suami tersebut tidak pernah mau menyentuh istrinya walau untuk niat menunaikan ibadah. Rama justru mulai menunjukkan tabiat yang berbeda dari sebelumnya. Sebagai istri, Safya tentu merasa galau. Apakah ada yang salah dengan dirinya? Apa ia tak layak untuk mendampingi sang Suami, sedang urusan tersebut telah dihalalkan bagi mereka? Namun si Istri hanya menurut kepada kemauan suaminya. Safya pun hanya bisa menarik selimut yang tebal itu, kemudian tertidur dengan menghadap punggung Rama di setiap malamnya.
Di satu pagi, Rama dan Safya tengah menikmati sarapan bersama di ruang makan. Sedangkan ibu Rama duduk belakangan selepas menyirami tanaman-tanaman hias yang kini sedang berbunga. Tapi, Safya tampak sangat murung dan tak berselera dengan makanannya. Ibu mertua tersebut melihat dengan heran atas sikap menantu perempuannya akhir-akhir ini. Sementara itu, anak laki-lakinya justru sangat lahap menikmati cita rasa masakan yang dibuat oleh sang Istri. Si ibu menahan hasratnya untuk berbicara. Ia kemudian mengambil piring dan ikut makan bersama kedua anaknya tanpa ada satu patah kata.
Selesai makan, Rama langsung minta pamit untuk berangkat kerja ke kantor. Safya sendiri belum sempat berdiri untuk menyalami tangan Rama, suaminya itu sudah mencium tangan sang Ibu lalu berjalan keluar begitu saja. Hati Safya serasa kecewa.
Setelah sang Anak pergi dengan sepeda motornya, ibu Rama lalu bertanya kepada Safya. “Apa kalian baru bertengkar?”
Menantu perempuan tersebut langsung mengerti dengan sebab pertanyaannya. “Tidak, Bu! Mungkin mas Rama sedang terburu-buru.” jawab Safya dengan nada bicara yang lemah.
Selalu saja jika Rama pergi tanpa berpamitan dengan istrinya, begitulah jawaban dari Safya setiap kali ibu mertua bertanya. Jawabannya tetap sama entah suaminya pergi di waktu pagi atau sore hari sekalipun. Ibu Rama juga sudah beberapa kali kesempatan merasa ada yang salah dengan rumah tangga anak laki-lakinya tersebut.
“Safya, tidakkah kamu mau bercerita dengan Ibu perihal hubungan kamu dengan Rama? Semenjak pesta pernikahan, kalian malah menjadi seperti orang asing. Sangat jarang Ibu melihat kalian berdua bersenda gurau seperti dulu lagi!” tanya Ibu dengan cara yang halus.
“Tidak, Bu! Safya tidak apa-apa. Itu hanya perasaan Ibu saja!” Safya menyangkalnya.
“Orang dari tadi kalian duduk semeja saja tidak saling bicara kok! Padahal Ibu kira pasti ada banyak hal yang bisa kalian bicarakan setelah hidup bersama di bawah satu atap. Sudahlah, Nak! Ayo cerita saja sama Ibu, apa yang sedang membuat hatimu gundah!” pinta Ibu mertua.
Safya mulai menahan linangan air matanya. “Bu, mas Rama sepertinya terpaksa mau menikahi saya. Dia tidak pernah mencintai saya, Bu!”
Si Ibu rasanya tak percaya mendengar ucapan dari menantu barunya itu. “Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu? Kalau Rama tidak cinta sama kamu, mana mungkin dia mau datang dan menemui kakakmu untuk melamar? Jangan berpikir yang macam-macam!” ucap beliau.
“Bukannya Safya berpikir yang tidak-tidak, Bu! Tapi istri mana yang mau didiamkan saja oleh suami. Mas Rama belum pernah memberikan nafkah batin bagi saya selaku istrinya. Sepertinya ia tidak ingin memiliki keturunan dari rahim saya, Bu” ujar si Safya.
Ibu Rama berusaha meredam gejolak emosi dalam diri menantunya tersebut. “Hush! Bicaralah yang baik-baik! Mungkin saja Rama sudah lelah dengan pekerjaannya dan ingin beristirahat. Coba setelah pulang nanti, kamu bicara dengannya mungkin Rama bisa memberikan alasan yang benar.” saran dari Ibu.
Safya hanya terdiam. Ia pun diminta untuk segera membereskan meja makan sementara Ibu menyiapkan bahan-bahan untuk dibawa ke warung soto di depan rumah. Safya ingin juga meringankan sang Mertua dalam menjalankan usaha warung makan itu, tapi di sana sudah ada mbak Dewi yang senantiasa membantu. Safya pun membersihkan diri lalu berhias sebelum pergi. Ia kini bekerja pada salah satu usaha kerajinan perhiasan yang ada di provinsi Jogja. Safya telah diizinkan oleh Rama dengan alasan untuk menghilangkan kejenuhannya karena seharian di rumah atau hanya bergaul dengan ibu-ibu di sekitar tempat tinggal. Safya boleh mencari kesibukan sendiri selama Rama tidak melarangnya sebagai suami dan tidak meninggalkan tugasnya sebagai istri.
Rama sendiri, masih bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan kontaktor yang menaunginya. Ia adalah pribadi yang tekun untuk memberikan nafkah lahir bagi istri dan ibunya. Mereka bertiga tinggal di dalam satu rumah warisan ayah Rama. Namun sejak hari pernikahannya, Rama justru menjadi lebih pendiam. Ada satu hal yang disembunyikan dan telah mengusik kehidupan rumah tangganya yang masih seumur jagung. Istrinya, Safya pun terus melontarkan protes untuknya semenjak berani mengadu pada ibu mertuanya.
Rama hampir tidak sanggup menyela, ia mencoba bersabar dengan segala keluhan dari Safya. Rama begitu kesulitan untuk memantapkan hatinya. Rama pikir ia hanya bisa memiliki niat baik untuk menjaga putri dari almarhum pak Ali tersebut. Sehingga ia tidak merasa keberatan untuk mempersuntingnya kala itu.
Hal yang paling mengusik perasaannya adalah adanya satu surat dari seorang kawan lama yang ia terima tepat sehari sebelum Rama dan Safya melangsungkan akad pernikahan. Rama tidak memberitahu calon istrinya tentang hal ini sampai berdampak pada rumah tangganya yang berjalan tanpa hasrat untuk b******a. Ia pun lebih memilih, menghabiskan waktu dan perhatian untuk pekerjaan. Rama sadar akan perbuatannya yang keliru tapi hati siapa pun tidak bisa berbohong.
Satu lembar gulungan kertas yang telah lama berada dalam botol kaca itu, kini berbalas panjang. Melalui suratnya, Shinta mengabarkan tentang kondisi dirinya dan mengucapkan selamat untuk gelaran pernikahan Rama dengan Safya yang diadakan pada keesokan hari setelah surat itu diterima. Tertulis doa yang menyiratkan ketulusan dari dalam lubuk hatinya. Namun hal tersebut justru menggali kembali perasaan seorang pria yang telah mengubur dalam-dalam harapan dan cinta pertama sebagai kenangan yang sudah selesai dan ditinggalkan. Rama ikhlas dengan semua takdir cinta yang dilalui. Kini ia telah memilih Safya sebagai pelabuhan hati yang terakhir.
Saat Rama pulang kerja, si Istri sudah berdiri menyambut dirinya dengan senyum yang merekah. Si suami pun mengucapkan salam dengan senyum setengah menerima sambutan yang tidak biasa. Safya mengambil tas kerja dari bahu dan melepaskan jas yang dikenakan oleh Rama. Keduanya kemudian masuk ke dalam rumah.
“Mau makan dulu, Mas? Makanan sudah siap.” kata Safya.
“Tidak! Aku mau mandi dulu.” jawab Rama dengan singkat.
Safya kemudian menyiapkan baju gantinya. Selanjutnya ia menunggu Rama sambil duduk-duduk santai di ruang makan.
“Ibu mana?” tanya Rama saat keluar dari dalam kamar lalu mengambil tempat duduknya di meja makan.
“Ibu ada di kamarnya, sedang istirahat. Tadi sudah makan malam duluan.” jelas Safya.
“Oh!” ucap Rama lalu mengambil porsi nasinya sendiri.
Segera Safya memilihkan lauk kesukaan suaminya tersebut ditambah sayur bayam yang menyehatkan. Setelah menyelesaikan makan malam berdua, Safya yang memulai topik pembicaraan.
“Mas, kamu ingat sekarang hari apa?” tanya si Istri dengan nada merayunya.
“Sekarang baru hari Senin malam Selasa.” jawab si Suami sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
“Bukan itu maksudnya! Hari ini kan kita sama-sama menerima gaji, jadi bagaimana kalau kita pergi liburan di akhir pekan depan? Tidak usah jauh-jauh! Kita ke pantai saja sekalian nostalgia. Sudah lama kita tidak jalan-jalan bersama bukan?” saran dari Safya.
Rama berpikir mendalam. “Kita tidak boleh boros! Lebih baik uangnya ditabung untuk simpanan masa depan!”
Istri Rama keheranan. “Masa depan apa? Calon anak pun kita belum juga merencanakannya. Coba, saya ingin dengar rencana kamu sebenarnya itu mau apa, Mas!” pinta Safya.
Rama pura-pura meminta kejelasan. “Rencana apa yang kamu maksudkan?”
Sang istri mencoba untuk menahan emosinya. “Apa tujuanmu ingin membina rumah tangga dengan anak perempuan dari seorang Ali ini?” tegas Safya.
Suaminya tertegun. “Kenapa tiba-tiba harus membawa nama ayahmu? Apa kamu mulai tidak menghormatiku sebagai suamimu?” Nada bicara Rama menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.
“Astaghfirullah! Aku tidak bemaksud sejauh itu, Mas. Aku hanya ingin tahu, mas Rama sebenarnya mengharapkan keturunan yang baik tidak dari pernikahan kita? Aku hanya minta jawaban serius tentang hal ini. Bagaimanapun juga ibu, mbak Dewi dan tetangga sudah sering menanyakannya. Sudah isi belum? Kapan punya anak? Sudah periksa ke dokter kandungan belum? Aku harus jawab apa, Mas? Sementara suamiku sendiri tidak berminat tentang hal itu!” terang Safya panjang lebar dengan segala emosi yang menguasainya.
Rama meneguk air minumnya untuk yang terakhir kali di malam obrolan itu.
“Mereka mungkin juga pernah merasakan hal yang demikian. Di dunia ini, orang lebih ingin banyak tahu tentang kehidupan orang lain dibanding mengurusi kehidupannya sendiri. Kamu tidak perlu merisaukan pertanyaan dari mereka semua.” Rama menanggapi masalah Safya dengan begitu enteng.
Wajah Safya jelas menampakkan rasa tidak puas dan kecewa dengan jawaban dari suaminya tersebut.
“Apa kamu sakit?” tanya sang Istri tiba-tiba.
“Maka dari itu kamu tidak mau menggauli istrimu yang lebih halal bagimu sebab kamu ingin menyembunyikan semuanya dariku? Kamu, kamu tidak menderita penyakit yang menular bukan?” tukas Safya.
Rama memukul meja makan itu hingga berbenturan antara piring kosong dengan sendoknya. Suara yang diciptakannya turut membuat Safya menjadi terkaget-kaget.
“Kamu sudah berlaku tidak sopan terhadap suami. Lebih baik kamu meminta maaf dan bertobat secepatnya kepada Allah! Aku sudah lelah! Aku mau tidur.” Nasihat tegas dari seorang Rama.
Saat ingin memasuki pintu kamar yang bersebelahan dengan ruang makan itu, “Oh ya! Lusa aku mau ke luar kota. Tolong kamu kemasi pakaian-pakaianku! Terima kasih sebelumnya!” sambungnya.
Pintu masih terbuka namun batang hidungnya sudah tak kelihatan. Sesaat ditinggal sendiri, Safya bergumam. “Bagaimana aku meminta maaf sementara dia juga tak mau menghiraukan perasaanku selama ini”
Malam itu menjadi malam yang lebih canggung dari sebelumnya. Saat Safya menyusul ke dalam kamar, Rama sudah memejamkan kedua matanya dengan selimut besar yang menutup rapat seluruh tubuhnya meski belum dua jam makanan itu masuk ke dalam mulut mereka. Ia tidur cepat bukan karena badannya yang lelah tapi Rama ingin tidur karena untuk menghilangkan amarahnya. Safya pun mengambil kain selimutnya sendiri kemudian berbaring di samping raga suaminya tersebut.
Sudah lama karakter Rama yang dulu telah berubah. Setiap tindakannya tampak semakin bijak tapi untuk masalah yang berhubungan dengan Safya, tiba-tiba ia menjadi sangat kaku. Rama masih ingat saat calon istrinya bertanya, “Tidakkah aku ini akan menjadi cinta terakhirmu?” tapi tak ada jawaban darinya sampai pembawa acara mengucapkan kalimat pembuka.
Beginilah kehidupan Rama dan Safya setelah menjadi pasangan suami istri. Doa terbaik untuk rumah tangga yang mawadah, saling mencintai antara keduanya kini justru memunculkan tanda-tanda adanya keretakan. Tentu bukan rumah tangga seperti ini yang Safya harapkan begitu juga dengan Rama sebagai pemimpin keluarga.