Derasnya air musim hujan membasahi persawahan hijau yang luas, tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Basah pula kedua pipinya itu oleh air mata karena kekecewaan pada seseorang. Safya, menangis seorang diri di dalam kamar dengan selembar surat di tangannya. Sementara amplop surat itu tergeletak di atas ranjang tempat tidur mereka. Pada sampulnya tertulis nama Dewi Asma Shinta.
Tubuh itu langsung merasakan hawa panas dingin. Bibir menjadi gemetar, berasal dari hatinya yang tengah lara. Safya merasa bahwa Rama telah membohonginya selama ini. Benarkah jika Rama menutupi ini semua dari istrinya dan berencana untuk kembali menemui Shinta? Tetapi hanya ada satu surat, tersimpan di bawah tumpukan baju yang jarang Rama pakai itu.
Sudah dua malam, Rama berada di luar kota. Tidak ada kabar apapun darinya membuat Safya semakin merasa cemas. Ibu Rama selalu memberikan kalimat positif untuk menghiburnya. Mungkin saja suaminya tersebut sangat sibuk juga sudah kerepotan dengan tanggung jawabnya dalam pekerjaan. Toh, Rama tidak pergi sendirian. Dia bersama dengan teman-teman satu tim arsiteknya. Rama bukanlah orang yang senang bermain-main dengan wanita. Dia tidak akan berselingkuh seperti yang ditakutkan oleh Safya.
Pada pagi harinya, Safya akhirnya tidak masuk kerja. Ia jatuh sakit. Badan menggigil layaknya orang kedinginan, tapi temperatur tubuhnya tinggi. Safya menderita demam mungkin masuk angin setelah begadang semalaman. Dalam kondisi jendela kamar yang terbuka ia memandang hampa, angan-angan indah terhadap suaminya yang kini jauh di mata. Ibu mertuanya sangat baik dan memberikan perhatian kepada menantu perempuan tersebut. Perlakuannya sama seperti merawat anak kandungnya sehingga Safya pun lekas sembuh dari sakit fisiknya itu.
Tapi hatinya jauh lebih sulit untuk disembuhkan. Meski belum mengklarifikasikan masalah yang baru ketahuan ini kepada Rama, Safya menjadi menderita sendirian dalam kehidupan rumah tangganya yang berjalan semu.
Pada hari berikutnya yang sudah menjelang siang, ibu Rama baru menyadari bahwa sejak shubuh ia belum melihat Safya keluar dari dalam kamarnya. Padahal katanya hari itu Rama akan pulang dari luar kota. Mungkin lepas tengah hari anaknya tersebut sudah sampai di rumah mereka. Ibu yang tengah membuatkan soto pesanan dari pembeli memanggil menantu pertamanya, Dewi.
“Wi, Dewi!” panggil si Ibu.
“Iya, Bu!” jawab Dewi setelah selesai dari mengantarkan dua mangkuk soto dan dua gelas es teh manis di meja pemesan.
“Ada apa, Bu?” tanyanya saat masuk melalui gorden yang menjadi pintu pembatas antara ruangan makan dengan ruang dapur di usaha warung makan tersebut.
“Kamu tadi sudah ketemu sama si Safya belum? Ibu kayaknya dari pagi belum melihatnya.” ujar ibu Rama.
“Dewi belum lihat Safya juga, Bu. Memang ibu tadi tidak sarapan bareng? Apakah dia masih sakit?” tukas Dewi.
Lalu si Ibu pun menerangkan. “Tidak ah, kalau sakit! Kemarin malam saja dia sudah sangat sehat, makannya juga lahap. Tapi kalau pas sarapan tadi ibu hanya sendiri. Ibu kira Safya sudah makan duluan karena nasi liwet di bakul lebih sedikit dari beras yang dimasak kemarin.”
Dewi menduga, mungkin saja Safya sudah berangkat ke tempat kerjanya. Dan ibu pun turut membenarkan pendapat istri dari putra pertamanya tersebut. Tapi kenapa Safya tidak pamit terlebih dahulu kepada orang yang tinggal serumah dengannya? Mereka pun kembali dengan kesibukan di warung soto itu dan melupakan kekhawatirannya mengenai keberadaan Safya.
Sekitar pukul 14.00 Rama telah sampai di halaman rumahnya. Ia diantar dengan sebuah minibus yang dimiliki pihak kantor. Rama mengucapkan salam dan langsung masuk ke dalam rumah yang tidak terkunci.
“Bu, Rama pulang Bu!” sapa Rama.
Ibunya kemudian keluar dari dalam kamar. “Eh sudah sampai saja kamu, Ram! Bagaimana perjalanannya?”
“Alhamdulillah lancar dan selamat sampai tujuan!” jawab si Rama sambil duduk di kursi menghilangkan rasa penatnya.
“Oh, ya! Kemarin istrimu sempat meriang, mungkin bingung memikirkan kamu yang berada di luar. Tapi sekarang dia sudah sembuh dan hari ini juga sudah masuk kerja.” beritahu sang Ibu.
“Oh, begitu! Terus kenapa warung sotonya jam segini sudah tutup? Apa Ibu juga baru sakit?” heran si Rama.
Ibunya tertawa sumringah. “Tidak! Ibu sehat-sehat saja. Ibu sengaja hanya buka setengah hari karena sekarang, kan kamu baru pulang dari luar kota jadi ibu mau membuatkan makan siang untukmu. Kamu belum sempat makan di luar, to?” tutur si Ibu.
Rama menggeleng. “Ya sudah! Makan siang dulu sana! Ibu juga baru mau makan ini. Kita makan sama-sama!” ajak Ibunya tersebut.
Sementara di waktu makan siang itu, mbak Dewi masuk ke dalam rumah untuk menemui Rama dan juga Ibu.
“Baru makan siang rupanya! Eh, Rama! Apa benar Safya keluar dari tempat kerjanya?” tanya kak Dewi tiba-tiba.
“Dari mana kamu tahu, Wi? Rasanya baru saja kamu bilang kalau si Safya hari ini masuk ke tempat kerjanya. Tapi, kok?” tanya si Ibu.
Kak Dewi pun menerangkan apa yang ia ketahui. “Iya, soalnya baru saja Dewi ditanya sama bu Widya yang anaknya juga kerja di sana. Katanya kemarin ia dititipi surat pengunduran diri dari si Safya. Dia hari ini memang disuruh untuk datang ke sana, tapi kalau sudah siang-siang begini seharusnya kan Safya sudah menyelesaikan urusannya.”
Orang yang mendengarkan kabar sama-sama kebingungan. “Apa betul Rama? Safya pernah bilang punya niatan seperti itu?” tanya Ibu kepada suami dari Safya tersebut.
Rama segera menelan makanan yang ada di dalam mulutnya. “Tidak, Bu! Safya tidak pernah mengatakan hal demikian. Bekerja di sana sejak awal adalah keinginannya sendiri. Kalau untuk keluar sedini ini rasanya tidak mungkin.” jelas Rama.
“Lantas sekarang dia pergi ke mana lagi?” resah ibunya.
“Ibu tenang saja! Paling tidak nanti sore dia juga sudah kembali lagi ke sini.” saran bijak dari sang Anak.
Sampai sore bahkan hampir menjelang malam, Safya ternyata tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ke mana istri dari Rama tersebut? Ibunya pun semakin gelisah, takutnya ada sesuatu yang telah terjadi pada Safya. Ia kemudian mendesak anaknya itu untuk segera mencari di mana keberadaan sang Istri. Susah juga untuk segera mendapatkan informasi yang valid karena masa ini bukanlah zaman di mana sudah ada smartphone yang bisa melacak titik lokasi dari keberadaan seseorang.
Rama menuruti apa kata ibu. Namun, saat membuka lemari pakaian untuk mengambil jaket, betapa terkejut ia melihat semua pakaian milik istrinya itu sudah tidak ada di dalamnya. Satu tumpukan baju lamanya juga tampak sedikit berantakan. Tiba-tiba saja ia teringat kembali, di mana surat yang dikirim oleh Shinta itu Rama letakkan pada sela-sela bagian bawah baju lamanya itu.
Mata Rama terbelalak. Amplop surat itu sudah tidak ada lagi di sana. Ia pun menduga jika Safya telah menemukannya, mungkin saat merapikan kembali lipatan pakaian atau istrinya itu memang sengaja ingin mencari kebenaran yang berusaha disembunyikan oleh sang Suami. Detak jantung semakin keras ia rasakan. Cepat-cepat Rama memakai jaketnya dan mengambil dompet untuk bekal di perjalanan.
“Mau ke mana Ram, buru-buru sekali!” tanya sang Ibu yang tak sengaja berpapasan di ruang tamu.
“Saya mau menyusul Safya, Bu?” jawab Rama sambil memakai sepatunya.
Ibunya malah keheranan. “Malam-malam begini? Memangnya kamu mau menyusulnya ke mana?” tanya ibu ingin tahu.
“Sepertinya Safya mau pergi ke rumah kakaknya. Dia, kan tidak punya tempat lain lagi untuk kembali. Apalagi di sini Safya juga tidak punya siapa-siapa selain kita.” ujar si Rama.
“Loh, terus ini ada apa? Kalau Safya mau berkunjung ke sana karena baru kangen sama keluarganya, ya biarkan saja! Tapi kok dia pergi tidak pamit dulu ke Ibu ya, Ram?” kata ibunya yang selalu bertanya-tanya.
“Safya sepertinya marah. Sudah ya Bu, Rama berangkat dulu. Assalamu’alaikum!” pamit si Rama.
“Wa’alaikumsalam! Hati-hati di jalan! Eh, Ram! Kenapa to ini? Ibu belum mengerti masalahnya malah sudah pergi saja!” kesal si Ibu.
Meski Rama selama usia pernikahannya cukup sering mengabaikan keinginan istrinya, tapi kali ini ia tidak akan membiarkan keluarga dari Safya tahu perihal masalah yang terjadi dalam rumah tangganya. Rama menancapkan gas motornya dengan kencang. Jalanan malam di perkampungan itu sangat lengang hingga baru mulai ramai setelah memasuki daerah kota madya. Tujuan Rama hanya satu, yakni menuju ke terminal antar kota. Akan tetapi sangat besar kemungkinan jika Safya sudah tidak lagi berada di sana.
Rama pun dengan cepat memarkirkan sepeda motornya di area terminal. Kemudian ia lekas mencari ke sana ke mari hingga keluar-masuk bus yang belum berangkat. Meskipun demikian, Rama tidak juga menemukan Safya di antara penumpang bus-bus malam itu. Hingga kendaraan umum di sana telah pergi satu per satu, meninggalkan Rama sendiri dalam pencariannya. Begitulah ia hingga akhirnya menemukan Safya tengah duduk mengantuk di depan loket penjualan tiket. Ia tidak sadar bahwa Rama telah datang untuk membawanya pulang.
Setelah Rama ada di dekatnya, Safya perlahan mengarahkan pandangan mata sampai melihat rupa dari suaminya tersebut. Wajah Rama tampak lelah. Entah bagaimana angin malam yang dingin itu sampai membuat pria itu mengeluarkan peluh di dahinya. Beberapa detik berlalu tanpa suara dari keduanya. Hanya dengan tatapan tajam dan serius, seolah-olah segala pertanyaan yang ada di benak mereka telah mendapatkan jawabannya. Bagaimanapun juga mereka adalah pasangan. Pastilah ada keterikatan yang menghubungkan empati dan rasa saling mengerti di antara mereka berdua.
“Ayo pulang!” ajak Rama kepada Safya.
“Aku akan pulang! Tapi ke rumah kakakku di Semarang.” ucap Safya.
“Jika kamu benar ingin ke sana, akan aku antar sampai di depan rumah!” kata si Rama.
Safya merasa sangat sedih dengan ucapan suaminya itu.
Rama kembali melanjutkan ucapannya. “Tapi jika kamu ingin penjelasan yang benar dariku, maka ikut aku pulang ke rumah bertemu Ibu!” Ia berkata seperti itu karena menilai Safya masih ragu dalam membuat keputusan.
Safya termenung. Ia akhirnya pergi dengan membonceng sepeda motor si Rama. Tangan Safya menjadi segan untuk meraih jaket orang di depannya sekadar untuk mendapatkan tempat pegangan. Rama dan Safya sama-sama saling mendiamkan. Hanya suara mesin motor yang meramaikan suasana malam yang sedikit horor. Kebun yang lebat dengan pepohonan besar masih ditemukan di sana-sini mengiringi perjalanan kedua insan tersebut.
Namun tiba-tiba mesin macet. Tidak mungkin ada tukang servis motor yang lewat di malam yang gelap itu. Rama terus mencoba untuk melakukan slah pada sepeda motornya. Pada kesempatan itu, Safya memberanikan diri untuk menegur Rama terlebih dahulu.
“Apa maksud surat dari Shinta yang dikirim untukmu?” tanya Safya dengan suara yang datar.
Rama pun menghentikan upaya untuk menghidupkan mesin motor itu. Ia lalu memandang ke arah mata Safya dengan dalam.
“Surat itu tidak berarti apa-apa. Shinta hanya memberi kabar tentang dirinya. Dia bercerita telah menemukan surat di dalam botol yang aku buat sewaktu dulu. Sudah sangat lama dan kamu juga tahu tentang hal itu.” Begitu penjelasan dari Rama.
Safya pun tanpa ragu mengutarakan isi hatinya. “Aku, kan tidak pernah tahu apa yang telah kau tulis itu! Aku pikir kamu masih menyimpan perasaan untuk Shinta selama ini. Bahkan untuk menyebutkan namanya di depanku saja, kau sama sekali tidak canggung ataupun merasa bersalah.”
Tapi Rama membela diri. “Aku memang masih mengingatnya dan itu menjadi memori di otakku sampai kapanpun. Sampai aku melupakannya sendiri atau maut yang akan mengambilnya. Percayalah, aku sadar dengan kewajibanku sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga. Aku pun tidak pernah berpikir atau berusaha untuk bertemu lagi dengannya!”
“Tapi bagaimana kalau Shinta yang datang menemuimu? Kamu juga sudah tahu mengenai statusnya kini. Apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan merasa iba karena ia harus membesarkan anaknya seorang diri setelah ditinggal mati oleh suaminya?” gertak Safya.
“Cukup, Safya! Hentikan semua prasangka burukmu itu! Aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu. Kini sudah cukup masalah ini bagiku dan juga bagimu.” kata Rama kepada istrinya.
Safya masih belum puas dengan perdebatan ini. Ia tidak mendapatkan keyakinan dari jawaban yang Rama berikan.
“Lalu untuk apa kamu harus menyembunyikannya? Kenapa tidak bilang saja, sementara aku ini telah menjadi istri sahmu? Seharusnya kamu terbuka padaku.” kata si Istri.
“Lalu, inikah akar masalah dalam hubungan kita?” terka wanita itu.
“Maafkan aku! Tapi bisakah kita hentikan saja kesalahpahaman ini! Lebih baik kita cepat pulang, besok aku masih ada pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan. Masalah kamu keluar dari tempat kerja, akan aku tanyakan kepada temanku apakah ada lowongan yang cocok untukmu.” Nasihat si Rama sambil berusaha lagi menghidupkan mesin sepeda motornya.
Safya tak bisa lagi berkata apa-apa. Ia tidak mengerti dengan cara berpikir Rama sekarang. Apa yang telah menyumbat kedua telinganya sehingga tak mau memahami semua yang Safya utarakan. Setelah lampu motor kembali menyala sepasang suami istri itu kembali melanjutkan perjalanan hingga selamat sampai tujuan.