Kalau saja Rama ingin melupakannya, pastilah ia sudah menghilangkan semua memori dari masa lalu itu. Tapi apa yang membuat Rama harus merasa kasihan, sementara cinta pertamanya sejak awal memang sudah mencintai orang lain, menikah dengan laki-laki lain dan kini telah memiliki seorang anak laki-laki yang sehat pula. Tidakkah ia lebih wajib menaruh kasihan kepada istrinya sendiri yang sejak awal hanya mencintainya, menikah dengan laki-laki seperti dirinya namun belum juga memiliki seorang bayi sekalipun? Andai saja Safya tahu bagaimana akhir dari rumah tangga mereka nantinya, mungkin ia akan menghendaki perpisahan dengan suaminya itu lebih awal. Begitu juga dengan Rama yang tidak ingin menyakiti siapa pun. Mungkin seharusnya Rama tidak pernah datang lagi ke rumah kediaman wanita itu untuk menunaikan lamarannya, jika hanya akan mengalami derita hati yang disebabkan olehnya.
Siang itu Rama masih duduk di belakang meja kerja. Pikirannya melayang. Rama terhanyut dalam lamunan, meninggalkan pancaran cahaya dari nyala layar komputer di hadapan bola-bola mata yang tertunduk.
“Pak Rama, nanti setelah istirahat tolong kerjakan revisi kecil pada desain proyek atas nama PT JAYA!” pinta pak Ridwan lalu menyerahkan gulungan kertas besar di atas meja.
“Iya, baik!” jawab Rama singkat. Tampak raut wajah tanpa ekspresi dan tidak bersemangat.
Rekan kerja si Rama tersebut dengan santai mengambil tempat duduk pada kursi yang ada di depan mejanya.
“Kenapa, Ram? Ada kendala serius mengenai klien kita yang satu ini?” tanya Ridwan ingin tahu.
“Apa? Ah tidak! Bukan begitu. Aku baru terpikirkan tentang hal lain saja, Wan! Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.” jawab si Rama.
Tanpa direncana ia malah mengungkapkan masalah pribadinya. “Istriku tiba-tiba minta kuliah. Dia bilang ingin menempuh pendidikan tinggi untuk menjadi seorang guru. Aku hanya bingung, dia mau jadi guru dalam bidang apa? Tidak pernah aku melihatnya rajin maupun gemar membaca satu buah buku apa pun. Waktunya sudah habis untuk bekerja dengan ketrampilan tangan yang dimilikinya”
Ridwan hampir menyumbat telinganya karena tidak tahan dengan curhatan hati seorang pria. Ia berujar, “Dukung sajalah apa yang menjadi mimpi dari istrimu itu! Mungkin dia mau jadi guru seni atau olahraga, begitu? Sekadar yang penting bisa jadi guru PNS pun masih ada peluang. Lagi pula kalian juga belum ada kerepotan untuk mengasuh bayi, bukan?”
Entah mengapa jawaban dari Ridwan membuat Rama sedih. Tapi ia juga membenarkan apa yang sudah dikatakan oleh mitra kerjanya tersebut. Rama memang sudah memberi pernyataan akan mendukung keputusan Safya jika istrinya itu bersungguh-sungguh untuk membuktikan azam yang diucapkan oleh diri sendiri. Walau intuisi suaminya menilai ada sesuatu yang telah memengaruhi jalan pikiran dari Safya yang sederhana.
Bagaimana bila disandingkan saha dengan prasangka yang muncul di hati Safya, mungkin Rama dengan cepat menemukan jawabannya. Saat sampul surat itu ditemukan pada malam sebelum ia jatuh sakit, Safya sama sekali tak menaruh curiga. Hampir-hampir ia mengira bentukan kertas itu sebagai amplop kosong saking tipisnya. Tak sengaja benda tersebut jatuh ke lantai karena ikut terseret saat Safya mengambil tumpukan baju di atasnya. Sampulnya berbalik sisi. Sebuah tempelan prangko gambar burung Cendrawasih menghiasi sisi kanan atasnya hingga membuat Safya penasaran.
Bali, 13 Agustus 1982
The Young Postman,
Rama Satya Prawira
di Jogja
Assalamu’alaikum
Apa kabar Rama? Saya berharap Anda selalu dalam keadaan sehat. Begitu juga dengan saya di sini berada dalam keadaan yang baik tanpa kekurangan suatu apa pun.
Sudah sangat lama rasanya sejak perpisahan kita setelah melalui masa-masa yang sulit pada saat yang terdahulu. Masih jelas dalam ingatan saya, sosok pemuda yang mengendarai sepeda ontelnya. Ia datang ke rumah meski gelap malam telah menyelimuti siang harinya yang penuh dengan kerja keras. Kamu pasti sudah banyak berubah sekarang. Bisa jadi, saya pun sudah tidak bisa mengenali dirimu lagi. Perjalanan waktu yang telah banyak berlalu, memang terus memutarkan suratan takdir dari setiap manusia dan harus dijalani dengan ketaatan hati.
Apa Rama kini masih menjadi seorang tukang pos di sana? Kalau iya, mestinya surat ini tidak akan pernah dibaca sebab Rama akan mengira, pasti Shinta hanya ingin membalas perbuatannya dulu. Membohongi seseorang dengan surat-surat yang ditulisnya. Tapi saya yakin kamu masih mau untuk membaca isi surat ini dengan hati yang jujur. Tahukah kamu bahwa saya sudah menikah? Kami juga telah dikaruniai seorang putra, namanya Januari. Unik bukan? Patah hati itu tak lantas menghancurkan semua rasa cinta yang ada, Ram! Saya melihat bahwa cinta yang lebih dalam bisa terletak pada banyak hal yang disukai oleh manusia. Tapi bukti cinta yang paling dalam adalah saat kita bermunajat kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan segala kelemahan yang kita punya.
Ketenangan dan kesabaran menjadi obat manjur untuk saya bisa melalui cabaran hidup ini. Tapi sekarang kami tidak lagi tinggal di Jawa. Memiliki profesi sebagai guru di sekolah negeri, saya pun dipindahkan untuk mengajar murid-murid salah satu sekolah dasar yang berada di pulau Bali. Sangat menyenangkan! Saya berbaur dengan segala perbedaan budaya daerah di sini. Mungkin kamu juga ingin berwisata ke Bali suatu hari nanti? Oh ya! Saya juga mendengar kabar bahwa kamu akan segera menikah. Saya sangat marah karena kamu pasti tidak berkirim undangan ke tempat saya. Tapi sekali-kali lah, saya boleh berbohong pada si Rama itu. Hahaha... Selamat! Maaf saya tidak bisa hadir langsung untuk menyaksikan kamu naik ke atas pelaminan.
Waktu terus berjalan, Rama! Dia tidak mau berhenti untuk menunggu kita. Terima kasih atas buku catatan hijau yang kamu berikan. Saya begitu terpuruk saat itu, tapi kalimat-kalimat yang kamu tulis telah mengetuk nalar yang sehat. Pesan kuat darimu saya pegang sampai saat ini yakni pada akhir halaman yang mana teksnya berbunyi,
“Ingat dan Tulislah! Menulis layaknya seorang Kartini. Walau harus kembali di kala perjuangan masih terlalu dini.”
Dan saya pun menulis untuk berbagi cerita kehidupan dan memotivasi orang-orang yang terus berupaya melakukan perbaikan termasuk untuk diri saya sendiri.
Cukuplah dari apa yang bisa saya tuliskan lewat surat ini. Saya berharap ada takdir untuk kita berjumpa kembali, meski hanya satu kali di sisa umur yang saya miliki. Akan saya perkenalkan pula kamu kepada Janu. Dia pasti akan senang. Jangan lupa sampaikan juga salam dari saya untuk calon istrimu, Safya. Semoga kalian berbahagia!
Wassalamu’alaikum
Shinta
Isi surat Shinta tak lebih panjang dari jalur kereta api yang pernah mereka bertiga lewati. Ia hanya ingin menyapa Rama sebagai kenalan lamanya. Hal kecil ini seolah terdengar seperti bunyi pelecut yang dicambukkan tepat di depan mata hingga memerahkan wajah dan kedua telinganya. Safya cemburu. Sikap Rama yang menutupi curahan kata-kata itu telah memuntahkan pertahanan jiwa seorang istri selama tiga malam berturut-turut. Tidak lain karena Safya sangat mengenal, bagaimana cara Rama telah mencintai dan melindungi wanita yang dulu dicap berbeda kasta dibandingkan mereka.
“Kau masih memikirkannya?” Tiba-tiba Safya bertanya kepada suaminya karena tidak bisa tidur malam itu.
Safya pikir Rama sudah tidur. “Siapa?’ sahut si Rama.
“Mbak Shinta.” jelas Safya.
Sejenak Rama terdiam. “Masih!”
Deg! Rasanya jantung Safya dihantam kekuatan dari pukulan angin yang dahsyat. Sangat menohok dan membuat dingin sekujur tubuhnya. Tega sekali Rama mengatakan jawaban itu dengan begitu lugas. Meski terbata-bata, Safya mengajukan kembali sebuah pertanyaan.
“La, Lalu bagaimana dengan nasib pernikahan kita?”
“Aku akan mempertahankannya. Demi Ibu dan demi Almarhum ayahmu!” ujar Rama, lurus dan teguh.
Mendengar jawaban dari suaminya, seketika membuat air mata sang Istri meleleh. Ia ingin menyuarakan tangisan itu, tapi kedua bibirnya mengatup dengan sekuat-kuatnya. Hanya sesekali terdengar suara yang dihasilkan dari cara Safya mengambil napas dan menahan sesenggukan. Setelah sanggup menenangkan diri, Safya masih berusaha untuk bisa berbicara.
“Kalau begitu, bisakah hari Jumat besok kita berziarah ke makam Bapakku?” pinta Safya dengan selembut-lembut ucapan darinya.
“Baiklah! Besok aku akan minta izin absen ke kantor.” Begitu datar jawaban dari Rama.
“Tidurlah! Karena lusa kita harus pergi bersama-sama ke Semarang.” Nasihat Rama menyambung kalimat sebelumnya.
Kemudian mereka berdua pun terpejam, meski pasangan tersebut tertidur dengan saling beradu punggung.