Sebuah cerita datang dari daratan seberang. Para lelaki berjenjang usia tengah berkumpul di sebuah gubuk dari papan-papan kayu yang dipaku dengan kuat satu sama lain. Ramai suasana di dalamnya dengan setelan lagu pop yang terkenal. Banyak yang suka jajan dengan mengopi disela-sela makan gorengan hangat. Alunan yang didominasi dengan piano menjadi kegemaran untuk didengar. Bersama nikmatnya seduhan kopi alami, sangat cocok menjadi santapan di sore hari. Penat bekerja dengan modal tenaga kasar harus bersambung dengan udara dingin dari arah hutan dan rawa yang mengelilingi pemukiman para pemburu nasib di dalam negeri. Beberapa dari transmigran itu senang mengakrabkan diri, di bawah atap teduh sebuah bangunan warung kopi.
“...bahwa Segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau atau bagian pulau-pulau yang termasuk daratan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya adalah bagian-bagian yang wajar daripada wilayah daratan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan mutlak daripada Negara Republik Indonesia”
“Apa yang sedang kau baca itu, Jo!” tanya seseorang yang baru saja tiga kali selesai menyeruput kopi panas dari cangkirnya.
“Ini lho, Pak! Tulisan pada alinea pertama dari artikel berita koran edisi minggu lalu.” jawaban Paijo kepada pak Murad.
“Wah, kamu pakai tahu istilah alinea segala! Aku saja tahunya cuma Alinuddin, anaknya pak Eko RT sebelah.” seloroh Kasman si penjaja kopi.
“Lha ya iya! Aku kan juga pernah mengenyam bangku pendidikan!” tingkah si Paijo.
Ronald yang nama aslinya adalah Rasidi, merasa iseng untuk menanyai pria yang terlalu percaya diri itu. “Berapa lama mas Jo, kamu bisa menyelesaikannya?”
“Sebentar tak hitung dulu! Satu, Dua, Tiga, ..., Dua belas. Dua belas tahun!” ujarnya dengan semangat sambil menunjukkan sepuluh jari tangan meski masih kurang dua dari jumlah hitungan.
Si Ronald tergeleng-geleng kepalanya lalu bertepuk tangan. Ia sangat salut dengan senior tersebut yang bisa menjadi panutan bagi transmigran baru seperti dirinya. “Apa tangan mas Jo tidak merasa kaku dan sakit, bisa menganyam bangku selama itu?”
“Menganyam?” heran mas Jo. “Mengenyam, Rasidi! Mengenyam bangku pendidikan maksudnya itu sekolah. Bercanda nih, bercanda! Opo arep ngajak gelut? Sini biar aku anyam rambutmu yang gondrong itu!” kelakar Paijo.
Mas Jo kerap merasa kesal dengan penampilan dari rambut pemuda itu yang tidak diikat atau dipotong sekalian.
“Yach, dari pada dipikir susah mending dibuat ketawa aja!” ajak si Rasidi.
Untuk beberapa saat suasana di warung menjadi sunyi. Kembali para bapak dan a di sana mendengarkan lagu dari radio yang dimainkan.
? ...Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” Pak Murad ikut bernyanyi meski tempo lagunya jadi tidak sama.
“Mau ke mana, pak Murad?” tanya lelaki yang duduk bersebelahan dengan Paijo. Ia melihat beliau keluar dari kursi panjang itu sambil berjoget ringan.
“Saya mau pulang dulu! Sebentar lagi masuk waktu magrib. Kalian tidak mau balik juga?” jawab pak Murad disambung pertanyaan untuk orang-orang yang masih tinggal di warung kopi.
Iwan pun menjawab dengan kalimat, “Sekalian nanti saja kalau sudah azan, Pak! Silakan duluan saja!”.
Keadaan pun berubah menjadi obrolan serius yang berasal dari dua orang.
“Jo, kau jadi mau pulang pas mudik lebaran tahun depan?” tanya Iwan.
“Pengennya ya seperti itu, Wan! Tapi uang dari mana lagi? Tabungan masih ada, namun sayang kalau hanya bisa pulang ke Jawa tapi nanti tidak bisa balik lagi ke sini. Tidak bangga juga nanti aku, datang jauh-jauh dari tanah rantau tidak bisa menunjukkan oleh-oleh untuk keluarga dan tetangga di rumah!” terang Paijo.
Tiba-tiba si Penunggu warung ikut dalam pembicaraan keduanya.
“Kalian juallah tanah di sini buat modal pulang ke kampung! Kalau boleh dikasih murah, saya juga mau beli.” kata si Kasman.
“Mending saya jual ke pihak lain dari pada kamu kalau begitu! Sebenarnya aku juga pernah berpikir untuk itu, tapi...” alasan Paijo belum terungkap.
Sementara Iwan turut juga berpikir dengan serius. “Tapi selain masalah duit, menurutku apa tidak repot jika kalian harus pulang bersama seorang bayi dan tiga anak kembar selama perjalanan. Apa lagi kalau kamu mau cari armada transportasi yang lebih murah dengan menaiki kapal. Saya sih mending di sini dulu, kalau sudah sukses bisa pulang dan masih punya tinggalan.”
“Kalau menurut kamu bagaimana, Bud?” tanya Iwan mengajak orang yang terlihat dari muka jendela, berdiri di luar warung itu untuk bertukar pikiran. Iwan tahu, Budi pasti ikut mendengarkan pembicaraan mereka sebelumnya.
Ia pun melepaskan lintingan rokok yang menjejali mulutnya. Budi menceritakan keadaannya sendiri.
“Kalau saya tetap harus pulang, Mas! Baik punya atau tidak punya duit. Si Lastri, pacar aku yang pernah aku ceritakan itu, dia ingin cepat-cepat saya nikahi. Dua minggu lalu dia mengirimi surat dan bilang kalau orang tuanya terus mendesak. Kalau tidak dinikah-nikahi juga, katanya dia disuruh jadi TKI ke luar negeri.” tuturnya.
“Weh? Aku kira mau dijodohkan sama calon suami lain kok malah solusinya jadi begitu? Budi, Budi! Sudah jatahmu untuk mendapatkan si Lastri!” kata si Iwan.
Paijo pun menertawakannya. Sementara itu, istri dan keempat anak mas Paijo datang bersama-sama ke warung kopi tersebut.
Budi tidak terlalu mempermasalahkannya. Lalu ia berujar lagi. “Tapi menurut saya kalau mas Paijo jadi pulang pun tidak akan terlalu kerepotan juga, kan anaknya yang tiga sudah cukup besar. Gampanglah buat di atur!”
“Mas! Mas Paijo!” Cari seorang ibu muda dengan panik.
“Ada apa Helena? Kenapa ke sini sampai bawa anak-anak!” tanya Paijo kepada istrinya.
“Pokoknya lebaran besok kita harus pulang ke Jawa! Ayah, Mas! Ayah!” desak si Istri.
“Ayah? Bapak maksudmu? Ada apa dengan bapakku, Helena? Katakan! Katakan dengan jelas!” pinta sang Suami.
“Tenang! Mohon tenang mbak Helena! Tarik napas dulu!” saran Kasman, pengelola warung kopi.
Helena justru merasa gemas dan memukul-mukul lengan suaminya.
“Ada apa to, ini? Katakan kabar apa yang disampaikan oleh Bapakku!” Paijo menjadi geregetan.
“Hish! Bukan bapakmu, tapi ayahku! Dia bilang mau menikah lagi tahun depan sehabis lebaran. Ini sudah yang ketiga kalinya, saya tidak bisa membiarkan begitu saja! Ayah sudah berjanji tidak akan mencari tambahan istri lagi. Hiks Hiks Hiks!”
Helena menangis saking kesalnya. Sementara tiga anak kembar itu memandangnya dengan mata dan ekpresi penuh kepolosan. Bayinya sendiri sudah pindah tangan dan digendong oleh pak Murad.
“Pak Murad?” kaget si Paijo, Iwan, dan Budi. Tak ketinggalan sang penjaga warung kopinya.
“Katanya azan magrib sudah pulang semua! Ini sudah selesai jamaah di masjid, malah masih pada kumpul-kumpul di sini! Ayo bubar! Kasman, segera ditutup warungnya!” perintah pak Murad.
“Baik, Pak!” jawab keempat laki-laki dengan serentak.
Malam sepi dengan sinar lampu pijar di setiap depan rumah papan yang bersekat-sekat. Suara lolongan anjing hutan, jangkrik mengerik, kodok berdengkang, burung hantu menguak dan kera yang menggericau bersatu padu seolah menjadi Orkestra besar dari panggung margasatwa Bunyinya semarak dari awal menuju tengah malam hingga memasuki waktu dini hari.
Oh Mentari, cepat-cepatlah datang dan mulai bersinar dengan terang sehingga hilang semua ketakutan dan keraguan yang ada padanya malam ini. Paijo merogoh saku celana lalu membuka dompet yang telah lama menemani perjalanan kariernya. Ada satu foto lama yang masih tersimpan di dalam lipatan wadah itu. Kertas fotonya sudah memudar, tapi sosok orang dari hasil jepretannya masih sangat mas Jo kenal.
Rama, teman lama mas Paijo. Atau mungkin juga sudah dianggap seperti adik baginya. Sudah lama mereka tidak lagi saling berkirim surat maupun kartu pos. Mas Paijo sendiri, sibuk mengerjakan lahan garapan hibah dari pemerintah. Rama juga sibuk menekuni bidang ilmu dan pekerjaannya. Kabar terakhir yang mas Jo terima, bahwa Rama akan menikahi Safya pun sebenarnya sangat sulit untuk dipercayainya.
Jika mas Paijo kembali pulang ke Jogja, mungkin ia akan segera mencari tempat tinggal Rama.