Pesan cinta itu, telah membuat seseorang tersenyum-senyum sendiri dibuatnya. Sang wanita sudah tahu bahwa pujaan hatinya akan datang lagi pada malam purnama nanti.
Saat malam telah tiba, kedua keluarga besar itu akhirnya saling bertemu untuk yang pertama kali. Beberapa tamu undangan juga hadir pada acara pertunangan tersebut. Kemudian satu-satunya pria yang memakai tuksedo warna taupe, mengulurkan tangan kanan di hadapan sang Kekasih.
“Berdansalah denganku!” pinta sang Pria.
Tak terpikir untuk menolak, sang Wanita pun menaruh jari-jari menawan di atas telapak tangan dari pria yang gagah. Sepasang jantung hati ini ingin berdansa di atas lantai acara pesta. Saat lengan dan tangan kiri wanita telah diletakkan dengan lembut pada bahu kanan pasangannya, genggaman tangan mereka pun perlahan semakin erat. Musik mulai mengalun pelan hingga lama-lama menghanyutkan perasaan syahdu dari para pedansa. Tak terasa, kepala dengan hiasan rambut yang elok menyandarkan diri pada bahu prianya yang tinggi. Kemudian suara rendah dari pria itu membisik ke telinga wanitanya.
“Kamu menyukai pesta pertunangan kita hari ini?” tanya si Lelaki.
“Ehhem!” Jawaban lembut yang keluar sambil tetap menyandarkan kepalanya pada si Pria.
“Lalu apa yang kau minta untuk pesta pernikahan kita nanti?” tawar pasangannya.
“Aku? Aku ingin gaun yang cantik?” menjawab si Wanita dengan nada yang malas.
Tunangannya itu tersenyum simpul. “Hanya gaun yang kau inginkan untuk pernikahan kita?”
“Tidak! Berikan aku mobil yang bagus, rumah yang megah dan perhiasan yang banyak!” pinta gadis yang tengah berbahagia itu.
Laki-lakinya terdiam. “Aku akan memberikan segalanya untukmu. Tapi kau harus berjanji satu hal kepadaku! Kau bersedia?” pinta balik dari calon mempelai pria.
Kemudian calon mempelai wanita itu terbangun dari rasa malas yang memberatkan kepalanya. Ia menatap dalam ke wajah si Pangeran satu malam. Tiba-tiba bunyi denting menggaung di seluruh ruangan. Para pedansa telah meninggalkan pasangannya masing-masing. Hanya kedua insan pertunangan itu yang masih berdiri di sana dan tetap saling berhadapan.
Tunangan dari wanita itu berkata, “Kamu ingat! Jika kamu menikah denganku, maka aku akan mati.”
“Tidak! Itu tidak mungkin terjadi!” bantahnya.
Sang wanita tertatih untuk berjalan mundur sedikit menjauh dari kekasihnya.
“Lalu mengapa kamu tiba-tiba menjadi ragu sekarang? Kau takut?” sangka pria dengan tinggi 185 cm itu.
“Takut? Aku hanya...” Gadis yang anggun dengan gaun malamnya itu tidak tahu harus beralasan apa lagi.
“Kalau begitu ikutlah denganku! Kita akan menikah malam ini juga!” Ketegasan yang datang dari pemikiran seorang pria.
Dalam hati si Wanita berkata, bagaimana bisa? Mereka bahkan belum mengambil setelan pakaian, khusus untuk pengucapan janji pernikahan yang sudah disiapkan oleh keluarganya.
“Kenapa kamu diam?” Pria itu terus saja bertanya.
Masih tak ada tanggapan. Gerak matanya telah mengisyaratkan keraguan dari si Wanita. Pria itu lalu mendekatinya dan memeluknya dengan hangat. Ia melepaskan tusukan di kepala sehingga menggeraikan rambut panjang yang indah itu. Wanitanya tengah menangis. Basahlah jas yang dikenakan calon suami itu oleh air mata. Lelaki tersebut lalu mengelus-elus kepala calon istrinya dengan kasih sayang.
“Jangan menangis. Masih ada jalan terang untukmu meski aku harus mati terlebih dahulu.” Pesan dari laki-laki yang amat dicintainya itu.
Dokter telah memvonis penyakit kronis telah menggerogoti tubuhnya dan kemungkinan pria itu hanya bisa bertahan selama enam bulan. Ia pun ingin mewujudkan rencana menikah dalam rentang waktu tersebut. Di sisa-sisa umurnya yang singkat, hanyalah untuk membahagiakan pasangan yang begitu ia kasihi.
Mengingat kesedihan yang mendalam akan datang menimpa, kini wanita itu meratap di hadapan sang Pria untuk pertama kali.
“Bisakah kamu untuk tidak pergi untuk selamanya? Aku tidak sanggup bila harus hidup tanpamu.”
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir si Calon suami. Wanita itu seharusnya sudah tahu tidak ada keabadian di dunia yang fana ini.
Ia pun bertanya kembali, “Bolehkah aku ikut denganmu saja? Aku tidak akan menginginkan hal lain darimu. Tidak mobil, rumah, perhiasan atau gaun secantik apa pun. Aku hanya ingin tetap di sampingmu dan bersama-sama selamanya.”
“Tidak boleh! Kau harus tetap hidup dengan tegar untuk membesarkan anak-anak kita! Kamu adalah wanita yang kuat. Kau tahu itu, kan? Jangan membuat aku menyesali semua yang sudah kita lewati bersama sampai hari ini. Kamu mengerti?” tutur pria yang menjadi belahan jiwa.
Wanita itu terus menangis dalam pelukan sang Kekasih. Mereka pun akhirnya menikah pada malam itu juga meski hanya disaksikan oleh keluarga dan tamu pesta yang terbatas jumlahnya. Pasangan pengantin baru itu hidup berbahagia sepanjang duapuluh satu hari. Seorang suami telah meninggalkan istrinya, lebih cepat dari prediksi dokter. Dengan tenang, pergi dalam pelukan di tidur malamnya yang teramat panjang. Keduanya terpejam dengan menyiratkan senyuman keikhlasan.
Hingga sang Istri bangun di pagi hari dan mendapati kematian yang sudah tiba pada waktunya. Wanita itu kemudian berbisik pada telinga yang dikasihi itu bahwa ia akan menjaga calon janin yang dikandungnya. Ia cukup kecewa karena belum sempat mengatakan berita gembira tersebut sampai malaikat maut mencabut nyawa dari raga suaminya.
“Bagus sekali filmnya! Saya sampai terharu melihat perjuangan cinta mereka yang harus terpisahkan. Saya pun kagum dengan karakter pria yang tetap menjalankan rencana hidupnya dengan optimis meski tahu kesempatan hidupnya tidak lama lagi! ujar Anita, pasangan dari kliennya Rama.
Tapi sayang semua itu hanya menjadi film yang ditontonnya sendiri.
“Seharusnya Didi yang menemani saya nonton, tapi dia malah tidak bisa dan meminta pak Rama yang memanfaatkan tiketnya! Padahal saya sudah pilih film romantis untuknya!” kesal si Anita.
“Tidak apa-apa! Ini juga karena kebetulan pekerjaan saya hanya sampai setengah hari.” Alasan yang Rama sampaikan.
“Tetapi, Anda bosan dengan menyaksikan film tadi ya? Mungkin seharusnya saya beli tiket film laga saja seperti kegemaran Didi, jika saya tahu pada akhirnya hanya akan pergi dengan pak Rama. Apa istri pak Rama tidak akan marah jika tahu tentang hal ini?” Anita merasa tidak enak hati.
“Tidak! Dia tidak akan marah jika saya menjelaskannya dengan benar. MUNGKIN?!” ungkap si Rama
Kliennya itu heran dengan sikap arsitek kepercayaan mereka yang begitu dingin. Anita lalu tersenyum cerah, ia seketika mendapatkan sebuah ide yang menarik.
“Pak Rama tolong tunggu sebentar, ya? Jangan pulang dulu!” Tanpa berniat untuk menunggu jawaban, wanita itu lekas pergi ke suatu tempat. Ia sedikit berlari dengan sepatu pantofel hitam yang dipakainya.
Rama sama sekali tak menaruh curiga. Pikirannya lurus-lurus saja dan menunggu di tempat itu dengan sabar. Tak lama kemudian, Anita datang dari arah yang sama saat ia pergi tadi. Langkahnya masih tidak cukup santai setelah kembali dari membeli satu tangkai bunga mawar merah yang dibungkus plastik. Tersenyum ia melihat Rama yang duduk manis di halte bus depan gedung bioskop.
“Terimalah!” ucapnya.
“Apa ini?” tanya si Rama.
Anita pun tertawa geli mendengar pertanyaannya. Wanita itu menjelaskan maksudnya yaitu supaya pak Rama memberikan bunga ini kepada istrinya. Anita ingin Rama bisa sedikit bersikap romantis kepada Safya, nama yang hanya sekali ia dengar dari pembicaraan tentang keluarga sang Arsitek.
“Saya memang belum pernah bertemu ataupun berkenalan dengan istri Anda. Tapi jika saya punya suami seperti pak Rama sepertinya sebagai wanita sangat wajar untuk mengharapkan hal seperti ini bisa terjadi meski hanya sekali. Buat saja dia bahagia karena masih merasa bahwa suaminya sangat mencintainya! Bukankah ini sesuatu yang mudah untuk dilakukan?” tutur Anita yang sebentar lagi akan bertunangan dengan Didi.
Rama menerima bunga itu dengan getir. Apalah selama ini ia dinilai sebagai pria yang tidak romantis di mata para wanita? Rama sebenarnya bisa melakukan itu dengan caranya sendiri. Sama seperti bagaimana ia menuliskan rangkaian kata dan kalimat indah untuk wanita yang dikaguminya pada waktu dahulu. Meski tanpa simbol atau barang-barang yang dibeli namun tetap memberikan makna dari cinta yang dipendamnya.
Saran dari Anita menjadi cambuk bagi Rama. Bukan cambuk yang melecutkan semangat tapi cambuk yang hanya menyakiti logika berpikirnya. Safya memang berhak mendapatkan bunga ini sedangkan Rama tidak pernah memikirkan hal kecil seperti itu. Harganya mungkin tak seberapa sedangkan gaji yang Rama dapatkan selalu penuh. Namun demikian, ia tidak pernah sanggup untuk membeli barang setangkai. Rama kini bertanya-tanya dalam benaknya tentang arti cinta, namun tak ada jawaban yang menurutnya benar.
Saat Anita hendak pergi setelah mengucapkan salam perpisahan, tanpa diduga Rama mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Bagaimana Anda mendefinisikan arti cinta?” ujar Rama.
“Cinta?” Anita mulai berpikir dan menjawab berdasar kisah cintanya sendiri.
“Saya sulit untuk mendefinisikannya. Bagi saya cinta itu berawal dari rasa. Tiba-tiba ia datang dengan rasa malu yang besar. Jika cinta itu tidak mau melihat kita, Anda ingin memeluknya untuk memberikan perlindungan atau mengharapkan ketenangan. Siang malam hanya untuk memikirkan dirinya. Bisa bersamanya saja sudah membuat Anda senang. Sepertinya saya berlebihan, ya? Tapi ya, begitulah! Setiap orang memiliki arti cintanya masing-masing.” terang Anita.
“Dan ingat pak Rama! Cinta yang sejati itu bukan saat kita menjatuhkan hati tetapi bagaimana membangun dan bertahan dengan perasaan satu sama lain!” Teriak wanita itu meninggalkan Rama yang berdiri termangu. Anita menghilang bersama mobil sedan milik sang Pacar yang menjemputnya.
Rama masih tidak mengerti. Sebegitu bodohkah ia mengenai cinta? Ia belum pernah benar-benar memiliki hubungan yang mendalam dengan seorang wanita sebelumnya. Kisah cintanya hanya menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Mungkin bunga ini akan menjadi hadiah termahal setelah mahar dan mas kawin yang diberikan oleh Rama. Ia pun pulang kembali ke kantor terlebih dahulu untuk mengambil sepeda motor. Rama sengaja meninggalkannya agar mereka tidak berboncengan berdua dan berangkat dengan memesan taksi saja.
Kini Rama sudah di depan teras rumah. Tapak sepatunya masih menapak kuat di atas tanah yang ditutup lapisan bersemen. Ia menengok bunga yang masih belum layu di tangannya. Apa iya, Safya akan menyukai pemberian ini, meski ia tahu bahwa bukan Rama yang membelikannya?
Rama pun masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam. Safya pun menjawab salam dari orang yang baru saja pulang tersebut. Orang itu langsung menemukannya tengah belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi. Rama baru sekali ini menangkap keseriusan yang ditunjukkan oleh istrinya. Kemudian ia berjalan agak ragu untuk mendekati Safya yang duduk di kursi ruang tamu.
“Ini untukmu!” ucap Rama setelah mengeluarkan setangkai bunga mawar merah dari belakang punggungnya. Ia tidak bisa memberikan dengan cara yang lebih baik dari itu.
“Bunga ini benar untukku? tanya Safya setengah tak percaya.
Sementara Rama hanya bisa mengangguk dan tertunduk karena malu.
“Saya mau makan dulu!” kata Rama.
“Baiklah! Makanannya sudah saya siapkan di meja makan.” jawab Safya sambil menahan senyum karena senang.
“Kamu tidak makan?” tanya Rama perhatian.
“Iya, sebentar lagi! Saya membereskan ini dulu.” ucap istri tersebut berharap suaminya itu masih mau menunggunya untuk makan malam bersama.
Rama masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Nyaris saja ia ingin mengatakan bahwa bunga tersebut sengaja dibeli oleh Anita, calon tunangan dari klien yang selalu memberikan kepercayaan terhadap kinerja Rama.