Dari sisi lain cerita lawas tentang sebuah romantika cinta segitiga, terjadi hiruk pikuk di area pasar tradisional pada setiap akhir bulan. Bukan karena berjubelnya banyak pembeli yang ingin masuk ke pasar, atau sibuknya para pedagang yang kelarisan barang dagangan. Melainkan kerusuhan yang disebabkan oleh kesewenang-wenangan dari Bupati wilayah setempat.
Setiap pukul lima pagi, pasar itu sudah dipenuhi oleh para pedagang yang menggelarkan barang-barang jualannya. Para pedagang di sana ada dua tipe, yaitu ada yang berjualan di trotoar area sekeliling pasar dan ada yang berjualan di dalam pasar. Bermacam-macam sayuran, bumbu dapur, aneka daging mentah, buah-buahan, jajanan, pakaian, perkakas dapur dan lain sebagainya diperjualbelikan. Semuanya tumpah ruah. Beberapa pembeli juga ada yang berbelanja pagi-pagi sekali di pasar itu. Begitulah kebiasaan rutin terjadi di pasar yang buka setiap hari itu, namun tidak pernah sepi dari pembeli.
Pukul 04.30 asap putih sudah mengepul dari hasil pembakaran kayu bakar di dapur rumah paman Suparjo. Paman Suparjo bersama istrinya mempunyai usaha kecil-kecilan. Mereka membuat bakpia untuk dijual ke pasar. Pada awalnya usaha ini hanya dikerjakan oleh istrinya saja. Saat itu dikarenakan paman Supar masih bekerja pada sebuah usaha mebel bersama pak Ali di kabupaten Jepara. Namun setelah usaha mebelnya mengalami pengurangan produksi karena penjualan furniture tersendat, ia memutuskan untuk kembali ke Jogja. Setiap dini hari paman Supar dan istrinya membuat adonan bulat kecil berisikan kacang hijau dengan terlebih dahulu memanaskan tungku untuk panggangannya.
Pukul lima lewat lima belas menit, paman Supar berangkat dengan sepedanya membawa produk makanannya ke pasar. Sementara istrinya tinggal, menyelesaikan pekerjaan di rumah. Paman Suparjo tetap mengayuh di jalanan menurun seolah hawa dingin pagi itu terkalahkan oleh suhu bakpia yang masih panas. Sesampainya di pasar, ia menata dagangannya di satu lapak di antara lapak pedagang yang lain. Ditaruhnya setiap besek kecil berisi sepuluh bakpia dengan rapi. Satu per satu pembeli datang membeli bakpia hingga tersisa setengahnya.
Sekitar jam sembilan pagi, terlihat mobil dinas kecamatan yang parkir di depan unit kantor pengelolaan pasar tradisional tersebut. Seperti biasa setiap akhir bulan unit kantor yang berada di depan lokasi pasar didatangi petugas dari kecamatan untuk melakukan evaluasi kerja. Namun yang diterima para pedagang hanyalah kebijakan-kebijakan baru yang selalu berubah di awal bulan. Hal tersebut diputuskan tanpa melibatkan pedagang sebagai pelaku ekonomi. Selama kurang lebih setengah jam melaksanakan inspeksi, petugas kecamatan tersebut keluar kantor dan membawa pergi mobil dinasnya. Setelah itu tinggal pegawai di unit kantor pengelolaan pasar yang bertindak.
Salah seorang pegawai unit pengelola pasar bergerak membagikan selebaran kepada para pedagang yang semuanya tercatat dalam daftar. Orang-orang yang berjualan di sana sudah hafal dengan situasi tersebut. Namun kali ini ada poin yang berbeda dari aturan sebelumnya. Setelah membaca selebaran dengan saksama, salah seorang pedagang protes kepada pegawai yang berkeliling itu.
“Ini tidak bisa seperti ini! Uang sewa lapak dan kios mau dinaikkan lagi?”.
“Uang setoran untuk dana operasional pasar juga Pak!” Sambung pedagang yang lain.
“Ada keterangan juga pemerintah kabupaten akan mewajibkan semua pedagang memiliki surat izin usaha dagang. Pedagang yang menjual hasil produksinya sendiri harus mendaftarkan Nomor Surat Izin Tempat Usaha dan Izin Usaha Produksi, Tanda Daftar Rumah Produksi dan Tanda Daftar Produk melalui Unit Kantor Pengelolaan Pasar yang ditempati. Bagi yang memiliki wajib mengajukan permintaan penerbitan dengan syarat-syarat dan membayar biaya sebagai berikut…” Baca salah seorang dari mereka.
Membaca berbagai rincian biaya, salah satu pedagang berbicara dengan keras.
“Wah! Ini namanya sudah pemerasan. Sudah belasan tahun kita jualan di sini tidak pernah dibuat ribet begini!”.
“Iya! Mereka tahu kita ini pedagang kecil. Keuntungan yang kita dapat sudah sedikit. Kalau disuruh bayar terus bisa-bisa pasar ini malah tutup karena para pedagang tidak balik modal!” Sahut pedagang di sampingnya.
“Apa kita mau kembali seperti zaman penjajahan dulu dimana rakyat kecil terus ditindas?” Tanya seorang pedagang.
“Tidak!” Jawab semua pedagang di area itu termasuk paman Suparjo.
“Ini kebijakan yang menindas!!” Provokasi pedagang tersebut.
“Ya. Kita harus menolaknya. Tolak dan Batalkan!” Seruan yang lainnya.
“Tolak! Tolak!” Sorak para pedagang mengiringi jalannya petugas unit pengelola pasar yang terdiam kemudian memilih untuk kembali ke bangunan kantornya. Sementara lain, para pembeli yang tidak merasa terganggu tetap membeli barang belanjaannya dan tetap dilayani dengan baik. Selanjutnya para pedagang berencana memobilisasi massa untuk protes di depan Unit Pengelolaan Pasar menjelang sore sebelum kantor tutup.
Sekembalinya petugas unit tadi, ia langsung menghadap pimpinan di kantor tersebut.
“Tugas sudah saya laksanakan Pak!” Lapornya.
“Bagus! Kalau begitu kembalilah ke mejamu!” Perintahnya pimpinan.
“Tapi Pak, saya harus melaporkan sesuatu. Para pedagang sudah mulai keras mengkritik kebijakan ini Pak. Saya khawatir kalau mereka akan melakukan perlawanan.” Kata si petugas.
“Tenang saja! Kamu pikir mereka bisa apa? Apa iya mereka mau kehilangan mata pencahariannya di sini? Mereka tinggal menurut saja dan semuanya beres kan!” Jawab pimpinannya tidak peduli.
“Baiklah kalau menurut Bapak begitu.” Kata petugas bawahan itu kemudian kembali ke meja kerjanya.
Siang hari pasar itu nampak jumlah pembeli yang mulai berkurang. Paman Supar beristirahat sembari tetap menjaga dagangannya.
Lelaki yang berjualan di sampingnya bertanya, “ Laris Mas?”
“Alhamdulillah. Sampeyan sendiri bagaimana jualan es Dawetnya? Laris juga to?” Paman Supar balik bertanya.
“Ya..beginilah Mas. Ramainya ya kalau sudah jam 11 siang ke atas.” Jawabnya.
“Yang penting awake dhewe alias “kita” ini sebagai pedagang kecil masih bisa dapat nafkah dari sini. Iya kan?” Kata paman Supar untuk melapangkan hati.
“Iya Mas.” Ucap lelaki itu sependapat dengan apa yang dikatakan paman Supar.
Sekitar pukul setengah dua siang, sang Bupati datang dengan mobil dinasnya untuk melakukan kunjungan kerja di Unit Pengelolaan Pasar Tradisional tersebut. Salah satu pedagang yang mengenali sosok bupati itu memberitahu kawan-kawannya.
“Hei! Bupati itu datang ke sini. Dia baru saja masuk ke kantor pengelola pasar!” Infonya kepada kawan yang lain hingga tersebar ke seluruh pedagang pasar.
Para pelaku ekonomi itu pun berkumpul dan sepakat bergerak menuju depan kantor pengelola meski hari masih cukup terik. Semuanya kompak menutup lapak dan menyimpan dengan baik barang dagangan yang masih belum terjual.
Si petugas di unit pengelola yang duduk di ruang depan, melihat segerombolan besar manusia bergerak mendatangi kantornya. Bergegas petugas itu keluar ruangan dan berdiri di depan pintu untuk menghalangi orang masuk.
“Bupati, keluar kamu! Kami tahu Anda ada di dalam!” Teriak seorang pedagang yang memimpin pasukan besar itu.
“Sedang apa kalian di sini? Sana kembalilah berjualan!” Kata si petugas dengan penuh rasa takut jika diketahui sang Atasan.
“Kami mau bertemu Bupati itu! Kami mau menyampaikan keberatan kami selaku pedagang!” Jawab satu di antara pedagang di barisan depan.
“Bapak bupati tidak ada di sini!. Sebaiknya kalian bubar saja!” Pinta petugas bawahan di depan mereka.
“Jangan bohong! Mobilnya saja masih di sini! Kami tidak akan pergi sebelum Bupati itu berhadapan dengan kami!” Seru pemimpin kelompok.
“Ya!” Sorak gabungan pedagang pasar bergemuruh.
Terusik dengan keramaian yang terjadi di luar, pimpinan kantor itu keluar untuk memeriksa dan diikuti pula oleh pak Bupati beserta pegawai kabupaten yang menyertainya.
“Ada apa pada kumpul-kumpul di sini?” Tanya pak Bupati dengan suara lantang.
Ucapan keras yang sempat mengejutkan pasukan para pedagang tersebut tidak serta-merta menyurutkan niat awal mereka.
“Kami mau protes!” Gertak pemimpin rombongan.
“Kami menolak aturan baru yang dibuat ini. Laba hasil usaha kami tidak seberapa, yang penting kami masih bisa berjualan setiap harinya. Anda suruh kami bayar ini-itu? Tidak sedikit pula jumlahnya. Anda mau menghancurkan usaha kami?” sambil menunjukkan selebaran tadi.
“Tidak ada yang mau menghancurkan usaha Bapak dan Ibu sekalian!. Ini adalah demi kemajuan masyarakat di Kabupaten kita sendiri.” Penjelasan dari seorang pegawai pemerintah yang berdiri di samping pak Bupati itu dengan tenang.
“Tidak perlu banyak alasan! Pasti ini hanya kedok untuk menutupi ulah penguasa yang mengambil uang-uang kami. Pejabat-pejabat yang suka memperkaya diri mereka sendiri itu. Begitu bukan?” Tuduh salah seorang di antara pedagang.
“Ha Ha Ha Ha Ha” Tawa sang Bupati. “Ya..ya! Kalian bisa bilang begitu. Tetapi mana? Mana bukti yang kalian punya? Ha?”
“Kami memang tidak punya buktinya sekarang. Tetapi sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya dia jatuh juga! Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga baunya!” Peringatan dari pedagang yang lapaknya bersebelahan dengan lapak paman Suparjo.
“Betul itu!” Sahut orang-orang menyikapi ungkapan pepatah itu.
“Tolak dan batalkan kebijakan itu! Tolak! Tolak!”.
Mendengar ucapan itu pak Bupati hanya senyum menyeringai.
“Dengarkan kalian semuanya! Saya tegaskan, kebijakan ini adalah keputusan mutlak yang telah dikeluarkan oleh institusi pemerintah kabupaten. Jadi barang siapa yang ingin melawan, silakan Anda semua berhenti untuk berjualan di tempat ini. Kalian pikir bisa mengancam saya? Kalau saya mau, saya bisa ganti kalian dengan pedagang dari luar yang lebih banyak. Bahkan bisa saja saya sekalian ubah kawasan ini menjadi pusat perbelanjaan modern seperti di kota-kota besar sana!” Ancam si Bupati kepada para pedagang tradisional itu dengan arogan.
Bupati langsung masuk kembali ke dalam kantor Unit Pengelolaan Pasar.
Mendengarkan ancaman tersebut, para pedagang tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sudah gila mungkin Bupati itu. Beraninya mengancam orang kecil.” Gerutu salah satu ibu-ibu pedagang.
Akhirnya mereka pun membubarkan diri tanpa mendapatkan hasil apa-apa. Semua pedagang kembali ke tempatnya masing-masing. Ada yang kembali membuka lapak dagangannya. Ada beberapa orang juga yang langsung berkemas karena sudah waktunya untuk pulang. Termasuk paman Supar yang memutuskan untuk pulang meski bakpianya belum habis terjual.