Simbok Darsih membuatkan kopi untuk pak Subekti yang sedang beristirahat di pos keamanan rumah dinas bupati. Minum segelas kopi adalah kebiasaannya tanpa pandang waktu. Satu gelas kopi hitam di siang hari, segelas kopi hitam lagi di malam hari dan satu gelas kopi manis di pagi hari.
Siang itu kondisi terlihat sepi. Pak Bupati masih dinas di kantor, bu Ajeng pergi arisan dengan perkumpulan para istri pejabat dinas kabupaten, sementara mbak Shinta baru berangkat kursus bahasa inggris seusai makan siang di rumah. Safya sendiri sibuk membereskan pekerjaan di dapur. Mbok Darsih menaruh segelas kopi hitam dan sepiring pisang goreng di meja pak Subekti.
“Bekti, ini kopinya!” Kata mbok Darsih kepada pak Subekti yang setengah tahun lebih muda.
Pak Subekti yang tengah berbaring di sebuah kursi panjang terbangun dan menurunkan topi yang menutupi wajahnya. Dengan mata setengah tertidur ia menyambut.
“Terima kasih Mbak Dar! Wah, kopinya datang juga! Pas untuk obat kantuk!.” Kemudian langsung saja ia menyeruput segelas kopi itu.
“Ah! Panasnya pas!” Komentarnya lalu mencicipi pisang goreng yang dibawakan untuknya.
Melihat pak Bekti yang sedang menikmati makan pisang gorengnya, simbok Darsih membuka pembicaraan.
“Kemarin pak Bupati pulang jam berapa? Sepertinya sampai larut malam, betul?”.
“Setelah membukakan pintu depan, saya lihat jam ya…sekitar pukul 1 pagi, Mbak.” Jawab Subekti.
“Kok tidak seperti biasanya ya? Tadi pagi bu Ajeng bilang kalau semalam pak Bupati bertemu klien untuk urusan bisnis. Tapi setahu saya pak Bupati itu kan tidak punya usaha apa-apa selain menjadi Bupati.” Tanya mbok Darsih keheranan.
“Ya mungkin baru mau bikin dengan kliennya itu.” Tebak penjaga rumah itu.
“Tapi apa iya? Baru mau mulai bisnis kok sudah bawa uang sekoper sama emas batangan ke rumah!” Tukas Bude dari Safya itu.
“Loh! Kok mbak Darsih bisa tahu?” Tanya pak Subekti kepada simbok Darsih sambil terburu-buru menelan gorengan di mulutnya.
“Iya tahu lah! Orang bu Ajeng sendiri yang cerita ke saya.” Jelasnya.
“Oh begitu!” Respon singkat Subekti.
“Saya takutnya apa yang dituduhkan masyarakat sekitar sini itu benar. Kalau pak Bupati itu diam-diam suka mengambil uang rakyat untuk keperluan pribadi. Lha kita ini kan kerja di kediaman beliau. Digaji dengan uang beliau. Makan juga dijamin sama pak Bupati. Kalau tuduhan itu benar berarti kita juga menikmati uang haram!” Gelisah si mbok Darsih.
“Begini saja mbak Darsih! Kalau pak Bupati itu benar ibaratnya maling dana keuangan daerah yang mana itu adalah uang dari masyarakat, pastilah saat beliau sudah ditangkap polisi! Dipenjara! Hartanya disita! Tapi kenyataannya? Pak Bupati masih bersikap santai-santai saja, tidak ada masalah.” Ujar pak Subekti.
“Lagi pula, misalkan harta beliau ada yang didapatkan secara tidak benar tetapi gajinya sebagai Bupati kan tetap halal! Bersih! Iya to? Kita juga hanya sebagai orang suruhan ya… menurut saja apa perintah majikan asalkan baik. Selesai! Dan gaji itu halal untuk kita.” Tambahnya.
“Weh! Bagaimana to kamu ini? Aku yang memberitahu kok malah aku yang dinasihati! Sudah! Saya mau kembali ke dapur saja.” Kata mbok Darsih kesal lalu pergi.
Pak Subekti hanya cengengesan sambil menggigit pisang gorengnya.
----
Sementara lain, saat itu jam istirahat siang di kantor dinas kabupaten. Sang bupati yang hendak keluar ruangan untuk mencari makan dihadang oleh asisten pribadinya.
“Pak, ada tamu yang mencari pak Bupati.” Ucapnya.
“Saya mau makan ini! Suruh nanti setelah jam istirahat saja!” Instruksi pak Bupati.
“Maaf pak! Orangnya minta bertemu sekarang.” Informasi dari asistennya itu.
"Memangnya siapa dia?” Tanya Bupati lalu dikagetkan oleh kemunculan dua orang pria dengan pakaian formal.
“Ohohoho! Ternyata Bapak-bapak ini! Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?” Kata Bupati setengah menyalahkan asistennya. “Silakan Pak! Mari ke ruangan saya!” Ajaknya dengan senyum yang dibuat-buat.
“Katanya tadi mau makan siang dulu?” Tanya si Asisten.
“Hush! Sudah kamu sana! Ini urusan saya!” Suruh pak Bupati itu.
Pak Bupati bersama kedua tamu masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Silakan duduk bapak-bapak sekalian!” Kata Bupati. “Kalau boleh tahu, ada keperluan apa sampai datang ke kantor?”.
Salah satu tamu itu menjelaskan maksud kedatangannya.
“Begini pak Bupati. Kami ingin meminta kepastian izin pengelolaan di lahan kosong milik pemerintah di kawasan yang pernah kita bicarakan sebelumnya.”
“Oh! Begini masalahnya Pak. Sesuai surat keputusan dari pusat, setiap pengusaha yang ingin mengelola lahan milik pemerintah harus melalui prosedur lelang secara terbuka. Jadi ya Bapak-bapak ini harus menang tender dahulu, kemudian kami rapatkan bersama anggota Dewan Rakyat Daerah untuk disetujui. Barulah surat izinnya kami keluarkan.” Jelas pak Bupati.
“Sebenarnya para investor itu sudah mendesak kami beberapa kali terakhir ini. Mungkin pak Bupati bisa membantu?” Tanya tamu itu meminta saran.
“Ya bagaimana ya Pak?” Jawab Bupati dengan tawa yang ragu-ragu.
Kedua tamu itu memandang ke arah satu sama lain lalu memberikan suatu isyarat.
“Kita percepat saja Pak!” Kata tamu yang satunya sambil meletakkan satu amplop tebal di hadapan pak Bupati.
Melihat hal itu, sang Bupati langsung mengerti maksud dan tujuan dari kedua tamu tersebut.
“Wah! Apa ini Pak? Jadi tidak enak hati saya!” Kata pak Bupati merasa tidak nyaman.
“Begini! Ini untuk pak Bupati sebagai balas jasa saja. Untuk selanjutnya, kami serahkan semua kepada Anda bagaimana kepentingan kami bisa diselesaikan secepatnya!” Tawar tamu tesebut.
“Bagaimana ya? Saya ini kan hanya pejabat kabupaten jadi sedikit susah untuk…” Ucapannya terhenti.
“Ya sudah kalau memang tidak bisa!” Tegas tamu yang mengajukan imbalan untuk Bupati.
“Eh eh. Sabar dulu Pak! Saya hanya bercanda saja! Ha ha ha!” Kata pak Bupati sambil mendekatkan kepadanya amplop tebal yang hampir ditarik oleh si Pemberi. Kemudian langsung saja ia simpan di laci mejanya.
“Sekarang Bapak-bapak ini tenang saja! Akan saya usahakan secepatnya.” Janji sang Bupati.
Dua orang tamu akhirnya keluar meninggalkan ruangan Bupati dan pergi dengan perasaan lega dari gedung utama kantor pemerintah kabupaten.
----
Pada saat makan malam, pak Bupati bersama istri dan putri bungsunya menikmati hidangan mie ayam dari penjual keliling yang melewati jalan depan rumah. Karena sedang merasa senang, pak Bupati pindah duduk ke sofa miliknya di sudut ruang makan keluarga itu. Ia makan sambil menikmati alunan lagu yang diputar dari radio di sampingnya.
Saat itu Safya sedang menyimpan barang yang tak terpakai di gudang belakang dekat ruang dapur. Setelah menaruh barang-barang itu, muncul seekor tikus dari dalam kardus penyimpanan. Tikus tersebut berlari kesana-kemari, berputar-putar di dalam ruangan. Sontak saja Safya mengambil sapu lidi di dekatnya dan mengejar hewan pengerat tersebut.
“Hoi! Kamu mau mati ya? Teriak Safya dari dalam.
“Sini! Dasar tikus nakal!” Geram Safya sambil terus mengejar dan memukul-mukul lantai dengan sapu.
Mbok Darsih yang berada di dapur mendengarnya. Penasaran dengan apa yang dilakukan Safya, ia membuka pintu gudang dalam keadaan tertutup itu.
“Jangan dibuka! Aaaaaaaaaa!” Teriak Safya langsung berlari mengikuti tikus yang keluar lewat pintu yang terbuka.
“Aaaaaaaaaa!” Teriakan Safya menggaung di sepanjang ruangan. Tikus itu lari terbirit-b***t seperti dikejar pemangsa. Hingga akhirnya masuk ke ruang makan keluarga. Bu Ajeng dan mbak Shinta seketika menjadi histeris dan menaikkan kedua kakinya di atas kursi. Sedangkan Safya yang hanya berfokus pada si tikus tidak memperhatikan para penghuni rumah yang sedang makan malam itu. Dihentak-hentakkan sapu lidi yang dipegangnya itu ke lantai untuk mengusirnya.
“Mau kemana kau! Jangan lari!” Amarahnya memuncak.
Safya mengejar tikus yang berlari menuju ke arah sofa yang diduduki pak Bupati. Awalnya tikus itu mencoba memanjat tembok tapi gagal lalu berputar-putar di sekeliling sofa. Safya pun memukul bagian bawah sofa itu dengan sapu. Pak Bupati yang merasa terganggu hanya duduk jongkok di atas sofanya dan tetap melanjutkan makan. Tikus itu malah menyelinap naik di atas permukaan kursi berjalan-jalan lalu berdiri di puncaknya dengan dua kaki belakang. Safya memiliki firasat hewan kecil itu mau melompat ke atas meja di depan sofa.
“Terima ini! Dasar Pengerat…! Hyaaaaak!” Safya melepaskan pukulan dengan sapu lidi ke arah tikus yang sudah terbang melayang itu.
Pukulannya tepat sasaran. Namun, karena melewati batas yang tidak diperhitungkan, sapu itu mengenai tulang hasta si Bapak bupati. Mangkuk yang masih berisi setengah porsi mie ayam itu pun terhempas bersama dengan terjatuhnya si tikus. Wajah sang Bupati merah padam nampak marah. Kemudian ia mengangkat wajah dan tertegun. Safya menghilang! Pak Bupati tidak menyadari Safya yang langsung lari cepat ke belakang, kabur membawa sapu lidi dan menjepit ekor tikus dengan dua jari tangannya.
“Maafkan saya…!” Teriakan Safya.
Bu Ajeng dan mbak Shinta yang menyaksikan itu, langsung turun dari atas kursi dan duduk membelakangi arah pak Bupati. Mereka pelan-pelan kembali menghabiskan makanan dari mangkuk masing-masing. Sementara Bupati itu hanya menelan ludah meratapi nasib mie ayamnya yang berserakan di lantai.