"1812
Terjadi penyerbuan ribuan pasukan penjajah ke benteng Kasultanan
Sultan yang menentang kebijakan kolonial berjuang mengambil alih kuasa atas kerajaan
Perang besar pun berkobar
Ledakan meriam dan suara tembakan begitu tajam di pendengaran
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak
Benteng pertahanan yang kokoh harus runtuh oleh p*********n dan pengkhianatan
Sultan yang menyerah akhirnya ditangkap dan diasingkan"
“Tidak pulang mas Jo?” Tanya Rama sambil merapikan meja dan berkemas untuk pulang.
Orang yang ditanya tidak menjawab. Mas Jo sejak istirahat siang tadi sibuk membaca sebuah buku usang yang dibelinya dari toko barang lama.
“Ram! Coba kau lihat ini!” Pintanya.
Rama mengengok ke arah tempat duduk mas Jo. Kemudian mas Jo membacakan isi dari buku yang dibaca.
“Di bawah pohon Kelor ia meregang nyawa, terkulai di atas gundukan tanah berlumurkan darah.
Seorang pembantu setia menjaga amanah, dari tuan yang diburu dengan peluru penjajah
Selamatkanlah hartamu dari penjarahan kaum tak berkemanusiaan, hingga kau temui “merdeka” adalah satu-satunya jawaban .”
“Maksudnya?” Rama tidak paham.
“Makanya sini lihat dulu!” Kata mas Jo.
Rama terpaksa mendekat lalu Paijo menunjukkan satu lembar halaman buku yang dicetak bergambar.
“Gambar apa ini?” Tanya Rama.
“Tidak salah lagi! Ini pasti peta letak harta karun itu!” Tegas mas Jo.
“Harta karun?” Rama memastikan kata-kata Paijo.
“Iya! Yang aku baca tadi pasti mengarah pada peta ini. Letak dimana pembantu itu menyimpan harta majikannya.” Mas Jo memberitahu dengan semangat.
“Tapi maksud dari hartamu tadi itu…?” Penjelasan Rama belum selesai.
“Bagaimana kalau besok sore kita cari sama-sama!” Ajak mas Jo.
“Memangnya tempat harta itu dikubur benar-benar ada?” Tanya Rama.
Mas Jo menjawab, “Pasti ada Ram! Di buku ini tertulis nama wilayahnya juga. Ini di sekitar Kawasan Pecinan itu kan? Nah, kita tinggal temukan pohon Kelor dan mengali di sekitarnya!.
“Tapi masa iya pohon itu masih ada sampai sekarang mas Jo? Rama kembali melontarkan pertanyaan. Namun si Paijo tidak memedulikannya.
“Pasti majikannya kaya raya ini! Wuahahaha!” Paijo senang sendiri. “Ram, nanti kalau dapat kita bagi adil ya? Aku 65%, kamu 15% dan 20% untuk sedekah.” Usulnya.
“Loh! Kok aku hanya dapat bagian 15% Mas? Kita kan mencarinya bersama-sama. Seharusnya mas Jo 40% aku juga 40%. Begitu kalau mau adil!” Sanggahan Rama terhadap Paijo.
“Tapi kan yang memberitahu ke kamu, saya. Yang beli bukunya juga saya? Jadi itu sudah adil kan?” Alasan mas Jo.
“Terserahlah!” Ujar Rama lalu pergi untuk pulang ke rumah paman yang sudah ditempatinya selama bekerja sebagai pengantar surat.
“Eh! Jangan lupa rencana kita besok Ram!” Teriak mas Jo mengingatkan Rama yang sudah tidak terlihat lagi.
Lain cerita dengan simbok Darsih di rumah dinas Bupati. Kecurigaannya terhadap sumber uang dan emas yang dibawa pak Bupati larut malam itu semakin memuncak. Mbok Darsih takut untuk menanyakan kepada bu Ajeng karena merasa tidak berhak. Tapi hal tersebut terus mengganggu pikirannya. Akhirnya simbok Darsih mencari tahu dari mbak Shinta.
Sore itu, mbak Shinta baru pulang dari tempat kursusnya. Simbok Darsih baru akan membuat minuman tapi Shinta sudah duduk di kursi dapur dengan sebotol air putih di tangannya.
“Hari ini panas sekali di luar Mbok.” Beritahu Shinta.
“Iya. Di dalam rumah juga terasa hawa panasnya. Mbak Shinta mau saya buatkan es buah?” Tanya mbok Darsih.
“Tidak perlu Mbok! Ini juga sudah cukup.” Jawab Shinta lalu meminum air yang dibelinya dari warung.
“Safya kemana?” Tanya Shinta.
“Oh! Safya sedang menyiram tanaman di halaman mbak Shinta.” Ucap simbok.
“O oh.” Gumam Shinta sambil menyenderkan punggungnya di kursi.
Mbok Darsih teringat persoalan sebelumnya.
“Mbak Shinta, saya boleh bertanya?” Ucapnya dengan hati-hati.
“Boleh. Ada apa Mbok?” Jawab Shinta sedikit heran.
“Begini. Apa mbak Shinta tahu soal malam itu pak Bupati membawa pulang satu buah koper berisi uang dan emas batangan?” Tanya simbok.
“Koper? Saya tidak pernah tahu soal itu. Simbok, kata siapa?” Shinta penasaran.
“Ibunya mbak Shinta sendiri yang cerita ke saya.” Ujar mbok Darsih.
Shinta lalu berkata, “Em…Coba nanti saya tanyakan ke ibu.”
“Eh! Tidak usah Mbak! Nanti malah terjadi keributan! Lebih baik sekarang mbak Shinta mandi dulu, sebentar lagi saya siapkan makan malam.” Saran simbok kepada Shinta.
“Keributan apa yang simbok maksud?” Shinta bertanya dalam hati. Kemudian ia pergi dari ruang dapur.
Saat malam tiba, Shinta baru ingat bahwa besok ada acara bakti sosial yang diadakan oleh yayasan. Dia berniat menyumbangkan beberapa bahan makanan pokok untuk acara tersebut. Shinta mengajak Safya untuk menemaninya ke lumbung yang dibangun ayahnya di dekat bukit yang tak terlalu jauh dari rumah. Sebelum berangkat Shinta menemui ibunya yang berada di kamar.
“Bapak kemana Bu? Kok Shinta cari tidak ada.” Tanyanya.
“Ada urusan di luar katanya.” Jawab si Ibu.
“Oh. Kalau ibu tahu, dimana Bapak menyimpan kunci gudang persediaan?” Tanya Shinta lagi.
“Sebentar! Ibu carikan. Biasanya bapakmu menaruh di laci lemari kamar.” Kata si Ibu.
“Kok tidak ada ya? Apa dibawa sama bapak?” Pikirnya. “Ini ada! Tapi hanya kunci pintu belakang.” Sembari menunjukkan kunci itu ke Shinta.
“Ya tidak apa-apa Bu. Shinta pinjam dulu.” Pintanya.
Bu Ajeng menyerahkan kunci ke Shinta.
“Untuk apa kamu mau ke sana? Ini sudah malam, Nduk” Panggilan ibunya kepada Shinta.
“Shinta mau mengambil beberapa bahan makanan untuk acara di yayasan besok pagi, Bu. Saya pergi dengan Safya.” Jelasnya.
“Ya sudah. Hati-hati!” Pesan bu Ajeng.
Safya dan Shinta naik sepeda keranjang, berboncengan menuju ke lumbung di dekat bukit.
Sementara lain dalam perjalanan mereka, Rama dan mas Jo telah sampai di depan sebuah batu prasasti. Petunjuk berikutnya di peta lokasi harta karun yang mereka cari.
“Seharusnya pohon Kelor itu hanya beberapa meter dari prasasti ini.” Perkataan si mas Jo.
“Dilihat dulu petanya, Mas!” Saran dari Rama.
Mas Jo mengeluarkan buku lama itu lalu membuka lembar yang sudah diberi tanda.
“Posisinya sih benar di sini. Ada gambar bukit di area sebelah sini…” Baca mas Jo menafsirkan gambar.
“Itu ada bukit di belakang sana mas Jo!” Tunjuk si Rama.
“Mana?” Mas Jo lalu mengarahkan cahaya dari senternya. “Eh! Iya, benar Ram! Ayo kita ke sana!”
Mas Jo bergegas menaiki sepeda dan memboncengi Rama. Mereka berhenti di depan sebuah gudang. Rama turun dari boncengan dan memperhatikan lingkungan sekitar.
“Kita parkir sepedanya di belakang sana saja ya Ram?” Usul Paijo. Tanpa mengharap jawaban, ia langsung menuju sisi samping bangunan.
“Sedang apa kamu Ram? Aku sudah menunggu di belakang tadi! Kamu malah masih bengong di sini.” Celoteh mas Jo kembali ke tempat Rama.
“Kenapa ada bangunan di tempat sesepi ini Mas?” Tanya Rama yang keheranan.
“Sepertinya ini lumbung milik seseorang.” Duga mas Paijo.
“Dari mana mas Jo tahu?” Ucap si Rama.
“Ini ada tulisan. “Lumbung ini adalah milik Bupati. Hasil panen tidak untuk diperjualbelikan!” Baca Paijo.
“Tapi bukannya tidak aman kalau mendirikan gudang penyimpanan di tempat seperti ini?” Kata Rama yang banyak tanya.
“Sudahlah! Itu bukan hal penting. Kamu fokus mencari harta karun itu saja! Ayo cepat!” Perintah mas Jo.
Mas Paijo dan Rama melewati samping tembok bangunan itu dengan penerangan seadanya. Tiba-tiba langkah Rama terhenti.
“Mas Jo! Jangan-jangan pohon kelornya sudah di tebang dan sekarang tanah ini menjadi lahan pembangunan lumbung! Lokasi ini kan, hanya beberapa meter dari batu sesuai petunjuk tadi? Lagi pula itu peristiwa sudah lama. Kondisinya sudah banyak berubah!” Rama mengutarakan pemikirannya.
“Ah, masa iya? Kalau pohon itu sudah menjadi bangunan ini, terus gundukan tanahnya sudah rata tertutupi ubin lantai, lalu bagaimana kita bisa mendeteksi secara akurat posisi dari harta yang dipendam itu Ram? Ram, Rama?” Mas Jo kehilangan posisi Rama karena sibuk berbicara sendiri.
“Mas Jo! Tolong saya Mas!” Panggil Rama dari lubang persegi tak berjendela pada sisi tembok.
“Sejak kapan kamu tersangkut di sana?” Bingung si Paijo.
“Penjelasannya nanti! Cepat dorong kakiku ke atas!” Pinta Rama sambil menahan beban tubuhnya.
Setelah dibantu mas Jo, Rama berhasil masuk ke dalam lumbung.
“Rama? Kau bisa mendengarku?” Panggil mas Jo.
“Bisa!” Suara rama terdengar lirih. “Mas Jo masuk saja!”
“Masuk dari mana? Terus bagaimana aku bisa masuk ke dalam?” Tanya mas Jo dari balik tembok.
“Dari lubang di atas! Naik dan lompatlah!” Instruksi Rama dari dalam.
“Bagaimana bisa? Dia saja minta bantuanku tadi! Masa bodoh lah! Uhhh!” Gerutu mas Jo langsung melompat untuk mencapai lubang itu dengan kekuatan tangannya. Postur tubuh yang lebih tinggi dari Rama membuat usahanya lebih mudah. Mas Jo dengan cepat masuk ke dalam lumbung menyusul Rama yang lebih dulu.
“Rama? Di mana kamu?” Panggil mas Jo dengan suara lirih. Suasana di dalam ruangan gelap.
“Huh! Senternya malah mati lagi!” Mas Jo terus mengoceh sambil berusaha menyalakan lampu senter. Diketuk-ketukkan senter itu dengan telapak tangannya.
“Ayo hidup! Nanti kalau dapat harta karunnya aku janji belikan baterai baru!” Celetuknya. Seketika lampu senternya menyala.
“Nah begitu dong! Kalau begini kan mas Jo jadi seRAAAM!“ Teriak mas Jo, terkejut saat cahaya dari senternya menyorot wajah Rama yang tiba-tiba muncul di depan mata.
“Hush! Jangan keras-keras! Nanti kita ketahuan.” Rama memperingatkan.
Mereka berdua masuk ke ruangan kedua dan melihat-lihat isi gudang penyimpanan itu dari setiap sisi.
“Ini memang lumbung mas Jo!” Kata Rama meyakinkan dengan santai.
“Kan aku sudah bilang tadi!” Jawab mas Jo sedikit kesal.
Ceklikkk...Ngeeekkkkk.....
“Ada yang membuka pintu belakang, mas Jo!” Bisik Rama.
Rama dan mas Jo otomatis mematikan lampu senter. Kemudian terdengar suara pintu yang dibuka dari arah belakang.
“Ada yang datang! Bagaimana ini?” Tanya mas Jo yang mulai gugup.
Mereka tidak bisa pergi maupun sembunyi di dalam ruangan itu. Suara langkah kaki mulai terdengar jelas. Semakin lama semakin keras dan semakin dekat! Suara itu berhenti di muka pintu. Mas Jo beserta Rama tidak bisa berkutik karena langkah kaki itu telah memasuki ruangan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” Shinta dan Safya kaget bukan main, sekejap mata di kegelapan tersorot dua wajah datar dalam satu bias cahaya. Bersamaan dengan itu, jari Shinta menekan sakelar lampu di samping gawang pintu. Teriakan duo sopran itu menyatu di bawah nyala lampu pijar yang tiba-tiba menerangi seluruh isi ruang. Tak lama setelahnya, Shinta baru menyadari bahwa orang yang ia lihat adalah Rama. Shinta pun terdiam.
“Mbak Shinta?” Sapa Rama.
“Aaaaaaaaa” Suara seseorang terus mengganggu pendengaran Shinta.
“Safya...Sudah selesai teriaknya!” Bisik Shinta ke arah telinga Safya.
Safya dalam sekejap mengatupkan kedua bibirnya dan mengangguk kepada Shinta.
Shinta merasa heran sekaligus curiga“Untuk apa kalian masuk ke sini? Dan kamu Rama…”
“Mbak Shinta jangan salah paham dulu! Kami tidak sengaja masuk ke sini. Eh, maksudnya tidak ada niat jahat masuk ke gudang milik pak Bupati!” Ucap Rama terbata-bata.
“Lalu kenapa kalian bisa ada di tempat ini? Bagaimana kalian masuk?” Tanya si Safya.
“Kami sedang mencari harta karun. Akan tetapi entah kenapa Rama yang pemalu ini bisa membawa kami sampai ke ruangan ini. Ckckck!” Jawab mas Jo dengan sikap dingin.
Shinta lalu meminta Safya untuk mengambil beberapa bahan makanan pokok yang sudah dikemas lalu menaruhnya di keranjang sepeda. Melihat Safya kerepotan, mas Jo berinisiatif memberikan bantuan.
Sementara Safya dan mas Jo pergi keluar, Shinta memeriksa kondisi ruangan. Shinta terkejut menemukan sebuah brankas yang diletakkan di dalam rak tempat menyimpan umbi-umbian. Ia mencoba membukanya tetapi tidak bisa. Tak berselang kemudian, terdengar suara kendaraan bermotor yang berhenti di depan lumbung milik Bupati tersebut. Rama dengan sigap mematikan sakelar lampu dan menggandeng tangan Shinta agar cepat-cepat pergi keluar.
Mereka berdua keluar dari gudang dan Shinta segera kembali mengunci pintunya. Di balik pintu belakang, Safya dan mas Jo sudah berdiri menanti di samping sepeda. Rama menanyakan siapa yang baru saja mendatangi lumbung itu. Mas Jo dan Safya tidak mengenali siapa orangnya. Keempat anak muda itu lalu mencoba berjalan ke arah depan sambil bersembunyi di balik semak-semak.
Dalam jarak aman Mas Jo, Safya, Rama dan juga Shinta mengamati gerak-gerik dua orang laki-laki yang mondar-mandir di sebelah mobil pengangkut barang. Sekitar lima menit sesudahnya, datang lagi seseorang dengan mengendarai sepeda motor. Shinta mengenali betul dari warna dan tipe motor. Sama persis seperti milik bapaknya. Shinta yang pada awalnya jongkok di urutan paling belakang berjalan dengan merangkak ke posisi paling depan. Rama yang mengetahui hal tersebut mengikutinya lalu mengambil alih posisi kedua di belakang Shinta. Safya juga ingin merangkak maju ke depan untuk menempati posisi ketiga. Namun langkah kakinya terhalangi oleh mas Jo yang berada di depannya. Safya merangkak ke kanan, mas Jo juga ke kanan. Lalu saat Safya melangkah ke kiri, mas Jo juga melakukan hal yang sama terus menerus hingga mereka berdua menjadi lelah sendiri.
Tiba-tiba mas Jo menahan sakit karena Safya menjambak rambut hingga kepalanya ditarik maju mundur. “Sssst!” Rama membuat isyarat untuk diam karena kekacauan kecil yang Mas Jo dan Safya buat. Sementara itu, Shinta begitu serius mengamati. Tidak ia duga bahwa benar-benar ayahnya yang berada di antara dua orang lelaki tersebut. Ketiga orang itu berbincang sebentar lalu ayah Shinta mengajak mereka masuk ke dalam gudang. Tidak terlalu lama, dua orang tadi terlihat keluar masuk mengangkut beberapa karung beras dari dalam lumbung. Seseorang lalu memberikan segepok uang kertas kepada pak Bupati tersebut. Dua orang itu pun kemudian pergi bersama mobil pengangkut barang tadi dan diikuti pula oleh ayahnya Shinta.
Keempat anak muda itu juga turut keluar dari persembunyiannya.
“Bapak bilang lumbung ini menyimpan persediaan bahan pangan untuk kebutuhan keluarga saja. Tapi kenapa malah Bapak jual sendiri?” Ujar Shinta yang berbicara sendiri.
“Padahal akhir-akhir ini nilai beras jauh lebih berharga dari uang karena harganya yang tinggi.” Sambung Safya.
“Harga gabah dari petani padahal murah lho! Tetapi kenapa harga jual beras berkali lipat lebih mahal di pasar?” Mas Jo ikut-ikutan melengkapi pembicaraan.
Mengalihkan pikiran dari pertanyaan yang tidak diketahui jawabannya itu Shinta berkata, “Rama, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan di tempat ini? Lalu siapa orang yang dari tadi menggaruk tanah di sekitar pohon itu?”
Rama menjawab, “Heh? Dia namanya mas Jo. Teman saya di “SERAT SURYA”. Mas Jo ini anaknya pak Narendra, Mbak! Sebenarnya niat kami ke sini…”
“Untuk menemukan emas!” Kata mas Jo menyela jawaban Rama. “Sebenarnya kami belum tahu juga, apa harta yang terpendam itu!”
“Kami hanya mengikuti jalur peta dari buku ini!” Tunjuk Rama kepada Shinta dan Safya.
Shinta memperhatikan peta lokasi harta karun itu. “Menurut gambar sih, memang di sekitar sini!”
“Tuh! Benarkan? Bagaimana kalau kalian ikut bersama kami untuk mencarinya?” Ajak mas Jo dengan antusias kepada Shinta dan Safya. Alis matanya naik turun menunggu jawaban dari mereka.
“Tenang! Nanti saya bagi untuk kalian masing-masing lima persen dari jatah yang didapat Rama. Oke?” Bujuknya.
“Apa? Kamu sehat mas Jo?” Kata si Rama lalu menempelkan punggung tangannya di kening si Paijo.
“Oh…yang tidak waras itu bukan jidatnya, tapi isi kepalanya! Ckckck, sabar ya mas Jo!” Ejek si Rama.