Sherren tergesa-gesa datang ke rumah sakit. Usai mendengar telefon yang dia Terima dari Arkan, Sherren panik. Ia sudah cukup kehilangan dua anaknya, tapi kali ini tidak. Sherren tak akan merelakan kepergian Kila.
"Arkan, kenapa kamu tidak menjaga Sasa dengan baik? Tante percaya penuh ke kamu. Tante kira kamu bisa melaksanakan tanggung jawab dengan baik. Tapi mengapa sekarang..." Sherren memijit kening. Dia terduduk di sebelah Arkan. Arkan terus menundukkan kepala. Dia pantas dimarahi.
"Sekarang gimana keadaan Sasa? Dia baik-baik saja? Bagaimana lukanya bisa bocor? Dokter sudah menangani Sasa, kan?" Sherren menatap Arkan lekat-lekat dari samping, berharap mendapat jawaban yang dia harapkan.
"Ar, kenapa diam saja? Jawab pertanyaan Tante." parau Sherren. "Di mana dia? Saya akan bert