Konyol.
Itulah kata dari Kila yang kiranya cocok untuk Lusi dan juga Fardo. Mereka seolah mempermainkan dirinya. Kila tidak habis pikir. Tadinya... dia akan memberitahu pada Arkan kalau Fardo lah yang menusuknya, namun...
"Hey! Lo kenapa ngelamun?" tanya Arkan.
"Eng--enggak. Apa Lusi datang sendiri buat donorin darahnya?'
Arkan menggeleng. "dia sama Naufal. Tante Sherren lega waktu itu. Gue ikut seneng dengernya."
Pasti Lusi donorin darahnya ke gue gara-gara paksaan Naufal, batin Kila.
Arkan menengok jam tangannya. Tidak terasa, sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dia tidak bisa membiarkan gadis itu tetap terjaga. "Sa, lebih baik lo tidur. Udah malam."
"Sebentar lagi aja,"
"Enggak terima negosiasi. Tidur." ujar Arkan dengan wajah datarnya.
"Dari tadi lo ngatur gue terus