Arkan menggedikkan bahu. Kila tidak ambil pusing. Dia bisa menanyakannya langsung pada Bunda-nya nanti.
Suara pintu dibuka membuat perhatian keduanya teralihkan. Wajah Kila mendadak berubah jadi datar melihat Naufal datang dengan membawa sebuket bunga.
"Buat kamu," Naufal menaruh bunga itu di meja, samping brankar Kila. "kamu udah baikan?"
"Iya." dia mengalihkan pandangannya pada Arkan. "Ar, kamar mandi di mana? Anterin gue ke sana."
Kedua Arkan mengeliling, mengamati setiap sudut dan dia tidak menemukan kursi roda. "Lo nggak boleh jalan dulu, Kil. Gue gendong mau?" tawar Arkan membuat Naufal di sampingnya agak berdiri.
"Enggak perlu. Gue bisa jalan sendiri. Lagian lebay amat kalo sampai digendong." jelas Kila.
"Itu kata Bunda Sheren, Sa. Dia nyaranin kamu buat enggak jalan d